Halaman

Jumat, 18 Februari 2011

TPDL Hari 18

Menjalani Kehidupan Bersama-sama

Kamu masing2 adalah bagian dari Tubuh Kristus [Gereja],
dan kamu dipanggil untuk hidup bersama dalam damai sejahtera.
(Kolose 3: 15, CEV)

Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! (Mazmur 133:1)

Kehidupan dimaksudkan untuk saling berbagi.


Allah menghendaki agar kita menjalani kehidupan bersama-sama. Alkitab menyebut pengalaman bersama-sama ini sebagai “persekutuan”. Kata “persekutuan” tidak hanya sekadar obrolan biasa, makanan minuman, dan kegembiraan. Adalah sesuatu yang keliru ketika kita mengganggap persekutuan hanya terbatas pada : “Tinggallah dulu hingga persekutuan selesai”, yang bermaksud: Tunggulah sebentar lagi untuk menikmati makanan ringan. ^v^
Persekutuan sesungguhnya tidak hanya sekadar kebaktian. Persekutuan sebenarnya ialah menjalani kehidupan bersama-sama. Termasuk di dalamnya: saling mengampuni, saling mendorong untuk maju dalam iman, belajar untuk tidak egosentris, belajar berbagi, belajar perduli akan kesulitan orang lain, dsb sebagaimana tertulis dalam Alkitab.
Persekutuan yang efektif adalah persekutuan yang terdiri dari sedikit orang saja. Kebaktian dapat berlangsung dalam keramaian umatNya. Tetapi persekutuan berlangsung di antara beberapa orang. Seperti keluarga kecil dari keluarga Allah yang universal. Bersekutu akan efektif jika tidak terdiri dari terlalu banyak orang, biasanya tidak lebih dari 12 orang. Yesus memanggil para murid untuk dididik menjadi hamba-hamba yang dipakai secara luar biasa oleh Tuan di atas segala tuan, sayang salah seorang malah berkhianat [Yudas Iskariot]. Kembali ke…  “persekutuan”. Tuhan memberikan Janji yang luar biasa tentang persekutuan. “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18: 19-20)
Ada persekutuan yang sejati dan ada juga yang palsu [tidak efektif]. Lalu, apa ciri-ciri persekutuan yang Alkitabiah ?
1# Persekutuan itu mendalam dan kokoh.
Persekutuan sejati bukanlah sekadar obrolan basa-basi yang dangkal. Persekutuan mencakup tindakan berbagi pengalaman dan permasalahan dan berkat dengan hati. Persekutuan sejati terjadi ketika orang2 bersikap jujur, terbuka, dan melepas topeng gengsinya. Mengungkapkan secara jujur siapa kita secara apa adanya. Menceritakan luka batin, mengakui kelemahan, saling mendoakan, saling menghibur, saling menguatkan. Persekutuan bukan suatu keramahtamahan yang palsu, bukan sandiwara, bukan kepura-puraan yang hendak menunjukkan ‘betapa hebatnya aku ini’. Jujur pada diri sendiri: kita bukan orang yang sempurna. Maka persekutuan sejati menjadi tempat untuk saling belajar, menolong, dan mengasihi; bukan panggung sandiwara!
“Jadikanlah ini sebagai kebiasaanmu: Akui dosa-dosamu satu sama lain dan berdoa satu sama lain sehingga kamu dapat hidup bersama dan sembuh.” (Yakobus 5:16a, Msg) Ketika kita hendak jujur mengenai siapa diri kita dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita; itu butuh kerendahan hati dan keberanian. Kunci keberhasilan adalah langkah awal yang nyata, untuk mulai mengambil tindakan yang bijak. Dan jika kita terlalu malu untuk mengakui siapa kita sesungguhnya dan masih terlampau takut untuk maju dan menyatakan siapa Anda, Anda tidak akan pernah dapat bertumbuh secara rohani. Mungkin Anda takut akan penolakan lagi, cemooh lagi, sakit hati lagi; tapi itu semua adalah tantangannya. Jika Anda tidak berani, maka Anda tidak dapat maju dan akan tetap terpenjara di dalam “topeng gengsi” Anda sendiri. Akuilah: Saya manusia berdosa, dan butuh Yesus, Sang Juruselamat.
2# Persekutuan itu memiliki rasa saling memiliki [kebersamaan].
Kebersamaan adalah seni memberi dan menerima. “Cara Allah merancang tubuh kita adalah sebuah model untuk kita memahami kehidupan kita bersama sebagai Gereja: setiap bagian bergantung pada bagian yang lain. Jika suatu bagian terluka, bagian lainnya juga merasa terluka, begitu pula sebaliknya. Jika satu bagian berjalan baik, yang lainnya juga turut bersukacita.” (1Korintus 12: 25,  Msg)
Persekutuan membangun hubungan kasih yang harmonis, berbagi tanggung jawab, dan saling membantu. “Aku ingin agar kita saling menolong dengan iman yang kita miliki. Imanmu menolongku dan imanku menolongmu.” (bnd. Roma 1: 12) “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” (Roma 14:19)
3# Persekutuan itu memberi simpati
Kolose 3: 12 FAYH, “Karena Saudara telah dipilih Allah, yang memberi hidup baru itu, dan karena kasih dan perhatian-Nya yang mendalam pada Saudara, maka Saudara harus bersikap ramah, kasih, dan lemah lembut kepada orang lain. Jangan hanya ingin memberi kesan yang baik kepada mereka, tetapi bersedialah menanggung penderitaan dengan tenang dan sabar.” GWT, “As holy people whom God has chosen and loved, be sympathetic, kind, humble, gentle, and patient.” [Sebagai umat kudus yang dipilih dan dikasihiNya, jadilah penuh simpati, baik, rendah hati, lemah lembut, dan sabar.”
Simpati yang dimaksud di sini agak berbeda. Simpati menurut bahasa Alkitab adalah masuk dan turut merasakan penderitaan orang lain. Simpati merupakan kesanggupan untuk masuk, memahami, dan berbagi akan perasaan orang lain. Simpati juga termasuk kerinduan yang timbul untuk menolong orang tersebut. Jadi, simpati sangat komplit, meliputi identifikasi, pemahaman, dan penyelesaian masalah.
Simpati memenuhi 2 kebutuhan dasar manusia: kebutuhan untuk dipahami dan kebutuhan untuk diterima. Persekutuan terjadi saat Anda memberi waktu Anda untuk mendengarkan perasaan seseorang, menghargai, menerima, dan menghibur orang itu sesuai Injil Yesus Kristus. Kita sulit bersimpati kepada orang lain, mungkin karena kita sendiri memiliki luka2 batin. Kita terlalu sibuk mengurus kepentingan sendiri dan terikat pada egoisme tragis.
Persekutuan dapat dibagi menjadi 3 tingkat. Tingkat 1: persekutuan untuk berbagi pengalaman dan untuk mempelajari Firman Tuhan secara bersama-sama. Tingkat 2: persekutuan untuk bersama-sama melayani [dalam ibadah/misi penginjilan/aksi sosial] Tingkat 3: persekutuan dalam penderitaan. Mungkin kata ini tidak begitu kedengaran nyaman di tengah Anda^^. Ya, Alkitab dengan jujur menyatakan ada waktu2 yg sulit yang akan kita hadapi [penderitaan]. Namun, ini adalah sebuah proses yang dikehendaki Allah untuk membangun iman, mengajar, dan membawaAnda kepada tingkat kedewasaan rohani yang lebih tinggi lagi. Ingat: Allah menyediakan hal2 yang mendatangkan sukacita jauh lebih banyak daripada hal2 yang menimbulkan dukacita! Pada tingkat inilah, ketulusan dan kesetiaan tiap kita diuji. Kita perlu untuk bersimpati kepada orang lain: masuk dan menolong. Pada masa krisis, kesulitan, dan keraguan inilah, kita paling merasakan kebutuhan akan orang lain yg perduli akan kesulitan kita. Saat iman mulai melemah, kita sangat butuh teman2 seiman untuk membawa kita menuju jalan keluar yang benar. Ketika kita mulai menyimpang dari jalur, kita perlu teguran, nasihat, dan rangkulan untuk kembali ke jalur. Di dalam persekutuan yg sejati, Anda melihat tangan Allah bekerja melalui umatNya!
4# Persekutuan itu memiliki kasih sejati
“Hendaknya kamu mengampuni dan menguatkan seseorang yg bersalah itu, agar ia tidak menyerah dalam keputusasaan.” (2 Korintus 2: 7, CEV) Kita semua manusia berdosa, karena itu kita butuh Kasih sejati untuk masuk di dalam persekutuan sejati. Persekutuan yang benar, memberi pengampunan atas keburukan kita. Di dalam persekutuan Alkitabiah, Anda tidak akan dihujani dengan cemooh. Anda diampuni dan diterima sebagai saudar/i dalam Kaish Kristus.
Namun ketika persekutuan berjalan untuk sekian lama, akan sampai waktunya untuk terjadi konflik. Karena kita adalah manusia yg tidak sempurna adalah logis jika kita dapat berbuat kesalahan. Terkadang kita saling melukai satu sama lain, entah sengaja atau tidak. Tetapi, dibutuhkan banyak belas kasihan untuk memelihara kelangsungan persekutuan. Anda tidak boleh menyimpan dendam, Anda harus memberi pengampunan.
Kolose 3: 13 ITB, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” BIS, “Kalian harus sabar satu sama lain, dan saling mengampuni kalau ada yang menaruh dendam terhadap yang lain. Tuhan dengan senang hati mengampuni kalian, jadi kalian pun harus mau mengampuni satu sama lain.” FAYH, “Hendaklah Saudara lemah lembut dan bersedia memaafkan; janganlah menaruh dendam. Ingatlah, Tuhan telah mengampuni Saudara, maka hendaklah Saudara mengampuni orang lain.”
Belas kasihan Allah kepada kita adalah motivasi terkuat untuk menunjukkan belas kasihan kita kepada orang lain. Hitung berapa banyak kesalahan Anda kepada Allah dan sesama dan hitung berapa banyak kesalahan orang lain kepada Anda. Camkan: Allah lebih banyak berkorban untuk mengampuni Anda! Jangan menjadi orang yang perhitungan, karena itu adalah kedurhakaan [tidak sadar akan belas kasihan Allah pada kita]. Kapanpun hati Anda dilukai seseorang, Anda dihadapkan pada pilihan2 : akankah saya menggunakan tenaga dan emosi saya untuk membalas dendam dengan membabi buta atau menyelesaikan permasalahan dengan bijak.
Pengampunan haruslah segera, entah orang itu meminta atau tidak. Mengampuni tidak sama dengan mempercayai orang itu kembali. Mengampuni ialah melepaskan masa lalu, sedangkan mempercayai kembali ialah membangun masa depan yg baru. Kepercayaan harus dibangun kembali seiring dengan waktu. Anda diminta untuk mengampuni bukan untuk mempercayai segera. Orang itu harus menyadari kesalahannya dan mau dan berupaya untuk berubah menjadi lebih baik. Tempat terbaik untuk memulihan rasa saling percaya adalah persekutuan sejati. Ada pengampunan dari Anda dan perubahan dari dia. Ada keterbukaan dari Anda dan tindakanpositif dari dia. Di sini, segala sesuatunya menjadi baru dan indah kembali. Tapi bagaimana jika orang itu tidak berubah? Anda tetap harus mengampuni. Ingatkanlah dia akan kesalahannya. Bawa dia dalam doa2 Anda. Anda perlu berdoa untuk pertobatan musuh2 Anda, sebagaimana yg Yesus ajarkan.
Selama kira2 2000 tahun, orang2 Kristen telah berkumpul secara tetap dalam kelompok2 kecil untuk bersekutu. Jika Anda belum pernah menjadi bagian dari suatu kelompok atau kelas seperti ini, Anda benar2 tidak tahu apa yang telah Anda lewatkan. Anda perlu untuk rindu untuk mengalami kedalaman, kebersamaan, simpati, dan belas kasihan dalam persekutuan sejati. Anda diciptakan untuk bersekutu dalam perkumpulan umat Allah.
Hari Ke - 18
Tujuan #2: Anda dibentuk untuk keluarga Allah
Renungkanlah : Saya membutuhkan orang lain dalam kehidupan saya.
Alangkah baiknya dan senangnya, kalau umat Allah hidup rukun! (Mazmur 133:1, BIS)
Apa yang harus saya lakukan untuk memiliki persekutuan yang sejati dari hati ke hati dalam Kristus ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)