Apa yang Menggerakkan Kehidupan Anda ?
Kemudian aku melihat bahwa pada dasarnya
segala jerih payah dan keberhasilan orang didorong oleh perasaan iri hatinya.
Tetapi ini pun tidak ada gunanya, sama seperti mengejar-ngejar angin belaka.
Pengkhotbah 4: 4 (FAYH)
Manusia tanpa suatu tujuan adalah ibarat
sebuah kapal tanpa kemudi – anak terlantar, hal sia-sia, dan bukan siapa-siapa.
Thomas Carlyle
Kehidupan setiap orang digerakkan oleh sesuatu.
Banyak kamus mendefinisikan kata kerja “menggerakkan” sebagai “mengarahkan, mengendalikan, atau membimbing”. Ketika Anda sedang menggerakkan suatu benda, itu berarti Anda sedang mengarahkan atau membimbing benda itu menuju sesuatu. Anda menjadi daya penggerak atau penyebab benda tersebut bergerak. Lalu, apakah yang menjadi “daya penggerak” kehidupan Anda ?
Mungkin sekarang Anda sedang digerakkan oleh suatu masalah atau suatu tekanan. Anda mungkin juga digerakkan oleh ingatan yang menyakitkan, ketakutan yang menghantui, atau keyakinan yang tak disadari. Ada begitu banyak keadaan, nilai, atau emosi yang dapat mengerakkan hidup Anda. Berikut lima penggerak yang paling umum.
1.Digerakkan oleh “rasa bersalah”
2.Digerakkan oleh “kebencian dan kemarahan”
3.Digerakkan oleh “rasa takut”
4.Digerakkanbn oleh “materialisme”
5.Digerakkan oleh “kebutuhan akan suatu pengakuan”
Pertama: Rasa Bersalah. Tipe orang demikian menhabiskan seluruh hidup mereka dengan menyembunyikan rasa malu mereka dan membiarkan diri terus dikejar-kejar oleh rasa bersalah dan penyesalan tiada henti yang tragis. Mereka dimanipulasi oleh ingatan-ingatan masa lalu. Mereka terjebak dalam masa lalu mereka. Mereka membiarkan “masa depan” mereka dirusakkan oleh “masa lalu” mereka. Mereka sering kali tidak sadar bahwa mereka sedang menghukum diri sendiri dengan masa lalu mereka. Ketika Kain berdosa, rasa bersalahnya memisahkan diri dari hadirat Allah. Lalu, Allah berfirman, “engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.” (Kejadian 4: 12b) Hal ini menggambarkan sebagian besar orang-orang, mereka terus menjalani sebuah hidup tanpa tujuan.
Kita adalah produk dari masa lalu kita, tetapi kita tidak perlu menjadi tahanan atau tawanan dari masa lalu kita. Tujuan Allah tidak pernah dapat dibatasi oleh masa lalu Anda, seberapa burukpun Anda. Alkitab mencatat seseorang yang bukan siapa-siapa, yakni Daud, seorang pemuda yang menggembalakan kambing domba, menjadi seorang yang berhasil mengalahkan Goliat, prajurit Filistin yang raksasa, bahkan menjadi seorang raja! Tokoh lain, seperti Saulus, seorang pembantai nyawa para pengikut Kristus, diubahkan menjadi Paulus, seorang pemberita Injil Yesus Kristus. Allah sanggup melakukan hal-hal yang ajaib pada hidup Anda. Ia amat ahli dalam mengubah orang-orang, seburuk apa pun. “Alangkah bahagianya orang-orang yang kesalahannya telah diampunkan! … Alangkah leganya hati orang yang telah mengakui dosa-dosanya dan Allah telah menghapus semua dosa itu.” (Mazmur 32:1, FAYH)
Ke dua: Kebencian dan Kemarahan. Tipe demikian menyimpan “kepahitan” dalam hati dan pikirannya dan tidak kunjung sembuh dari “penyakit” itu. Bukannya melepaskan “penyakit” itu dengan cara mengampuni orang yang bersalah itu, malahan terus menerus menggemakan kebencian itu berkali-kali dalam pikirannya. Sebagian orang yang digerakkan dendam, bersikap “bungkam” dan menyimpan sendiri “kebencian” mereka dengan rapi di hati mereka. Sebagian lagi bersikap “amat marah” dan mencetuskan kemarahannya kepada orang lain. Kedua sikap itu sama sekali tidak sehat, tidak berguna, dan semakin memperburuk keadaan.
Kebencian selalu lebih melukai Anda ketimbang orang yang Anda benci. Sementara orang yang menyakiti Anda mungkin telah melupakan perbuatan mereka dan melanjutkan hidup mereka sendiri. Sedangkan Anda terus saja dipenuhi penderitaan akibat “kebencian” itu. Jangan mengabadikan “dendam” atau “kebencian” di dalam hidup Anda. Itu sama sekali tidak menguntungkan Anda!
Perhatikanlah! Orang yang melukai Anda pada masa lalu tidak mungkin dapat terus-menerus melukai Anda sekarang, kecuali jika Anda terus mempertahankan rasa sakit itu melalui dendam alias kebencian. Masa lalu Anda adalah masa lalu! Tak ada yang dapat mengubahnya. Anda hanya terus menyiksa diri dengan “dendam” dan “kebencian” Anda. Belajarlah dari masa lalu dan janganlah mengingat apa yang tidak perlu diingat! Ayub 5:2 berbunyi, “Hanyalah orang yang bodoh saja yang mati sebab sakit hatinya.”
Ke tiga: Rasa Takut. Ketakutan mereka umumnya dihasilkan dari pengalaman-pengalaman traumatis, bertumbuh dalam keluarga dengan tekanan keras, atau kecenderungan natural. Tanpa memandang penyebabnya, orang-orang yang digerakkan ketakutan, seringkali kehilangan kesempatan-kesempatan besar, karena takut menanggung risiko. Mereka cari aman dan menghindari risiko serta memelihara “status quo” mereka (mempertahankan keadaan yang sudah ada).
Ketakutan adalah penjara yang dibangun diri sendiri. “Penjara” ini akan menghalangi Anda untuk menjadi apa yang Allah maksudkan bagi Anda. Anda harus dan wajib melawan ketakutan itu dengan iman dan kasih. Alkitab berkata dalam 1Yoh 4: 18, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”
Ke empat: Materialisme. Sasaran hidup mereka adalah “ambisi untuk memiliki”. Ada istilah keren yang merujuk kepada hal yang sama: “matre”. Mereka selalu ingin lebih dan lebih - dalam hal materi. Padahal ini deisebabkan oleh kesalahpahaman bahwa mereka pikir dengan “memiliki lebih banyak”, akan membuat mereka lebih aman, lebih populer, dan lebih bahagia – kenyataannya mereka keliru besar! Segala materi yang mereka miliki hanya memberi kebahagiaan sementara – semu dan tidak abadi. Dengan apa yang sudah kita miliki, lama kelamaan bosan dan selalu menginginkan barang-barang yang lebih baru, lebih mewah, dan lebih banyak lagi. Ini semua sama sekali tidak abadi.
Ke lima : Kebutuhan akan pengakuan. Orang tipe demikian mebiarkan harapan-harapan orang tua, pasangan, guru, atau teman mereka mengendalikan hidup mereka. Banyak orang terus berusaha mendapat “pengakuan” atau “penerimaan” dari orang tua yang tampaknya tidak pernah bisa disenangkan. Yang lain digerakkan oleh teman sebaya, selalu khawatir dengan “image” atau “pendapat” orang lain mengenai mereka.
Rick Warren berkata, “Saya tidak mengetahui semua kunci menuju keberhasilan, tetapi salah satu kunci menuju kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang (berupaya mengikuti semua saran dan pendapat orang lain mengenai kita). Dikendalikan oleh pendapat orang lain adalah cara yang pasti untuk kehilangan tujuan-tujuan Allah bagi kehidupan Anda.”
Yesus berkata, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain." (Matius 6:24a) Ada banyak “daya penggerak” lain yang dapat menggerakkan hidup Anda. Akan tetapi, semuanya hanya berujung kepada jalan buntu: potensi yang tak digunakan dengan efektif, rasa tertekan yang sebenarnya tidak perlu, dan hidup tanpa kebahagiaan sejati.
Perjalanan 40 hari ini akan menunjukkan bagaimana menjalani suatu kehidupan yang memiliki Tujuan – suatu hidup yang dibimbing, dikendalikan, dan diarahkan oleh Tujuan-Tujuan Allah. Tidak ada hal yang lebih penting daripada mengetahui Tujuan Allah bagi hidup Anda, dan tak ada yang bisa menggantikan kerugiannya, jika Anda tidak mengetahui Maksud dan Rencana Allah bagi Anda, entah itu sukses duniawi, popularitas, kesenangan semu, maupun harta yang fana. Tanpa suatu tujuan, hidup bagai gerakan tanpa makna, aktivitas tanpa arah, kegiatan tanpa kegunaan. Tanpa suatu tujuan yang jelas, hidup sama sekali tidak berarti.
Pertama : Mengenali tujuan Anda, memberi makna bagi hidup Anda.
Seorang pemuda pernah menulis, “Saya merasa gagal, karena saya berjuang untuk menjadi ‘sesuatu’, dan saya sendiri tidak mengetahui apa ‘sesuatu’ itu. Satu-satunya cara bertindak yang saya ketahui adalah bertahan. Suatu hari, jika saya menemukan tujuan hidup saya, saya akan merasa ‘mulai hidup’.”
Tanpa Allah, hidup tidak punya Tujuan yang Benar. Tanpa tujuan yang benar, hidup tidak memiliki Makna yang Berharga. Tanpa makna yang berharga, kehidupan tidaklah berarti – tanpa harapan. Alkitab memberikan beberapa contoh keputus-asaan ini. Ayub berseru, “Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja.” (Ayub 7: 16) dan “Hari-hari hidupku meluncur dengan cepatnya, habis tanpa harapan.” (Ayub 7:6) Yesaya berkata, “Tetapi aku berkata: Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna." (Yes 49: 4a) Tragedi terbesar bukanlah kematian, melainkan hidup tanpa tujuan yang benar.
Harapan sama pentingnya seperti air dan udara bagi hidup Anda. Anda butuh harapan untuk dapat bertahan hidup. Dr. Bernie Siegel menyimpulkan pasien kanker dengan “keinginan besar untuk hidup” memiliki kemungkinan sembuh lebih besar daripada pasien yang “kehilangan harapan – putus asa”. Harapan muncul karena ada Tujuan yang benar. Sebuah mutiara kata yang amat saya sukai adalah: “A healthy person has hope and a hopeful person has everything.” Artinya: “Seseorang yang sehat adalah seseorang yang memiliki Harapan dan Seseorang yang Penuh Harapan memiliki Segala-galanya.”
Jika Anda sekarang tengah putus aSa, bertahanlah! Perubahan-perubahan yang mengagumkan akan terjadi dalam hidup Anda, ketika Anda mulai menjalani Hidup yang Bertujuan! Allah berfirman, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29: 11) Anda mungkin merasa tengah berhadapan dengan kondidi yang mustahil untuk diselesaikan, tetapi Alkitab berkata, “Segala kemuliaan bagi Allah. Dengan kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita, Ia dapat melakukan jauh lebih banyak hal daripada yang berani kita bayangkan -- sama sekali melebihi segala doa, keinginan, pikiran, dan pengharapan kita.” (Efesus 3: 20)
Ke dua : Mengenali tujuan Anda, membentuk Skala Prioritas dalam hidup Anda.
Tujuan hidup Anda menjadi patokan untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan mana yang penting dan mana yang tidak (skala prioritas). Anda akan bertanya, “Apakah kegiatan ini membantu saya memenuhi salah satu dari tujuan Allah bagi kehidupan saya?” Tanpa tujuan yang jelas, Anda tidak memiliki dasar/pedoman untuk mengambil keputusan, membagi waktu, dan menggunakan kemampuan-kemampuan Anda. Anda akan cenderung mengambil keputusan berdasarkan suasana hati (mood), tekanan, atau situasi saat itu – tanpa berpikir masak-masak dahulu.
Anda tidak dapat melakukan semua hal yang orang lain ingin Anda lakukan. Anda hanya punya cukup waktu untuk melakukan Kehendak Allah. Hidup yang memiliki tujuan membawa pada gaya hidup yang lebih sederhana dan jadwal yang lebih terkendali. “Kehidupan yang mewah dan suka pamer adalah kehidupan yang kosong, kehidupan yang wajar dan sederhana adalah hidup yang penuh.” (Bnd. Amsal 13: 7) Kehidupan yang bertujuan benar juga membawa kepada ketenangan pikiran. “Engkau, TUHAN, memberikan damai sejahtra yang sempurna kepada orang-orang yang mengikuti dengan teguh tujuanMu untuk mereka dan kepada yang menaruh kepercayaan mereka kepadaMu.” (Bnd. Yesaya 26: 3)
Ke tiga : Mengenali tujuan Anda, membentuk fokus kehidupan Anda,
Tujuan hidup akan memusatkan usaha dan perhatian Anda pada hal yang penting. Tanpa tujuan yang jelas, Anda akan terus mengubah arah, pekerjaan, hubungan, gereja, atau lingkungan – dengan berharap bahwa setiap perubahan akan menghentikan kebingungan atau mengisi kekosongan dalam hati Anda. Anda berpikir, mungkin sekarang akan berbeda, tetapi itu tidak menyelesaikan masalah Anda yang sesungguhnya, yakni kurangnya fokus dan tujuan. “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (Efesus 5:17)
Kekuatan karena memiliki fokus adalah ibarat cahaya. Cahaya yang menyebar memiliki sedikit kuasa atau dampak, tetapi Anda bisa memusatkan energinya dengan memfokuskannya. Dengan kaca pembesar, cahaya matahari dapat difokuskan untuk membakar rumput atau kertas. Demikian juga halnya, kekuatan dari kehidupan yang terfokus, yakni hidup yang dijalani berdasarkan tujuan, begitu luar biasa.
Tokoh-tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah adalah orang-orang yang sangat terfokus. Salah satunya Rasul Paulus yang begitu gigih memberitakan Injil di seluruh Kekaisaran Romawi, meskipun harus berhadapan dengan ancaman maut tiap saat. Paulus berkata, “Aku memfokuskan seluruh tenagaku pada satu hal ini: Melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri pada apa yang ada di hadapanku.” Fokuskanlah hidup Anda pada tujuan yang benar. Berhentilah bermain-main. Berhentilah mencoba melakukan segala hal. Kurangi kegiatan-kegiatan Anda yang tidak penting. Lakukanlah apa yang berguna dan penting. Anda bisa sibuk dengan berbagai hal tanpa tujuan, tapi apa gunanya? Paulus berkata, “Marilah kita tetap fokus pada sasaran itu, kita yang ingin mencapai segala sesuatu yang telah Allah sediakan bagi kita.” (Bnd. Filipi 3: 13-14)
Ke empat : Mengenali tujuan Anda, membentuk motivasi hidup Anda.
Tujuan selalu membangkitkan keinginan yang kuat. Sebaliknya, keinginan yang kuat memudar, ketika tidak memiliki tujuan yang jelas.
“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” (1 Korintus 9:26)
“karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,” (Filipi 2:2)
Ke lima : Mengenali tujuan Anda, mempersiapkan Anda menuju kekekalan.
Banyak orang berupaya memperoleh harta tanpa akhir di bumi – kekayaan materi yang begitu besar. Mereka ingin dikenang ketika meninggal. Namun, apa yang paling penting adalah apa yang Allah katakan mengenai hidup Anda, bukan apa yang dikatakan orang lain. Hidup mengumpulkan harta dunia adalah sasaran yang dangkal. Adalah lebih bijaksana kalau orang menggunakan hidupnya untuk mengumpulkan harta kekal. Yesus Kristus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6: 19-21)
Anda ditempatkan di bumi BUKAN untuk diingat. Anda ditempatkan di sini untuk bersiap-siap menghadapi kekekalan. Suatu hari, Anda akan berdiri di hadapan Allah, dan Dia akan memeriksa kehidupan Anda, suatu ujian akhir sebelum memasuki kekekalan. Alkitab berkata dalam Roma 14: 10b, 12; “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Dari Alkitab, kita bisa menyimpulkan bahwa Allah akan menanyai kita dengan 2 pertanyaan penting :
Pertama, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap Anak-Ku, Yesus Kristus ?” Allah tidak akan bertanya tentang latar belakang agama atau pandangan doktrin Anda. Satu-satunya hal yang penting ialah Apakah Anda menerima apa yang Yesus Kristus telah kerjakan di kayu salib bagi Anda. Dan apakah Anda belajar untuk mengasihi dan menuruti Dia? Yesus Kristus adalah Satu-satunya Tokoh yang pernah berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
Kedua, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah Aku berikan kepadamu ?” Apa yang telah Anda lakukan dengan hidup Anda, yakni semua karunia, talenta, kesempatan, energi, hubungan, dan kekayaan yang telah Allah berikan kepada Anda ? Apakah Anda mempergunakannya bagi kepentingan diri Anda sendiri, ataukah Anda mempergunakannya bagi tujuan-tujuan Allah menciptakan Anda ?
Tujuan rangkaian tulisan ini bertujuan mempersiapkan Anda untuk menjawab kedua pertanyaan di atas. Jawaban dari pertanyaan pertama akan menentukan dimana Anda berada di dalam kekekalan. Jawaban dari pertanyaan ke dua akan menentukan apa yang Anda akan lakukan di dalam kekekalan. Pada akhir rangkaian tulisan ini, Anda akan siap untuk menjawab kedua pertanyaan itu.
Hari Ketiga
Berpikir Tentang Tujuan Saya
Renungkanlah : Hidup berdasarkan Tujuan yang Benar akan memberi manfaat yang luar biasa.
Menurut orang-orang di sekeliling saya, apakah yang menjadi “daya penggerak” kehidupan saya? Lalu, “daya penggerak” apa yang sebenarnya saya inginkan untuk kehidupan saya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)