Mengembangkan Komunitas
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalampersekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. (Kisah 2: 42)
Komunitas membutuhkan komitmen.
Hanya Tuhan yang bisa menciptakan persekutuan yang seseungguhnya di antara orang2 percaya, namun Dia turut melibatkan pilihan dan komitmen yang kita buat. “Kamu dipersatukan dengan damai sejahtra melalui Roh Tuhan, karena itu lakukanlah segala upaya untuk terus bersama seperti ini.” (Efes 4: 3 NCV) Untuk mewujudkan komunitas Kristen yang penuh kasih, dibutuhkan baik campur tangan Allah maupun usaha kita. Tuhan ingin melibatkan kita!
“Semuanya itu kutuliskan kepadamu, sehingga sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3: 14-15)
Jika Anda letih dengan persekutuan yang palsu dan Anda ingin memiliki persekutuan yang sejati dan penuh kasih, Anda perlu membuat beberapa keputusan sulit dan berhadapan dengan beberapa risiko.
Mungkin kita lebih memilih diam, ketika salah seorang dari saudara seiman kita sedang tinggal dalam gaya hidup berdosa. Ini bukan sesuatu yang benar! “Sebaliknya kita harus menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih, sehingga dalam segala hal kita makin lama makin menjadi sempurna seperti Kristus.” (Ef 4: 15, BIS)
Seringkali kita tahu apa yang perlu dikatakan kepada seseorang, tapi rasa takut kita menghalangi kita untuk mengatakan apapun. Banyak persekutuan disabotase oleh rasa takut: tidak seorangpun berani berbicara terus terang di dalam kelompok ketika kehidupan seseorang berada dalam dosa. “Jawaban yang jujur adalah tanda persahabatan yang sejati.” (Ams 24: 26, TEV) Artinya ketika ada yang berbuat salah, kita harus perduli dan dengan penuh kasih menegur/mengingatkannya.
“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” (Gal 6: 1)
Banyak persekutuan atau gereja tetap dangkal, karena mereka takut akan konflik. Bila muncul masalah yg bisa menyebabkan ketegangan atau ketidak nyamanan, dengan segera masalah itu disembunyikan “demi kepentingan bersama”. Ini bukan hal yang benar! Masalah yang tidak diselesaikan ibarat luka yang dibiarkan untuk makin memburuk. Masalah yg “dianggap telah berlalu” sebenarnya mengakibatkan rasa frustasi tersembunyi. Kita perlu untuk membicarakannya secara jujur dan terbuka. Jangan biarkan gosip berkembang yang malah semakin memperburuk keadaan.
“Jangan ada lagi dusta, jangan ada lagi kepura-puraan! Katakan yang sebenarnya kepada sesamamu. Dalam Tubuh Kristus kita dihubungkan satu sama lain. Jadi, saat kamu berbohong pada orang lain, kamu juga sedang menipu dirimu sendiri.” (Ef 4: 25, Msg)
Persekutuan sejati sangat membutuhkan keterus-terangan. Sesungguhnya, tanpa konflik kita tidak akan pernah mengenal satu sama lain; tanpa konflik, hubungan kita tidak akan pernah akrab. Justru, ketika Anda menemui konflik, dan Anda perduli dan berani untuk menyingkirkan segala halangan yang ada untuk kelangsungan hubungan Anda, maka di sanalah terbukti keseriusan dan tekad Anda untuk membangun hubungan yang akrab. Saat konflik diselesaikan dengan benar, kita semakin akrab satu sama lain. Melalui konflik, Anda diproses untuk menghargai perbedaan2 yang ada. Perbedaan adalah kekayaan di antara kita! Tentu perbedaan yang masih di dalam koridor perizinan Tuhan.
“Akhirnya, orang2 jauh lebih menghargai keterus-terangan [teguran yang jujur] dari pada sanjungan belaka.” (Ams 28: 23, NLT)
Keterus-terangan bukan berarti Anda bebas mengatakan apapun yang Anda inginkan, dimana saja atau kapan saja Anda mau. Keterus-terangan bukan kekasaran! Alkitab mengajar kita bahwa ada waktu yang tepat dan cara yg tepat untuk melakukan segala sesuatu. Kata2 yang “asal ucap” tanpa pertimbangan akan menimbulkan luka hati. Berbicaralah dengan kasih, bukan dengan kebencian.
“Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian.” (1 Tim 5: 1-2)
Sayangnya banyak persekutuan telah hancur karena kurang kejujuran.
Rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang bersikap diam saja, terhadap kebiasaan berdosa di tengah2 mereka. (1 Kor 5: 1-8) Berikut ini terjemahan The Message (3-8): “Kamu jangan pura2 tidak melihat dan berharap hal itu [kedursilaan/kebiasaan dosa] akan hilang dengan sendirinya. Bahas masalah ini secara terbuka dan selesaikan dengan campur tangan Tuhan. Arahkan orang ini kepada jalan yang benar. Jika ia sendiri tidak mampu, tolonglah ia keluar dari kebiasaan dosa itu. Mungkin ia merasa malu atau segan. Tapi ingatlah: Rasa malu lebih baik daripada hukuman kekal!
Jangan menjadi sombong dan menutup mata! Kamu melihat hal ini hanya sekadar masalah kecil, yang tak perlu diperhatikan. Ragi juga adalah “benda kecil”, namun ragi bekerja mengembangkan seluruh adonan roti. Masalah ini juga seperti ragi yang jahat. Ketika kamu membiarkannya, ‘masalah kecil’ ini akan mengembang menjadi semakin besar. Jangan menganggap remeh ‘masalah kecil’ ini.
Jangan bertindak seolah-olah segala sesuatunya baik2 saja, padahal salah seorang sesama Kristen dari antaramu, hidup tidak teratur atau tidak jujur, memberontak terhadap Allah dan bersikap kasar terhadap sesama, mabuk atau menjadi liar/ganas. Kamu tidak bisa begitu saja menyetujui hal ini atau menerima ini sebagai perilaku yang wajar. Kamu tidak boleh membiarkan hal ini terjadi begitu saja.”
Sikap mementingkan diri sendiri (egosentris) dan kesombongan menghancurkan persekutuan dengan amat cepat. Keangkungan membuat jurang pemisah yang amat dalam di antara orang2, tetapi kerendahan hati membangun jembatan penghubung. 1 Petrus 5:5 berbunyi : Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’ Ingat: Bersikap rendah hati adalah sikap yang amat mulia dalam membangun persekutuan.
Mengapa kita perlu rendah hati? Karena keangkuhan menghalangi Kasih karunia Allah dalam hidup kita. Kita hanya dapat menerima kasih karunia Allah, dengan mengakui secara rendah hati, bahwa kita membutuhkan Allah. Sombong berarti melawan Allah. Dan Anda pasti sudah tahu apa akibatnya ketika ciptaan yang kecil melawan Sang Pencipta yang maha besar.
Bagaimana caranya menjadi rendah hati? Dengan mengakui kelemahan2 Anda, dengan bersabar terhadap kelemahan2 orang lain, dengan terbuka terhadap koreksi, dengan tidak egosentris, dengan perduli akan kebutuhan orang lain. “Hiduplah rukun satu sama lain. Janganlah bersikap tinggi hati, tetapi sesuaikanlah dirimu dengan orang yang rendah kedudukannya. Jangan menganggap diri lebih pandai daripada yang sebenarnya.” (Roma 12:16)
“Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Flp 2: 3-4)
Kerendahan hati bukan berarti menganggap diri rendah dan tidak punya masa depan yang baik. Kerendahan hati ialah memusatkan perhatian untuk melayani dan membantu orang2 yang membutuhkan bantuan, bukan terus menerus memikirkan kepentingan diri sendiri. Alkitab mengajarkan bahwa: Siapa yang mau menjadi besar, baiklah dia menjadi kecil. Artinya siapa yg mau dihargai dan dihormati (menjadi besar), ia harus mau melayani orang lain dengan rendah hati (menjadi kecil).
Titus 3:2, Msg: “Umat Allah hendaklah bersikap lembah lembut dan sopan santun.” Sikap hormat ialah menghargai perbedaan2 di antara kita, memperhatikan perasaan sesama, dan bersabar terhadap orang2 yg menjengkelkan kita. “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangun-[iman]-nya.” (Roma 15: 2) Terjemahan FAYH: “Marilah kita menyenangkan hati orang lain, bukan hati kita sendiri, dan melakukan apa yang baik baginya dan yang akan membangun dia dalam Tuhan.”
Di dalam setiap gereja atau persekutuan pasti ada orang yang “sulit”. Mereka mungkin punya sifat yang menjengkelkan, keterampilan sosial yg kurang, atau rasa tidak aman yg mendalam. Allah menempatkan orang2 demikian di tengah2 kita untuk kebaikan kita maupun untuk kebaikan mereka. Mereka adalah suatu kesempatan untuk bertumbuh dan ujian persekutuan: Akankah kita tetap mengasihi mereka sebagai saudara dan memperlakukan mereka dengan penuh martabat?
Dalam suatu keluarga yg sehat, penerimaan tidak didasarkan pada seberapa pintar atau berbakatnya Anda. Penerimaan didasarkan pada kenyataan bahwa kita saling memiliki. Salah seorang anggota keluarga kita mungkin agak bodoh, tapi ia tetaplah bagian dari kita.
Kenyataannya, tiap kita punya sifat atau kebiasaan tertentu yang menjengkelkan orang lain. Ini bukan alasan untuk tidak bersekutu! Alasan persekutuan kita ialah hubungan kita dengan Allah: Kita adalah satu keluarga dalam Tuhan.
Kita dapat menunjukkan rasa hormat dengan memahami latar belakang seseorang. Dengan mengetahui apa yang telah mereka alami, mungkin Anda akan lebih paham mengapa mereka memiliki kepribadian seperti itu. Pikirkanlah tentang seberapa jauh mereka telah datang, sekalipun mereka terluka.
Sikap hormat juga tidak menghina kecemasan atau kelemahan orang lain. Komunitas yang sejati terjadi ketika orang-orang mengetahui bahwa cukup aman untuk menyampaikan kecemasan dan fobia mereka tanpa dihakimi ataupun direndahkan karenanya.
Hanya dalam lingkungan yang “aman” dimana ada rasa penerimaan yang hangat dan sikap yang dapat dipercaya, orang-orang akan berterus terang akan berbagai luka hati, kegagalan, dan kelemahan mereka - Tidak perlu pakai topeng! Sikap dapat memegang rahasia BUKAN berarti tetap diam tatkala kita mengetahui orang lain tengah berbuat dosa. Sikap dapat memegang rahasia berarti apa yang disampaikan di dalam kelompok Anda harus hanya untuk kelompok Anda, dan kelompok tersebut harus menanggulanginya, bukan menggosipkannya dengan orang lain.
Amsal 16: 28, TEV : “Pembuat masalah memulai perkelahian; gossip menghancurkan persahabatan.” Gossip menyebabkan sakit hati dan perpecahan serta menghancurkan persekutuan. Para penggosip ini akan marah ketika ditegur atau bahkan meninggalkan persekutuan. Tetapi persekutuan gereja lebih penting daripada individu manapun. Gereja menerima orang sesulit apapun untuk diproses menjadi orang yang lebih baik, BUKAN tempat menularkan kebiasaan yang merusak.
Anda harus memiliki kontak yang sering dan tetap dengan kelompok Anda untuk membangun persekutuan yang murni. Hubungan memerlukan waktu. “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10: 25)
Kita perlu mengembangkan suatu kebiasaan mengikuti pertemuuan ibadah, dan kebiasaan itu sering, bukan kadang-kadang. Anda perlu menyediakan banyak waktu untuk persekutuan yang mendalam dan saling membangun. Kini banyak persekutuan di gereja sangat dangkal. Hal ini karena jemaat tidak menggunakan cukup waktu untuk bersama-sama, hanya sebatas mendengarkan satu orang berbicara saja. Ibadah tiap hari minggu penting, tapi untuk persekutuan yang berkualitas, Anda butuh lebih dari satu kali pertemuan tiap minggu.
Komunitas bukan dibangun di atas kondisi mood Anda (=aku akan ikut berkumpul, jika aku merasa ingin berkumpul), tetapi atas dasar keyakinan bahwa saya membutuhkannya untuk kesehatan rohani. Jika Anda ingin memiliki persekutuan yang sejati, Anda tetap akan mengikuti ibadah dan persekutuan, meskipun Anda merasa malas untuk mengikutinya, karena Anda percaya itu penting. Jemaat Kristen mula-mula berkumpul tiap hari. “Setiap hari mereka bersama-sama berbakti di dalam Bait Allah. Mereka bersekutu dalam kelompok-kelompok kecil di rumah-rumah mereka serta mengadakan Perjamuan Tuhan dan makan bersama-sama dengan penuh sukacita serta rasa syukur,” (Kis. 2:46 FAYH)
Jika Anda terlibat dalam sebuah kelompok kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama, akan sangat berfaedah jika membuat perjanjian kelompok yang memuat 9 karakteristik persekutuan yg Alkitabiah: saling jujur dan terbuka, rasa kebersamaan, saling mendukung, saling mengampuni, saling mengingatkan, rendah hati, sikap hormat, tidak bergosip, dan frekuensi.
Ketika kita melihat daftar karakteristik itu, kelihatan jelas betapa jarangnya persekutuan yang sejati, tetapi bukan mustahil! Persekutuan sejati berarti kita membuang sikap mementingkan diri sendiri (egosentris) dan sikap sesuka hati. Tetapi ingat: keuntungan dari berbagi dalam hidup persekutuan bersama, jauh lebih banyak, daripada apa yang harus kita korbankan.
Hari Ke - 19
Tujuan Kedua : Anda dibentuk untuk keluarga Allah
Renungkanlah :
Komunitas membutuhkan Komitmen.
Saya bertekad mengembangkan karakteristik persekutuan yang Alkitabiah mulai dari diri saya sendiri dan tentunya juga bersama-sama dengan persekutuan dan gereja saya, dalam campur tangan Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)