Merencanakan (to plan) adalah segala sesuatu yang dipersiapkan dan dijadwalkan untuk dilakukan. Merencanakan – saya pikir - bukan suatu hal yg asing di antara kita, bukan? Anak kecil suka merencanakan menghabiskan hari minggunya di depan tv dan mainan2nya. Remaja suka merencanakan shopping, kumpul2 ama temen, ke mall, main billiard atau soccer, nonton (di bioskop tentunya J ), etc. Orang dewasa merencanakan pekerjaan mereka, bisnis, rekreasi, masa depan anak2, rumah tangga, etc. So, Ada apa dengan “merencanakan”? Apakah itu cukup alkitabiah (biblical= sesuai dengan ajaran Alkitab) ? Apalagi perkataan, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”, tidak terlalu asing lagi di telinga kita, bukan? Lalu Bagaimana merencanakan sesuatu hal? Apakah boleh atau tidak? gimana juga tips berencana yg baik ?
Apa Kata Mazmur dan Amsal ?
Mazmur 33 : 10 berbunyi, “TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa;”
Wah, Ada apa ini? TUHAN menggagalkan rencana dan meniadakan rancangan bangsa-bangsa? Berarti apa gunanya kita merencanakan dan merancangkan sesuatu hal?
Eits! Tunggu dulu. Tetapi Amsal 24: 6 berbunyi, “Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.”
Apa ini? Kok jadi kontradiksi ya? Bingung ah…. ^^
Mari kita lihat konteks Mazmur 33 : 10. Mazmur 33: 8-11, 18-20 berbunyi :
8Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia! 9 Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.10 TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; 11 tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.
18 Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, 19 untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.20 Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!
Di sana terutama pada Mazmur 33:8-9, terlihat dengan jelas bahwa mazmur ini hendak menunjukkan “superioritas” TUHAN atas bangsa-bangsa (penduduk dunia), menunjukkan TUHAN berkuasa sepenuhnya atas manusia dan segala rancangannya, dan berdaulat seutuhnya atas rencana maupun keberhasilan rancangan manusia. Akan tetapi ayat ke 10 ini ditujukan kepada orang fasik, bangsa-bangsa yang tidak mengenal TUHAN, dan orang yang tidak takut akan Dia (ayat 18).
Mazmur 64:3, 7 berbunyi, “3 Sembunyikanlah aku terhadap persepakatan orang jahat, terhadap kerusuhan orang-orang yang melakukan kejahatan, 7 Mereka merancang kecurangan-kecurangan: ‘Kami sudah siap, rancangan sudah rampung.’ Alangkah dalamnya batin dan hati orang!”
Kata “mereka” di sini merujuk kepada orang fasik atau orang jahat. Di sini terlihat jelas bahwa “rancangan mereka” adakah kecurangan. Selain itu Amsal 12:5 berbunyi, “Rancangan orang benar adalah adil, tujuan orang fasik memperdaya.” Maka tidak heran bahwa TUHAN menggagalkan rancangan orang jahat yang penuh kecurangan dan tipu daya. TUHAN sepenuhnya berhak untuk meniadakan keberhasilan bagi rancangan orang fasik. Jadi jelas Mazmur 33: 10 bukanlah diperuntukkan bagi kita yang mengasihi Dia, Raja atas Semesta Alam.
Mau jaminan? Mazmur 1: 1-3 adalah jaminanNya yang kokoh!
1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Lalu kita perhatikan Amsal 24: 6 yang berbunyi, “Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.” Berperang butuh rencana dan siasat. Membangun rumah butuh rancangan dan hikmat. Jadi, apakah kita perlu membuat rencana atau rancangan dalam hidup kita? Tentu saja perlu. Kita perlu berencana, tetapi harus tahu batas-batasnya. Hidup kita sudah direncanakan Yang Maha Tinggi dengan begitu indah. Tetapi tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan ini kita perlu membuat rencana, tapi tanpa melawan rencana Yang Maha Kuasa tentunya. Anda ingin hidup berkemenangan? Mulailah berencana untuk menjadi Pelaku Firman Allah yg setia!
Indikator Damai Sejahtera
Yesaya 48 : 22 berbunyi, "Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!" firman TUHAN.” Yesaya 59:8 berbunyi, “Mereka tidak mengenal jalan damai, dan dalam jejak mereka tidak ada keadilan; mereka mengambil jalan-jalan yang bengkok, dan setiap orang yang berjalan di situ tidaklah mengenal damai.”
Damai sejahtera adalah salah satu cara yang TUHAN pakai untuk mengarahkan dan menegur kita. Ada kalanya kita berencana, tetapi itu tidak diinginkan TUHAN. Maka selalulah peka dengan tingkat damai sejahtera Anda, bisa jadi itu adalah cara TUHAN berbicara kepada Anda, “Anakku, rencanamu tidak sempurna, hal itu akan mendatangkan berbagai-bagai pencobaan atas kamu. Apakah kamu sudah siap untuk itu?” Damai sejahtera yang sejati dan sesungguh-sungguhnya tidak ada bagi orang fasik. Maka perhatikanlah tipe damai sejahtera apa yang Anda alami, sejatikah atau tidak, dari TUHANkah atau tidak?
Sejalan Dengan Kehendak Tuhan
Yeremia 18:12 berbunyi, “Tetapi mereka berkata: Tidak ada gunanya! Sebab kami hendak berkelakuan mengikuti rencana kami sendiri dan masing-masing hendak bertindak mengikuti kedegilan hatinya yang jahat."
Tadi kita telah berbicara mengenai “batas-batas”. Lalu apa sebenarnya batas-batas atau pengarah bagi kita dalam berencana? Pertama, kita harus menaklukan diri (taat) kepada Kehendak dan Rancangan TUHAN yang sempurna dan terbaik bagi kita. Yeremia 29:11 berbunyi, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Dengan demikian, kita taat kepada rencana TUHAN, ketika kita dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang sangat sulit rasanya bagi kita, bukan kepada kehendak kita ataupun rencana kita sendiri. Kita boleh berencana dan merancangkan berbagai hal yang baik, tetapi hanya dengan Kehendak dan Izin dari Tuhan saja-lah, segala rencana kita boleh menjadi berhasil. Seperti tertulis di Amsal 19:21, “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.”
Kedua, kita harus memohon hikmat dalam berencana. Hikmat terlalu sering dipandang rendah oleh sebagian besar dari kita. Apakah Anda termasuk di antaranya? :) Tuhan saja menciptakan dunia dengan hikmat, siapakah kita sehingga tidak mau berencana dengan hikmat? Amsal 15:22 mengingatkan kita bahwa, “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.” Bagaimana kita menimbang-nimbang sesuatu hal, memikirkan baik buruknya, merenungkan strategi dalam menyelesaikan masalah, atau taktik membuat rancangan yang tepat. Bukankah dengan hikmat bijaksana? Sadarilah Anda membutuhkan hikmat! Dan hikmat itu bermula dari… “takut akan TUHAN” (Ams 1:7). Perhatikanlah : Tanpa hikmat rancangan Anda pasti sia-sia belaka. Berlakulah seperti orang bijaksana yang pekerjaannya sangat kokoh bukan seperti orang bodoh yg menghina hikmat dan didikan ditambah pula dengan hasil kerjanya yang berakhir menyedihkan (Matius 7:24-27).
Ketiga, kita harus memohon kekuatan dalam mewujudnyatakan (merealisasikan) rancangan kita. Yesaya 40: 31 berbunyi, “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Kita tidak selalu cukup kuat dan sanggup untuk melaksanakan rencana kita maupun rencana TUHAN. Karena kita seyogyanya harus sadar akan keterbatasan dan kelemahan kita. Karena itu kita harus senantiasa mengandalkan kekuatan dari TUHAN yang menjadikan langit dan bumi (Mzm 121:2). Kita dapat berseru seperti rasul Paulus, “ semuanya dapat kulakukan di dalam Yesus Tuhan, Sumber Kekuatanku” (Filipi 4:13). Kita harus percaya: Tanpa TUHAN aku bukan apa-apa. Sebab itu, marilah kita berdoa memohon kekuatan kepada El Shaddai, Bapa yang Maha Kuasa.
Keempat, kita harus memohon agar TUHAN, Sumber damai sejahtera sejati, senantiasa mengarahkan, menolong, dan menuntun kita agar kita semakin hari semakin setia dan semakin tekun dalam TUHAN. Tekun bersinonim dengan rajin, giat, dan ulet. Kita diperingatkan di Amsal 21:5 yang berbunyi., “Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.” Jadi, kita harus tekun, tapi juga tidak boleh tergesa-gesa. Sekali lagi hikmat dibutuhkan agar tidak ceroboh maupun pontang panting dalam berencana ataupun bekerja. Kelimpahan itu indah, karena kelimpahan itu diperuntukkan bagi sesama kita, sehingga kita menjadi “saluran berkat” yang indah karena TUHAN.
Permasalahan tiba saat kita hendak merealisasikan rencana kita. Kemalasan. Satu kata sederhana, tetapi mendatangkan tujuh malapetaka. Jangan mengganggap remeh kemalasan. Sama seperti kanker yang merupakan “silent disease” (penyakit yang diam-diam tapi menghanyutkan) yang menunjukkan keberadaannya. saat telah kronis/akut, demikian pula kemalasan. Tepati jadwal yang ada! Itu adalah kesetiaan Anda kepada rencana Anda. Itu juga disiplin diri Anda sesuai dengan rancangan yg telah Anda sendiri buat. Namun di atas semua itu kesetiaan kepada TUHAN adalah yang terutama dan terpenting. Ingat: tanpa Tuhan kita bukan apa-apa. Kalo dengan rancangan sendiri yang kecil saja kita tidak setia, apalagi dengan rancangan Allah yang begitu besar bagi kita. Jangan menyalahartikan 2 Timotius 2:13 yang berbunyi, “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." Kesetiaan Allah bukan merupakan kesempatan bagi kita untuk menjadi tidak setia! Tetapi malah menjadi suatu motivasi dan keyakinan kita yang kokoh dan kuat untuk memercayai Allah yang Maha Tinggi, El Elyon, dan lebih memicu dan memacu kita untuk lebih lagi dan lebih lagi setia kepada Dia, Tuhan yang penuh kasih dan setia.
Yakobus 1: 4 berbunyi, “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Ketekunan adalah harga yang harus dibayar untuk memperoleh upah TUHAN yang amat besar bagi kita. Sekali lagi ini bukan sogokan atau suapan! Karena Yesus adalah Tuan yang bijak dan adil dalam memberikan upah yang pantas bagi setiap hamba yang melayaniNya dengan tulus ikhlas dan setia.
Simpulan
Kita sah-sah saja untuk berencana, tetapi harus mengutamakan Kehendak dan Rencana TUHAN bagi kita di atas segala keterbatasan rancangan kita. Selain itu, kita wajib hukumnya, untuk mengandalkan hikmat dan kekuatan dari TUHAN dalam berencana, serta Berdoa ! Satu lagi hal yang tidak boleh terlupakan : kita harus menepati rancangan itu alias disiplin dan bertekun dalam TUHAN. Berencana dan bekerja karena rahmat TUHAN, di dalam penyertaan dan campur tangan TUHAN, dan bagi kemuliaan Tuan di atas segala tuan, Raja di atas segala raja, TUHAN Yesus Kristus.
Doa:
Abba, Bapa kami di sorga, ajarlah kami untuk berencana dengan hikmat dari Engkau, TUHAN yang Maha Besar; untuk taat kepadaKehendakMu yang sempurna dan RancanganMu yang penuh damai sejahtera; untuk bertekun di dalam segala perbuatan baik demi mengucap syukur di dalam Yesus Tuhan karena segala perbuatan dan kemurahanMu yang begitu ajaib atas kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami memohon dan memercayakan rencana kami yang terbatas kepada Bapa di sorga yang tak terbatas, kuasaNya, kasihNya, dan kemuliaanNya untuk selama-lamanya. Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga, Ya TUHAN Semesta Alam. Terima kasih Yesus dan RohMu yang menyertai dan senantiasa menolong dan memberkati kami. Amin!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)