Halaman

Minggu, 13 Februari 2011

TPDL Hari 13

Penyembahan yang
Menyenangkan Allah

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Markus 12: 30

Allah menginginkan “segenap diri” Anda.


Tuhan sama sekali tidak menginginkan “sebagian” dari hidup Anda. Dia menghendaki segenap hati Anda, segenap jiwa Anda, segenap akal budi Anda, dan segenap kekuatan Anda. Allah tidak menginginkan komitmen separo hati, setengah jiwa, ketaatan sebagian, ataupun sisa-sisa waktu Anda. Tuhan menghendaki “pengabdian penuh” Anda, bukan sekadar sebagian dari hidup Anda saja.
Seorang wanita Samaria pernah mencoba berdebat dengan Yesus tentang waktu, tempat, dan gaya penyembahan yang terbaik. Yesus menyatakan bahwa Dimana Anda menyembah tidaklah sepenting mengapa Anda menyembah dan Seberapa banyak dari diri Anda yang Anda persembahkan kepadaNya. Ibrani 12:28 berbunyi, Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan [Sorga], marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut [takut untuk berbuat yang jahat].”
Karakteristik penyembahan yang menyenangkan Tuhan:
Penyembahan yang “tepat”
Orang-orang seringkali berkata, “Saya berpikir bahwa Tuhan itu …” mereka menyampaikan gagasan mereka sendiri tentang jenis Tuhan yang ingin mereka sembah. Tetapi kita tidak boleh menciptakan sendiri gambaran Allah yang ingin kita sembah. Allah adalah Sang Pencipta, bukan “ciptaan” dari pikiran kita. Jangan coba-coba untuk melangkahi kodrat dan status kita! Mencoba “membuat” Allah, semau kita atau sesuka hati kita saja di dalam pikiran kita adalah: penyembahan berhala! Dapatkah manusia membuat allah bagi dirinya sendiri? Yang demikian bukan allah!" (Yeremia 16: 20)
Penyembahan harus didasarkan pada kebenaran Alkitab, bukan menurut pendapat akal kita yang terbatas. “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yohanes 4:23)
Frasa “menyembah dalam kebenaran”, berarti bahwa kita harus menyembah Tuhan berdasarkan kebenaran Alkitab: menyembah Allah sebagaimana Dia dinyatakan di dalam Alkitab. Perhatikanlah : Allah menghendaki kita menyembahNya di dalam Kebenaran; dan Kebenaran Sejati itu adalah Yesus Kristus. Yesus adalah Firman Allah, dan Firman Allah itu adalah Kebenaran. “FirmanMu adalah Kebenaran.” (Yoh 17: 17) Hanya Yesus yang pernah mendeklarasikan bahwa: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14: 6)
Penyembahan yang “total”
Demikian pula, “menyembah dalam roh”, berarti kita menyembah Tuhan dengan roh kita. Penyembahan adalah ketika “roh Anda” menanggapi “Roh Allah” dengan benar. Perhatikanlah: Allah menghendaki kita menyembahNya dalam pimpinan RohNya sendiri, bukan sesuka kita saja. Tuhan-lah yang Anda layani dan sembah, jadi ikutilah “aturan mainNya”, yakni di dalam bimbingan Roh Kudus, RohNya sendiri.
Penyembahan yang total, meliputi aktivitas sehari-hari Anda: melakukan kebenaran FirmanNya. Juga termasuk menyembahNya dengan sungguh-sungguh dengan kapasitas spiritual Anda, yakni: roh Anda, bagian terdalam dari diri Anda.
Yesus Kristus menyatakan bahwa Hukum yang terutama: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22: 37) Tuhan menghendaki penyembahan yang total, penuh, dan sungguh-sungguh. Penyembahan bukan sekadar kata-kata yang indah, namun Anda bersungguh-sungguh denganNya. Penyembahan bukan sekadar persembahan Anda yang mahal dan banyak, namun Anda sungguh-sungguh mempersembahkan segenap diri Anda bagiNya, bukan sekadar sebagian dari apa yang Anda miliki. Penyembahan yang tidak sungguh-sungguh merupakan “hinaan” kepada Allah!
Tuhan Allah mengamati kita “seutuhnya” saat menyembahNya. Ia memperhatikan setiap kata-kata, tindak-tanduk, dan sikap hati Anda. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16: 7b)
Karena penyembahan juga meliputi keadaan “senang” akan Tuhan, maka penyembahan melibatkan “emosi” Anda (perasaan/hati). Tuhan melengkapi Anda dengan emosi, sehingga Anda dimungkinkan untuk dapat menyembahNya dengan perasaan yang dalam, tetapi perasaan itu haruslah jujur dan sungguh-sungguh, tidak pura-pura, bukan suatu sandiwara. Tuhan tidak pernah menyukai kemunafikan atau kepalsuan dalam penyembahan. Mungkin kita menyembah Allah secara tidak sempurna, tetapi kita tidak boleh menyembah Allah secara “tidak tulus”.
Alkitab menegaskan bahwa: penyembahan haruslah tepat dan penuh, tulus dan benar. Penyembahan yang menyenangkan Allah melibatkan emosi dan pemahaman; hati kita dan juga kepala kita.
Sekarang banyak orang menyamakan rasa tergerak oleh musik dengan rasa tergerak oleh Roh; padahal ini tidak sama. Sesungguhnya, penyembahan adalah saat roh Anda menanggapi Roh Allah, bukan menanggapi bunyi musik tertentu. Beberapa lagu sebenarnya menghalangi penyembahan, karena memusatkan perhatian Anda kepada perasaan Anda sendiri. Gangguan terbesar dalam penyembahan adalah diri Anda sendiri; egoisme dan kejahatan  kita. Penyembahan ialah saat Anda fokus kepada Allah, mengabdikan segenap diri Anda bagiNya, mencurahkan diri Anda sepenuhnya untuk Allah, bukan untuk kenyamanan diri sendiri. Anda perlu kesegaran batin, tetapi bukan itu tujuan yang benar. Yang benar ialah: Menyembahlah dengan benar, dan tinggal menunggu waktu Allah untuk memberikan kepada Anda apa yang Anda perlukan. Tuhan adalah fokus dan tujuan penyembahan kita!
Banyak cara untuk mengekspresikan “penyembahan” Anda kepadaNya. Alkitab memberi berbagai contoh: bernyanyi, membuat pengakuan iman, bersyukur, menari, bersorak sukacita, berlutut, bersaksi, memainkan alat musik, mengangkat tangan, dll. Yang penting, gaya penyembahan terbaik adalah penyembahan yang menunjukkan kasih Anda kepada Allah secara sungguh-sungguh, berdasarkan latar belakang dan kepribadian yang Allah berikan kepada Anda.
Beberapa orang Kristen terjebak dalam situasi penyembahan yang tidak beres: rutinitas yang sama sekali tidak memuaskan. Mereka tidak menganggap penyembahan sebagai suatu hubungan yang akrab dan menyenangkan dengan Allah. Mereka memaksa diri untuk menggunakan gaya penyembahan yang tidak sesuai dengan cara dimana Allah secara unik membentuk mereka. Tuhan dengan sengaja menciptakan kita semua berbeda-beda, lalu mengapa setiap orang harus mengasihi Allah dengan cara yang sama persis? Tuhan itu kreatif dan Ia membuat Anda secara unik untuk menyembahNya dengan benar. Banyak cara untuk menyembah Tuhan tanpa mengesampingkan “kebenaran”, contohnya:
Tidak ada harga mati untuk gaya penyembahan! Anda dapat memilih gaya penyembahan yang paling sesuai untuk Anda secara total bagiNya atau belajar jenis gaya penyembahan lainnya untuk menyenangkanNya. Sekali lagi: Anda bukan menyembah demi diri Anda namun bagi DiriNya. Namun “cara” untuk menyembahNya beraneka ragam, dan Ia menyukai keanekaragaman, serta menghargai “cara” Anda menyembahNya asal tetap benar. Anda tidak sama dengan orang lain dan Allah menginginkan Anda menjadi diri sendiri. Allah menghendaki Anda menyembah secara unik, khas, dan sesuai kebenaran Alkitab. “Itulah orang-orang yang Bapa cari: orang-orang yang menjadi diri sendiri apa adanya dan jujur di hadapan Dia dalam penyembahan mereka.” (Yohanes 4:23, The Message)
Penyembahan dengan “akal budi”
Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan Allahmu, … dengan segenap akal budimu.” Allah tidak menyukai umatNya menyanyikan lagu-lagu tanpa pikiran, menaikkan doa yang “asal ucap” saja, mengucap “Puji Tuhan” secara sembarangan. Penyembahan harus melibatkan segenap diri Anda, termasuk akal budi Anda. Anda harus menyadari makna penyembahan. Yesus menyebut penyembahan tanpa akal sebagai, “pengulangan yang sia-sia”. Bahkan ayat-ayat Alkitab dapat menjadi kata-kata yang tak dikenanNya, jika tidak digunakan berulang-ulang tanpa memikirkan dan memahami maknanya! Gunakan akal pikiran dan hati Anda untuk menyembahNya! Berbagai terjemahan dan parafrase ayat Alkitab membantu kita melihat ide-ide pokok yang terkandung dalam sebuah ayat Alkitab, sehingga memperluas pemahaman kita akan Alkitab.
Cobalah mempergunakan kata-kata yang variatif untuk memujiNya. Pakailah sinonim-sinonim untuk mengungkapkan hal yang sama. Dahulu, Anda berkata, “kami memuji Engkau, ya Tuhan!”; kini, Anda berkata: Haleluyah! (Puji Tuhan!), kami mengagumi Engkau, kami merindukan Engkau lebih dari segalanya, kami meninggikan Engkau dengan segenap jiwa dan raga.
Perjelaslah maksud Anda. Jika seseorang mendekati Anda dengan berkata, “Aku mengagumimu”, sebanyak 12 kali. Anda tentu berkata, “Untuk apa? Mengapa? Apa maksudmu?” Spesifik-kan tujuan dan isi hati Anda sejelas-jelasnya dan tunjukkan betapa kasih Anda kepadaNya. Ungkapkan dengan berbagai cara dan kreatif. Jangan monoton, maksimalkan potensi Anda bagiNya.
Pujilah Allah sesuai keajaibanNya. Allah begitu luar biasa. Ia berkuasa atas semesta alam, sehingga disebut El Shaddai, Allah Maha Kuasa. Ia menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan ciptaanNya, sehingga disebut Yehuwah Jireh, Allah yang menyediakan. Ia bertakhta bahkan di atas segala kemuliaan dan keagungan paling tinggi, sehingga disebut El Elyon, Allah Maha Tinggi. Tuhan memiliki banyak nama, dan bukan sekadar nama saja, di balik nama-nama itu tersimpan makna-makna yang mendalam tentang hakikat dan karakter-karakterNya. Ia begitu ajaib, kenalilah berbagai sifatNya yang luar biasa dan pujilah segala karakterNya yang menakjubkan! Intinya, gunakan berbagai nama-namaNya, sehingga Anda semakin merenungkan Keajaiban Diri Allah. Jangan sekadar “asal ucap” saja!
Penyembahan yang “nyata”
Roma 12:1 terjemahan BIS berbunyi, “Saudara-saudara! Allah sangat baik kepada kita. Itu sebabnya saya minta dengan sangat supaya kalian mempersembahkan dirimu sebagai suatu kurban hidup yang khusus untuk Allah dan yang menyenangkan hati-Nya. Ibadatmu kepada Allah seharusnya demikian.” Terjemahan The Message menyatakan, “Persembahkan setiap hari-harimu, hidup sehari-harimu - yakni ketika makan, tidur, bekerja, dll – sebagai suatu persembahan di hadapan Allah. Lakukanlah hal-hal yang terbaik yang dapat Anda lakukan bagi Dia, sebagaimana Ia telah melakukannya bagi Anda.” Terjemahan NCV menegaskan, “..aku (Paulus) meminta dengan sangat kepadamu agar kamu mempersembahkan hidupmu sebagai suatu korban yang hidup (persembahan) kepadaNya…”
Berbagai bentuk persembahan yang dapat Anda lakukan ialah: persembahan uang, persembahan hasil bumi (khususnya daerah pedalaman), Ucapan syukur, sembah sujud, puji-pujian, berbagi dengan yang membutuhkan, melayani yang kesepian (yatim piatu& lanjut usia), berdoa bagi sesama, dan masih banyak hal lagii yang dapat Anda lakukan sebagai “persembahan” kepada Tuhan, tentunya dengan segenap hati.
Persembahan pada level yang lebih sulit ialah dengan pengorbanan. “Sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” (2 Samuel 24:24) Artinya: kita harus belajar untuk mempersembahkan kepada Tuhan dengan pengorbanan; rela berkorban dan ikhlas, bukan karena terpaksa.
Salah satu hal yang Tuhan ingin kita lepaskan ialah: egoisme kita. Anda tidak dapat meninggikan Allah dan diri Anda sendiri pada saat yang bersamaan. Egosentris harus kita relakan untuk dibuang jauh-jauh. Anda tidak dapat mementingkan Allah, jika Anda terus menerus mementingkan diri sendiri. Ketika Yesus berkata, “Kasihilah TUHAN Allahmu dengan segenap kekuatanmu”, Dia menunjukkan bahwa penyembahan memerlukan usaha dan tenaga. Penyembahan tidak selalu berbicara kenyamanan Anda, penyembahan juga berbicara pengorbanan sukarela. Penyembahan tidak berarti duduk diam tanpa bertindak, namun juga berarti tindakan aktif untuk memuliakanNya dalam hidup kita.
Anda tetap memuji Tuhan, walaupun Anda tidak merasa ingin melakukannya. Anda tetap menolong orang lain, sekalipun Anda tengah letih. Anda memperdulikan orang lain, meskipun Anda sendiri juga sedang kesulitan. Inilah penyembahan yang berkorban, yang rela, tulus, dan ikhlas.
Matt Redman, seorang pemimpin pujian di Inggris, bercerita bagaimana Pendetanya mengajar gerejanya tentang makna sebenar dari penyembahan. Untuk menunjukkan penyembahan lebih sekadar musik, Pendetanya melarang semua nyanyian dalam kebaktian mereka untuk sementara waktu, sedangkan mereka belajar menyembah dengan cara lain. Menjelang akhir dari “waktu itu”, Matt menulis lagu, “The Heart of Worship” :
“ I'll bring You more than a song
[ Aku akan membawa bagiMu lebih dari sekadar lagu ]
For a song in itself Is not what You have required
[ karena lagu itu sendiri bukan apa yang Engkau tuntut ]
You search much deeper within Through the way things appear
[ Engkau mencari jauh lebih dalam daripada hal-hal yang tampak ]

You're looking into my heart
[ Engkau melihat ke dalam lubuk hatiku ] “
Inti masalahnya adalah masalah “Hati Anda dengan HatiNya”.
Download link lagu The Heart of Worship: Klik di sini

Hari Ketigabelas
Tujuan Pertama : Anda direncanakan untuk menyenangkan Allah
Renungkanlah: TUHAN menghendaki “segenap diriku”.
Bagaimana saya menyembah ketika bersama-sama dengan saudara/i seiman? Bagaimana saya menyembah saat sendiri denganNya?
Bagaimana saya menyembahNya ketika hari minggu? Bagaimana saya menyembahNya di setiap saat, dalam keseharianku?
Apakah saya telah menyembah dengan BENAR, TOTAL, BERAKAL BUDI, NYATA, dan dengan SEGENAP DIRI dan DAYA UPAYA ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)