Inti Penyembahan
Serahkan dirimu kepada Allah … dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. (Bnd. Roma 6: 13)
“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;”
(Mazmur 37: 5)
Inti penyembahan adalah berserah diri.
Berserah diri adalah frase yang tidak populer, yang tak disukai, hampir seperti kata tunduk. Kata itu menyiratkan makna kalah, dan tak seorang pun ingin menjadi pecundang. Berserah diri cenerung menimbulkan gambaran yang kurang enak, yakni mengaku kalah dalam pertempuran, kalah dalam pertandingan, atau menyerah pada musuh yang lebih kuat. Para penjahat yang tertangkap menyerahkan diri kepada penguasa. Frase ini hampir selalu digunakan dalam pengertian yang negatif.
Dalam persaingan masa kini, kita diajar untuk tidak pernah menyerah dan tidak pernah tunduk, jadi kita tidak banyak mendengar tentang berserah diri. Jika menang adalah hal terpenting, maka seolah-oleah berserah diri adalah hal yang tidak penting. Kita lebih suka berbicara tentang menang, berhasil, mengalahkan, dan menaklukkan daripada mengalah, tunduk, taat, dan berserah diri. Namun menyerahkan diri kepada Allah adalah inti penyembahan. Ini adalah suatu tanggapan yang wajar terhadap Kasih dan Anugerah Allah yang ajaib dan mengagumkan. Kita memberi diri kita kepada Tuhan, bukan karen atakut atau terpaksa, melainkan karena KasihNya. Alasan yang menjadi motivasi kita berserah diri kepada Tuhan adalah hanya karena KasihNya yang teramat sangat pada kita. Perhatikanlah:
“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 Yohanes 4: 9, 10, 19)
Setelah menguraikan mengenai kasih karunia Tuhan yang mengherankan dalam 11 pasal Kitab Roma, Rasul Paulus mendorong kita untuk sepenuhnya menyerahkan hidup kita. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12: 1)
Anda ingin melakukan ibadah yang sejati ? Jika ya, renungkanlah baik-baik. Ibadah sejati adalah ketika Anda memberi diri Anda sepenuhnya kepada Tuhan. Perhatikan kata “mempersembahkan” dan “persembahan” pada ayat di atas. Kata “tubuhmu” menunjuk kepada keseluruhan tubuh jasmani dan tubuh rohani Anda bagi Tuhan. Mempersembahkan segenap diri itulah yang dimaksud dengan penyembahan. Allah menginginkan seluruh kehidupan Anda, tidak cukup 95% saja! Persembahkanlah seluruh kehidupan Anda bagi Tuhan, jangan setengah-setengah !
Beberapa hal yang merintangi kita untuk berserah diri kepadaNya ialah:
Bisakah aku mempercayai Allah?
Anda tidak akan berserah diri kepada Allah, jika Anda tidak mempercayaiNya. Anda juga tidak dapat mempercayaiNya, jika Anda tidak mengenalNya dengan baik. Ketakutan menghalangi kita untuk berserah diri, sebaliknya kasih melenyapkan ketakutan. Semakin Anda sadar betapa kasihNya kepada Anda, semakin Anda dapat menyerahkan diri Anda seutuhnya kepada Tuhan. Allah begitu mengasihi Anda. Lalu apa buktinya? “Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.” (Mazmur 86: 5) “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.” (Mzm 145: 8)
Mazmur 145: 9 => Ia Allah yang pengasihan dan memberikan berbagai rahmat (anugerah) kepada ciptaanNya. “TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.”
Mazmur 139: 3 => Tuhan Maha Tahu dan perduli akan kita semua. “Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kauketahui.”
Matius 10: 30 => Tuhan begitu perduli akan Anda, bahkan hal terkecil sekalipun ! “Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semua olehNya.”
“Akan tetapi Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, dengan jalan: Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5: 8) Ia telah menyatakan KasihNya kepada kita, Bahkan sebelum kita bertobat! Sebelum kita belajar mengasihi Dia dan sebelum kita mengundangNya menjadi Raja atas hidup Anda. Ya, Ia menyatakan KasihNya kepada kita, sebelum kita “cukup pantas” untuk dikasihi, sama sekali tidak taat dan tidak cukup saleh menurut StandarNya yang sempurna.
Allah mengasihi Anda jauh lebih besar daripada yang dapat Anda bayangkan dan pikirkan. Bahkan Ia mengorbankan AnakNya sendiri, FirmanNya sendiri, untuk mengambil rupa seorang manusia untuk menderita dan mati untuk menyelamatkan umat manusia, karena Begitu Besar Kasih Allah kepada kita! Yesus Kristus datang sebagai wujud nyata dari Kasih Allah. Ia berkorban secara jasmani dan rohani. Ia rela berkorban demi Anda! Karena KasihNya yang begitu besar kepada Anda. Ia bahkan lebih memilih “menderita untuk menyelamatkanmu” daripada “duduk nyaman di takhtaNya tanpa dirimu”! Sadarilah: Betapa Tuhan mengasihi Anda!
Ia tidak membentak dan memaksa kita untuk berserah diri kepadaNya. Ia malahan menunjukkan pengorbanan dan kasihNya dengan “Nyata”, supaya kita “sadar” akan KasihNya. Tuhan adalah Pengasih dan Pembebas. Menyerahkan diri kepadaNya, tidak berarti menghasilkan belenggu yang menyiksa, melainkan kebebasan sejati. Sebuah kereta api ketika berada “di luar” relnya, tidak akan berjalan dengan bebas, menghasilkan suara yang seakan-akan menyiratkan keter-siksa-an, dan tidak akan berfungsi dengan baik. Tetapi ketika kereta api itu ada “di dalam” rel-nya, maka kereta api itu akan melenggang bebas ke mana-mana menurut jalur tersebut, tidak ada suara rintihan yang menyiratkan keter-siksa-an, dan pasti berfungsi dengan baik. Kereta api di jalur yang benar akan berjalan ke mana-mana dengan leluasa dan bebas, tidak akan dibelenggu oleh “siksaan” akibat “di luar jalur”. Begitu pula, ketika Anda berada di jalur yang benar: Berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Anda akan hidup dengan bebas, tanpa dibelenggu oleh dosa dan maut, malahan memperoleh kebahagiaan sejati.
Semakin Anda mengenal Allah dan lebih dekat lagi kepadaNya. Anda akan menyadari sebuah kebenaran: Tuhan bukanlah seorang raja yang kejam, Ia adalah Raja yang sangat teramat baik dan bijak. Tuhan bukanlah seorang bos yang sombong, Ia adalah Tuan yang baik hati dan rendah hati. Tuhan bukanlah seorang diktator yang menyebalkan, Ia adalah Sahabat terbaik yang begitu akrab dan “care” dengan kita. Ia sangat mengagumkan dan menakjubkan dan Ia sungguh Allah yang hidup, berkuasa, dan benar-benar nyata!
Mengakui keterbatasan kita – membuang kesombongan kita
Penghalang kedua untuk menyerahkan diri kepadaNya ialah “keangkuhan” kita – kesombongan. Kita tidak ingin mengakui diri kita sebagai makhluk ciptaan saja, yang terbatas dan telah berdosa – bercacat cela. Kita ingin menjadi penguasa dan berkuasa atas segala sesuatu. Inilah pencobaan pertama : “…dan kamu akan menjadi seperti Allah.” (Kejadian 3: 5)Keinginan untuk berkuasa penuh, merupakan penyebab begitu banyak tekanan dalam hidup kita. Kita ingin menjadi “segala-galanya”, bukan sekadar “sesuatu” - sebuah ciptaan. Atau setidak-tidaknya, Anda ingin berkuasa mutlak atas hidup Anda, melawan kondisi seharusnya dimana Allah yang berkuasa atas Anda.
Kita bukan Allah dan tidak akan pernah bisa menjadi Allah. Kita adalah manusia, status kita ialah ciptaan, bukan Pencipta smesta alam! Ketika kita tetap berambisi menjadi Allah – menjadi penguasa mutlak - , maka akhirnya kita akan menjadi seperti iblis, yang memberontak melawan kepada Sang Pencipta yang Maha Kuasa.
Kita cenderung ingin menjadi lebih hebat, lebih pintar, lebih kaya, lebih kuat, lebih segala-galanya dari orang lain. Lalu ketika kita melihat orang lain diberi Allah ciri-ciri khusus yang tidak kita miliki, kita menjadi iri hati, cemburu, dan mengasihani diri sendiri. Kita harus belajar menerima diri “apa adanya”, bukan berambisi “ada apanya” dengan diri Anda untuk disombongkan. Kita harus belajar mengakui keterbatasan kita. Kita bukan manusia sempurna, tanpa kekurangan. Setiap kita pasti memiliki kelemahan dan keterbatasan. Terimalah kenyataan ini dan akui. Hanya TUHAN yang sempurna dan tak terbatas. Dengan demikian kita, tidak perlu menjadi sombong. Karena Tuhan-lah yang menganugerahkan, bukan karena kehebatan kita. Anda boleh mengasah keterampilan dan talenta Anda, tetapi bagi kemuliaanNya, bukan bagi keangkuhan diri Anda sendiri.
Apa Arti Berserah Diri?
Menyerahkan diri kepada Allah, bukan berarti pasrah secara pasif atau sebagai alasan untuk berleha-leha alias bermalas-malasan! Berserah diri adalah tindakan aktif! Ya, aktif: melakukan sesuatu bagi Allah. Mempersembahkan hidup bahkan rela berkorban untuk melakukan yang terbaik untuk menyenangkan Allah.
Selain itu, berserah diri tidak berarti meninggalkan cara berpikir rasional. Allah tidak ingin Anda melayaniNya laksana robot-robot tanpa akal atau hati. Allah ingin memberdayakan Anda (men-daya-guna-kan potensi-potensi Anda secara efektif). Tuhan ingin Anda mempergunakan secara maksimal potensi-potensi yang Dia anugerahkan kepada Anda, sama sekali bukan untuk dimatikan.
Lalu mengenai kepribadian. Berserah diri tidak berarti mematikan semua karakter Anda, juga tidak berarti menghapuskan kepribadian Anda. Allah hendak memperbaiki kepribadian Anda menjadi lebih baik. Membuat gambarNya semakin nyata di dalam kepribadian Anda. Kepribadian Anda yang telah rusak karena dosa, dipulihkanNya kembali ketika Anda berserah diri kepadaNya. Kepribadian Anda unik dan Allah menjadikan demikian untuk rencana dan maksudNya yang mulia. Jadi, jangan menyangka kepribadian Anda akan hilang, ketika Anda menyerahkan hidup Anda kepadaNya! Sebaliknya, Anda akan semakin menyadari siapa diri Anda dan siapa Allah itu. C. S. Lewis berkata, “Semakin kita membiarkan Tuhan menguasai kehidupan kita, semakin kita menjadi benar-benar diri kita. Karena Dia yang paling tahu betul siapa diri kita, sebab Dia adalah Pencipta kita sendiri. Ketika saya berpaling kepada Kristus, ketika saya menyerahkan diri kepadaNya, untuk pertama kalinya saya mulai memiliki kepribadian saya yang sesungguhnya!”
Berserah diri paling nyata dapat diwujudkan dalam ketaatan. Anda harus berkata, “Ya, Tuhan”, untuk apapun yang Dia minta dari kita, sekalipun perintahNya kelihatan tidak masuk akal. Orang-orang yang berserah diri menaati Firman Allah, sekalipun kelihatan tidak masuk akal. Tuhan itu tidak terbatas dan Maha Kuasa , Ia sama sekali tidak dapat dibatasi oleh akal pikiran kita yang sempit dan terbatas. Makanya wajar saja, jikalau kita melihat Ia bekerja dengan cara-cara yang ajaib dan tak masuk akal. Kita dapat mengenalinya melalui akal pikiran kita, tetapi sama sekali tidak dapat “menyelami” Diri Tuhan yang Maha Besar, dengan akal pikiran kita yang amat terbatas. Kembali berbicara tentang ketaatan. Ingatlah: Anda tidak dapat mengatakan Yesus ialah Tuhan Anda, jika Anda tidak menaatiNya. Setelah semalaman gagal memperoleh ikan, Simon memberi contoh penyerahan diri ketika ia menaati permintaan Yesus yang menyuruhnya untuk mencoba kembali. “Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga’.” (Lukas 5: 5)
Bentuk lain dari berserah diri ialah “percaya”. Abraham mempercayai Allah, tanpa mengetahui ke mana Ia akan membawanya. Hana mempercayai Allah, tanpa mengetahui kapan waktu penggenapan yang dilakukan Allah pada dirinya. Yusuf, si anak bungsu, mempercayai Allah, tanpa mengetahui bagaimana Allah akan menuntun dirinya hingga sampai memegang tampuk pemerintahan di Mesir. Masing-masing tokoh Alkitab ini, berserah diri kepada Tuhan dengan mempercayaiNya. Yakinlah: Ia adalah Allah yang layak untuk dipercayai dan sungguh dapat dipercayai.
Berserah diri berarti tidak memaksakan ambisi Anda pada Allah dengan doa-doa yang bertubi-tubi. Berserah diri berarti tidak “berkuasa mutlak” atas segala waktu Anda. Berserah diri berarti tidak mendesak kepada Allah, “Jadilah kehendakku, di dunia maupun di sorga.” Pahamilah: Berserah diri berarti menyerahkan diri Anda, termasuk keinginan dan kerinduan Anda kepada Allah. Berserah diri berarti membiarkan Kehendak Tuhan yang sempurna dan terbaik terlaksana dalam hidup Anda. Berserah diri berarti Anda membiarkan Allah bekerja dengan leluasa dan Anda menyerahkan kemudi atas hidup Anda kepadaNya.
Salah satu hal yang sulit untuk diserahkan kepada Allah bagi kebanyakan orang ialah “uang”. Banyak orang berpikir, “Aku ingin melayani Tuhan, ‘tetapi’ juga ingin memiliki banyak uang untuk hidup nyaman.” Kelihatannya tidak ada yang salah. Namun Alkitab dengan jelas menunjukkan kesalahan kita:
“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6: 24, 21)
TUHAN tidak pernah mau di-dua-kan, Ia adalah Allah yang tidak ada duanya, jadi jangan coba-coba untuk membuat ‘duplikatNya’ dalam hidup Anda!
Teladan terbesar dari berserah diri adalah Yesus sendiri. Pada malam sebelum Ia disalibkan, Yesus telah menyerahkan DiriNya kepada Kehendak Allah Bapa. Dia berkata, “Kata-Nya: Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Markus 14: 36)
Yesus sama sekali tidak berkata, “Ya Bapa, kasihanilah daku. Lepaskanlah aku dari penderitaan ini. Berikanlah kepadaku takhta yang nyaman saja.” Ia sama sekali tidak menyatakan kepentinganNya sendiri. Ia tidak berbicara tentang “kenyamanan” diriNya sendiri. Ia tidak meminta Allah Bapa untuk “meloloskanNya” dari penyaliban. Sebaliknya Ia berkata, “Bapa, jika ada di dalam kehendakMu untuk menyingkirkan penderitaan ini, lakukanlah. Tetapi jika penderitaan ini menggenapi tujuanMu, maka itulah yang Daku inginkan juga.” Yesus memilih Kehendak Allah untuk berkorban demi keselamatan manusia. Ia memilih taat dan tunduk kepada Rencana Bapa Sorgawi. Ia menunjukkan sikap “rela berkorban” dan “berserah diri” sepenuhnya. Ini bukan pergumulan yang gampang, Ia berhadapan dengan hukuman atas dosa-dosa manusia dari segala masa dan dari segala tempat. Untuk dosa-dosa yang begitu mengerikan, maka adalah setimpal juga jika hukumannya juga begitu mengerikan. Dan Yesus menanggung dengan “rela” dan “kasih”.
Bagaimana dengan kita? Allah telah memberi banyak contoh teladan iman. Jika kita berserah diri kepada Tuhan, kita akan berkata, “Bapa, jika masalah, penderitaan, sakit penyakit, atau situasi ini diperlukan uuntuk memenuhi TujuanMu yang terindah dalam hidupku atau orang lain, maka janganlah singkirkan semua ini, melainkan Kuatkan daku untuk melalui semua proses ini. Memang berat, tapi daku tahu hasilnya akan begitu indah dalam tangan Engkau, Sang Pencipta yang Agung.” Berserah diri merupakan peperangan yang sengit melawan keinginan kita yang suka mementingkan diri sendiri. Andalkan Tuhan, caranya? Berserah diri-lah kepada Yang Maha Kuasa.
Manfaat Berserah Diri
Pertama: Anda mengalami ketentraman sejati. “Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau tenteram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan.” (Ayub 22: 21) Anda tidak berserah diri demi keuntungan. Anda berserah diri demi Allah dengan tulus ikhlas dan Ia pasti memberikan apa yang kita butuhkan. Ia menunjukkan kemurahanNya dan itu adalah suatu manfaat yang luar biasa dari berserah diri kepadaNya!
Kedua: Anda mengalami kemerdekaan (kebebasan) sejati. Roma 6: 18 berbunyi, “Kalian sudah dibebaskan dari dosa, dan sekarang menjadi hamba untuk kehendak Allah.” (BIS) Dan, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” (ITB). Perhatikan juga: “Serahkan dirimu kepada Allah, maka kemerdekaan tidak akan pernah berhenti di hidupmu… FirmanNya memerdekakan kamu untuk hidup secara bebas di dalam kemerdekaan sejati , yakni hidup di dalam KebenaranNya.” (Bnd. Roma 6: 18)
Ketiga: Anda mengalami Kuasa Allah dalam kehidupan Anda. Dengan berserah diri kepadaNya, Ia sendiri akan menunjukkan jalan keluar dari setiap masalah dan menunjukkan cara kerjaNya yang ajaib dan luar biasa.
Kemenangan datang melalui penyerahan diri kepada TUHAN. Berserah diri sama sekali tidak memperlemah Anda, malahan akan dan pasti memperkuat Anda. Berserah diri kepada Tuhan, akan membawa kita kepada kemenangan; tetapi berserah diri kepada hal yang lain, akan membawa kita pada penyesalan yang fatal. “Kehebatan kuasa manusia ada dalam tingkat penyerahan diriNya kepada Tuhan.”
Orang yang berserah diri adalah orang yang Allah pakai untuk maksud dan rencanaNya yang mulia. Salah satunya ialah Maria, Ibu Yesus. Maria dipilih bukan karena kekayaan atau kecantikannya, melainkan karena Tuhan menunjukkan karuniaNya kepada Maria, yang berserah diri sepenuhnya kepada Dia. Ketika malaikat menjelaskan rencana Allah yang kelihatan mustahil, Maria dengan tenang menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; dan aku bersedia menerima apapun yang Ia kehendaki atasku.” (bnd. Lukas 1: 38) “Karena itu, serahkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah.” (Bnd. Yakobus 4: 7a)
Cara terbaik untuk hidup
Semua orang pada akhirnya pasti berserah diri kepada “sesuatu” atau “seseorang”. Jika bukan berserah diri kepada Tuhan, Anda akan berserah diri kepada pendapat orang lain, kepada sakit hati, kepada harta materi, kepada keangkuhan diri sendiri, atau kepada hal lainnya. Anda dirancang untuk menyembah Allah, tetapi jika Anda memilih untuk tidak menyembah Dia. Maka Anda pasti membuat “hal-hal lain” yang kepadanya Anda menyerahkan hidup Anda. “Hal-hal lain” ini yang disebut sebagai berhala-berhala. Anda bebas berserah diri kepada apa atau siapa, tetapi Anda tidak bebas dari “akibat-akibatnya”.
Berserah diri bukanlah cara terbaik untuk hidup; berserah diri adalah satu-satunya cara yang baik untuk hidup. Roma 12:1 menggunakan istilah “ibadahmu yang sejati”. Terjemahan bahasa asing, yakni Contemporary English, menyebut “That's the most sensible way to serve God”, artinya “cara yang paling masuk akal untuk melayani Allah”, cara yang paling beralasan, sadar, dan aplikatif untuk melayaniNya. Terjemahan lain, yakni New Living Translation, mengungkapkan dengan istilah “This is truly the way to worship Him”, artinya sesungguhnya ini adalah cara yang paling benar dan paling tepat untuk menyembahNya.” Istilah lain yang diungkapkan 2 Korintus 5: 9 terjemahan BIS, berbunyi : “Karena itu kami berusaha sungguh-sungguh untuk menyenangkan hati-Nya.”
Menyerahkan hidup Anda kepada Yang Maha Kuasa, bukanlah perbuatan emosional yang konyol. Tetapi merupakan tindakan yang amat cerdas, suatu hal yang membawa Anda kepada kehidupan yang “ditopang”, “disertai”, dan “ditanggung” oleh Pencipta Anda sendiri. Ketika Anda terperosok dalam lumpur hisap, Anda sama sekali tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Anda butuh pertolongan “dari luar” yang terjamin dan pasti, dan hanya Tuhan-lah Penolong yang Sejati itu. Hidup Anda tidak akan lagi di dalam “lumpur hidup”, melainkan di dalam “Sumber hidup”!
Kadang butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa penghalang terbesar antara diri Anda dan Allah adalah “diri Anda sendiri”. Kita cenderung mengutamakan “ambisi”, “rencana”, dan “kepentingan” diri sendiri – daripada Allah. Anda tidak bisa memenuhi tujuan Tuhan dalam hidup Anda, jika Anda terus bersikeras bahwa Pendapat Anda adalah yang paling benar dan paling baik. Kita tidak pernah bisa “lebih tahu” apa yang terbaik, daripada Pencipta kita sendiri !
Serahkan diri Anda “sepenuhnya” kepada Allah dengan memperayai dan menaatiNya. Termasuk: persoalanmasa lalu Anda, persoalan Anda sekarang, impian masa depan Anda, kelemahan, kekuatiran, ketakutan, dan “segala-galanya” tentang Anda. Berikan Yesus kursi pengemudi dalam hidup Anda dan lepaskanlah tangan Anda dari kemudi. Jangan takut! BersamaNya pasti bisa, jikalau kita taat dan percaya kepada Tuhan yang Maha Kuasa itu. Dengan pimpinan Yesus – Ia yang mengendalikan hidup Anda sepenuhnya – Anda dapat menghadapi segala hal dengan penyertaanNya. Rasul Paulus berkata, “Aku siap menghadapi apa pun dan sanggup menghadapi segala perkara melalui Dia yang memberiku kekuatan, yaitu aku dan keperluanku dicukupkan sendiri oleh Kristus Tuhan.” (Bnd. Filipi 4: 13)
Titik penyerahan diri Saulus, Sang Pembantai Orang Kristen, kepada Allah, terjadi setelah ia rebah karena cahaya yang membuatnya buta. Allah menegurnya dengan cara demikian. Bagaimana pun juga berserah diri tidak harus disertai tanda-tanda yang besar. Bukan itu intinya. Intinya ialah: apakah Anda berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan ? Ada saat penyerahan diri, dana ada praktik penyerahan diri, yang berlangsung saat demi saat dan sepanjang hidup. “Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.” ( 1 Korintus 15: 31)
Masalahnya: kita seringkali bergerak hampir-hampir melenceng dari jalur, maka kita perlu kembali untuk menyerahkan diri kembali kepadaNya. Lebih baik Anda kembali ke dalam jalur, sebelum tersesat lebih jauh ! “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus meninggalkan hal-hal yang ia inginkan. Ia harus bersedia menyerahkan hidupnya setiap hari untuk mengikuti Aku.” (Bnd. Lukas 9:23)
Ingatlah: ketika Anda memutuskan untuk berserah diri kepadaNya, keputusan itu akan diuji. Kadang itu berarti: tugas yang tidak enak, tidak gampang, atau kelihatannya mustahil. Itu akan seringkali berlawanan dengan apa yang ingin Anda kerjakan. Ingatlah: sebuah cangkir porselin yang cantik, adalah hasil dari tanah liat yang melalui proses yang tidak pernah mulus dan nyaman! Jangan takut! Anda tidak berjalan sendiri! Allah yang akan memberikan kekuatan kepada Anda, karena itu taatlah dan percayalah sungguh-sungguh. Dan Anda akan melihat betapa luar biasanya Imanuel, Allah beserta kita !
Salah seorang tokoh besar di dalam pelayanan orang Kristen adalah Bill Bright. Ketika ia ditanyai, “Mengapa Allah begitu memakai dan memberkati hidup Anda?” Ia menjawab, “Ketika masih muda, saya telah membuat perjanjian dengan Allah. Saya menuliskannya dengan tepat dan membubuhkan tanda tangan saya. Perjanjian itu berbunyi, ‘Mulai hari ini, saya adalah budak Yesus Kristus’.” Apa artinya? Ia menjadikan Tuhan Yesus sebagai “Tuan” yang berkuasa penuh atas hidupnya. Ia mengabdikan dirinya seutuhnya bagi Tuan di atas segala tuan. Ia menunjukkan ketaatan penuh. Namun ingatlah: TUHAN, bukanlah Tuhan yang kejam dan otoriter, sebaliknya Ia Maha Kasih dan Maha Adil! Kata kiasan “budak” di sini menunjukkan ketaatan penuh, bulat, bukan separo-separo, tak kurang se-persen pun.
Pernahkah Anda membuat perjanjian dengan Allah bahwa Anda mengabdikan diri sepenuhnya kepadaNya? Atau Anda masih berdebat dan berdalih dengan berbagai alasan dengan Tuhan mengenai hakNya atas hidup Anda? Anda tahu pada akhirnya, hukuman akan tetap ada bagi pemberontakan dan ketidaktaatan. Jangan terus menantang Allah dan meragukanNya! Belajarlah percaya dan mulailah mencari tahu tentang Dia. Jangan sekadar duduk diam dan tiba-tiba Anda terkejut bahwa ajal telah menjemput Anda. Pergunakan waktu dan kesempatan yang masih ada dengan sebaik-baiknya. Lebih bajik dan bijak, jika Anda menyiapkan diri untuk menyerahkan diri kepada Allah. Ya, kepada Kasih Karunia, Hikmat, dan Rencana Yang Maha Baik; bukan kepada harta yang fana, kenikmatan yang semu, dan egoisme diri sendiri. Berserah diri tidak berarti kalah. Berserah diri berarti mempercayai dan taat kepada Yang Maha Kuasa. Ini jauh lebih baik dari gila harta, budak hawa nafsu, ataupun egoisme yang tragis. Berserahlah kepada Tuhan, Penciptamu sendiri.
Hari Kesepuluh
Tujuan Pertama :
Anda direncanakan untuk menyenangkan Allah
Renungkanlah :
Inti penyembahan adalah “Berserah Diri”.
Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN,
berharaplah kepada-Nya, Ia akan menolongmu.
Mazmur 37: 5, BIS
Apakah saya mau mengambil keputusan untuk menyerahkan diri saya “sepenuhnya” kepada TUHAN ALLAH, yang menciptakan langit dan bumi termasuk saya sendiri ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)