Direncanakan Untuk Menyenangkan Allah
Engkau telah menciptakan segala sesuatu
dan semuanya itu ada dan diciptakan
untuk menyenangkan Mu.
(Bnd. Wahyu 4: 11)
Tuhan disenangkan oleh ketaatan umatNya.
(Bnd. Mazmur 149:4a)
Anda direncanakan untuk menyenangkan Allah.
Pada saat Anda dilahirkan ke dunia, Allah ada di sana sebagai saksi yang tak kelihatan. Ia tersenyum atas kelahiran Anda. Jikalau mengingat tentang Allah yang Maha Kaya dan Empunya atas segala sesuatu, seharusnya Allah tidak perlu menciptakan Anda. Namun karena Ia berinisiatif sendiri oleh Kasih dan KehendakNya , Ia menciptakan Anda untuk menyenangkanNya - mengabdikan diri seutuhnya kepada Dia, Sang Pencipta. Anda ada dan diciptakan untuk kepentinganNya, tujuanNya, dan untuk menyenangkan Dia.
Tujuan pertama hidup Anda ialah hidup untuk menyenangkan Allah. Jika Anda memahami kebenaran ini, Anda tidak akan khawatir lagi dengan masalah “merasa diri tidak berarti”. Allah menciptakan Anda sebagai ciptaan yang berharga. Anda penting dan berharga bagi Allah! Karena itu, Ia menghendaki Anda bersama-sama denganNya di dalam kekekalan. Sadarilah kebenaran ini: “Karena kasihNya, Allah telah memutuskan bahwa melalui Yesus Kristus, Dia akan mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya, inilah yang menyenangkan Dia.” (Bnd. Efesus 1: 5)
Anda dilengkapi oleh Allah dengan sistem syaraf, meliputi sel-sel syaraf (neuron), jaringan syaraf, dan panca indra. Dengan demikian, Anda dapat “merasakan” secara jasmaniah. Anda bisa merasakan lezatnya makanan, karena pada lidah Anda dilengkapi sel syaraf. Anda dapat mencium aroma yang wangi, karena pada hidung Anda dilengkapi sel syaraf. Anda dapat merasakan belaian lembut Ibunda saat kanak-kanak, karena pada kulit Anda dilengkapi sel syaraf. Setiap sel syaraf ini baru dapat memungkinkan kita “merasakan”, jika berinteraksi dalam suatu sistem syaraf. Anda dapat menikmati berbagai hal secara jasmaniah dengan sistem syaraf, tentunya untuk hal yang baik untuk dinikmati saja.
Allah juga melengkapi Anda dengan “emosi”. Tanpa emosi, Anda tidak dapat mengenal kasih. Tanpa emosi, Anda tidak lebih dari robot atau boneka belaka. Tanpa emosi, Anda tidak akan mengalami perasaan senang ataupun bahagia. Anda dilengkapi emosi (perasaan), untuk dapat merasakan berbagai hal secara rohaniah. Kita sendiri sering lupa bahwa Allah sendiri ternyata memiliki emosi atau perasaan! Ia tidak dapat mengasihi tanpa perasaan, Ia menyayangi Anda dengan segenap PerasaanNya. Ia memperdulikan Anda, karena Ia memiliki perasaan yang betapa mulia. Ia menghendaki Anda bahagia, karena Ia memiliki perasaan: Kasih, empati, dan peduli. Bahkan Ia sendiri adalah Kasih , Ia sungguh mengasihi Anda dengan segenap Diri dan HatiNya. Maukah Anda menerima Kasih yang sedemikian besar itu. Ia sungguh mengerti dan perduli akan hidup Anda. I Yohanes 4: 16 berbunyi, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”
Allah dan Anda memiliki emosi/perasaan. Tetapi perbedaannya ialah: manusia dapat hilang kontrol atau lepas kendali gara-gara tidak dapat mengendalikan emosi. Manusia dapat dikendalikan dan diperbudak oleh emosinya sendiri. Tetapi Allah tidak dapat diperbudak oleh apapun. Ia mengendalikan DiriNya dengan baik, sehingga Ia tidak akan pernah lepas kendali karena emosi yang mengendalikanNya. Ia berkuasa atas segala hal, termasuk emosiNya sendiri. Ia mengendalikan emosiNya dengan luar biasa. Tetapi manusia seringkali tidak dapat mengendalikan emosi, malahan dikendalikan oleh emosi.
Karena ALLAH memiliki perasaan (emosi), maka ada kemungkinan untuk membuat Dia merasa senang akan kita, ciptaanNya. Kita dapat menyenangkan hatiNya. Ya, kita dapat menyenangkan Tuhan, dengan hidup sebaik-baiknya bagi Dia!
Menyenangkan Allah disebut sebagai “penyembahan”
“Tuhan senang kepada orang yang-orang yang menyembah-Nya, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.” (Bnd. Mazmur 147: 11) Segala perbuatan Anda yang menyenangkan Allah merupakan tidakan penyembahan. Para ahli Antropologi (anthropus: manusia), melihat dan mengakui bahwa “penyembahan” merupakan suatu kebutuhan yang universal dan esensial. Disebut universal, karena Semua kebudayaan dan peradaban di seluruh dunia mengenal “aspek religi”, sektor kehidupan keagamaan. Disebut esensial, karena hal ini merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dan penting. Anda memiliki 2 kebutuhan untuk hidup, yakni kebutuhan jasmani (fisik) dan rohani (batin). Kebutuhan rohani adalah Suatu kebutuhan batin manusia untuk berhubungan dengan Tuhan, Sang Pencipta. Kerinduan untuk menyembah adalah sesuatu aspek yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Anda bisa saja berkata tidak melakukan “penyembahan”. Tetapi sadarilah dengan hati kecil dan hati nurani terdalam Anda, Anda sangat teramat ingin dan rindu untuk mengenal Siapa yang menciptakan Anda. Masih bersikeras? Jikalau Anda ateis, Anda “menyembah” diri sendiri, “meng-agung-agung-kan” akal/rasio Anda, dan “memuji-muji” kehebatan dan kelebihan diri sendiri – suatu egoisme yang amat tragis. Jikalau Anda materialistis, Anda “menyembah” uang dan “meng-agung-agung-kan” harta kekayaan material – suatu barang yang tidak abadi tidak akan pernah memberi bahagia sejati. Jikalau Anda hedonistis, Anda “menyembah” kepuasan diri sendiri dan “meng-agung-agung-kan” kenikmatan bagi diri sendiri – suatu egosime yang amat tragis. Anda pasti “menyembah” sesuatu, entah Anda sadari atau tidak. Anda selalu ingin menyembah “Sesuatu”, yang dapat melindungi, menjamin, dan membawa Anda pada kebahagiaan. Namun kebahagiaan sejati tidak dapat Anda temukan dimana pun jua, selain di dalam Diri Tuhan Allah, Penciptamu sendiri. Renungkanlah dengan jujur!
TUHAN menghendaki kita, ciptaanNya, untuk mengenal Dia. Anda dapat semakin mengenal Allah melalui penyembahan yang khusyuk dan hikmat kepada Allah yang benar. “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yohanes 4: 23) Allah menginginkan Anda untuk melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan, untuk memenuhi Tujuan Allah menciptakan Anda. Penyembahan adalah untuk menyenangkan Allah yang begitu mengasihi Anda bahkan lebih daripada Anda mengasihi Dia!
Amat bergantung akan pengetahuan dan pemahaman religius Anda, jika berbicara tentang “penyembahan”. Mungkin Anda berpikir “penyembahan” itu pergi ke gereja, bernyanyi, upacara, perjamuan, mukjizat, atau pengalaman rohani. Tetapi “penyembahan” bukan sekadar waktu-waktu ibadah yang selama ini Anda pahami. Penyembahan adalah suatu gaya hidup.
Penyembahan jauh lebih dari sekadar musik !
Bagi banyak orang, penyembahan sama saja dengan music, khususnya orang Kristen. Mereka berkata, “ di gereja kami, kami terlebih dahulu melakukan penyembahan lalu menerima pengajaran.” Hal ini keliru. Karena setiap bagian dari ibadah di gereja adalah tindakan penyembahan: berdoa, membaca Alkitab, mengaku dosa, saat teduh, menyanyi, mendengar khotbah, baptisan, perjamuan kudus, bahkan juga menjambut para penyembah lainnya.
Sebenarnya penyembahan sudah ada sebelum musik. Adam menyembah di Taman Eden , tetapi music tidak pernah disebutkan hingga Kejadian 4:21 tentang Yubal. Jika penyembahan hanya berbicara tentang musik, maka orang yang tidak terlalu terampil dalam hal musik tidak dapat menyembah. Penyembahan jauh lebih dari sekadar musik.
Lebih buruk lagi, penyembahan seringkali diidentikkan dengan gaya music tertentu. “Awalnya kami menyanyikan sebuah lagu, lalu sebuah pujian dan penyembahan.” Lalu, “Saya menyukai lagu-lagu yang berirama cepat, tetapi paling menikmati lagu-lagu yang lambat.” Dalam pengertian ini, lagu yang cepat atau enerjik merupakan ‘pujian’. Tapi jika lagu itu lambat dan syahdu, itu dianggap ‘penyembahan’. Ini bukanlah pengertian “penyembahan” yang tepat dan tidak sesuai kebenaran Alkitab.
“Penyembahan” tidak bergantung pada gaya atau volume atau kecepatan lagu. Allah menyukai semua jenis musik, baik cepat maupun lambat, baik enerjik maupun syahdu, baik lama maupun baru. Semuanya dengan hati yang tulus, dalam roh dan kebenaran, akan menyenangkan Allah.
Orang-orang Kristen seringkali tidak sepakat tentang gaya musikyang dipakai di gereja. Mereka bersikukuh gaya musik favorit mereka yang paling alkitabiah. Tetapi tidak ada gaya music yang alkitabiah! Kita bahkan tidak memiliki alat-alat music yang digunakan pada zaman Alkitab. Tidak ada catatan secara spesifik tentang musik dalam Alkitab. Gaya music dijelaskan secara umum dalam kitab Mazmur. Ini memungkinkan kreativitas musik terus berkembang, sehingga tidak dikurung oleh satu gaya musik yang sama.
Sebenarnya, gaya musik lebih berbicara tentang Anda. Tentang latar belakang dan kepribadian Anda. Allah menyukai keanekaragaman gaya musik di gereja. Selain itu, Tidak ada musik “Kristen”, yang ada lirik Kristen. Melalui kata-katanya-lah kita mengenali sebuah lagu sebagai lagu Kristen.
Penyembahan bukanlah untuk kepentingan Anda.
Jika Anda pernah berkata, “Saya tidak mendapat apapun dari penyembahan hari ini.” Berarti Anda menyembah untuk alasan yang salah. Penyembahan adalah bagi Allah, bukan bagi Anda. Tentu saja, ada kebaktian penyembahan yang berisikan penginjilan, persekutuan, dan saling berbagi; tetapi kita tidak menyembah untuk kepentingan diri sendiri, bukan pula untuk menyenangkan diri sendiri. Tujuan kita ialah memuliakan dan menyenangkan Allah.
Pada Yesaya 29: 13, tertera dengan jelas, bagaimana Allah sungguh tidak menyenangi “penyembahan” yang salah. “Dan Tuhan telah berfirman: Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” Penyembahan yang tidak segenap hati, yang berupa upacara-upacara buatan manusia, yang tidak tulus, sekadar kata-kata kosong, doa yang bertele-tele supaya dipuji orang lain, ketidaksetiaan dalam kehidupan sehari-hari kepada Allah, dan sekadar “tradisi” belaka. Penyembahan demikian adalah salah! Ini bukan tradisi. Ini bukan yang dikehendaki Allah! Penyembahan yang benar dan tidak munafik, itulah yang dikehendaki Allah. Allah menyukai kasih yang tulus dari segenap hati kita kepadaNya dan komitmen kita untuk menaatiNya dalam keseharian kita.
Penyembahan bukanlah bagian hidup Anda, Penyembahan adalah hidup Anda!
“Sembahlah Dia senantiasa.” (Mazmur 105: 4, BIS) Penyembahan yang Alkitabiah adalah “senantiasa”, “selalu”, dan “terus menerus”. “Pujilah Dia dari saat matahari terbit sampai matahari terbenam!” (Mazmur 113: 3, FAYH) Sejak Anda membuka mata pada pagi hari dan hingga Anda menutup mata pada malam hari, Anda dapat menyembah Tuhan senantiasa. “Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada FirmanMu.” (Mazmur 119: 147) “Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.” (Mazmur 119: 62) “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” (Mazmur 34: 2) Kapanpun ketika kita rindu untuk mencari Dia, datanglah dalam doa dan penyembahan kepada Dia, Allah selalu ada kapanpun Anda ingin mencari Dia. Sekalipun itu tengah malam atau pagi buta! Ia “senantiasa” ada untuk Anda!
“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10: 31) Caranya ialah dengan melakukan segala sesuatu yang baik, seolah-olah Anda sedang melakukannya untuk Tuhan dan dengan secara kontinu bercakap-cakap dengan Dia sementara Anda melakukannya. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3: 23) Inilah rahasia Gaya Hidup Menyembah, yaitu melakukan segala sesuatu yang benar, seakan-akan Anda sedang melakukannya bagi Allah, tentunya dengan tulus dan ikhlas. “Bawalah kehidupan sehari-harimu, yakni tidur, makan, bekerja, dan sebagainya, dan letakkanlah itu semua sebagai suatu persembahan di hadapan Allah.” (Bnd. Roma 12: 1) Pekerjaan yang dilakukan sebagai bentuk persembahan kepada Allah dan dilakukan dengan kesadaran akan penyertaan dan keberadaanNya, adalah suatu tindakan penyembahan !
Ketika seseorang jatuh cinta pada lawan jenisnya. Ia akan cenderung untuk terus-menerus memikirkannya. Dalam berbagai aktivitas sehari-harinya, “si dia” selalu ada dalam pikiran dan hatinya. Bahkan betapa sulit untuk berhenti memikirkan “si dia”. Dengan demikian, rasanya “si dia” begitu dekat dan “sekalipun jauh di mata, tetapi tetap dekat di hati.” Dengan terus menerus memikirkan “si dia”, Ia senantiasa tinggal dalam cinta kepada “si dia”. Demikian pula, penyembahan sejati kepada Allah. Yakni: jatuh cinta kepada Tuhan Yesus dan senantiasa memikirkanNya di dalam hati dan sanubari.
Hari Kedelapan
Anda direncanakan untuk menyenangkan Allah
Renungkanlah :
Saya direncanakan bagi Allah, untuk menyenangkan Dia, Sang Pencipta, dan bukan untuk menyenangkan diri sendiri. Allah adalah Sumber Kebahagiaan Sejati , Ia yang akan dan pasti menganugerahkan kebahagiaan sejati kepada yang tulus-ikhlas-tanpa pamrih, mengabdikan hidupnya bagi Sang Pencipta.
Apakah saya mau belajar untuk melakukan segala sesuatu yang benar, seolah-olah saya sedang melakukannya secara spesial kepada Tuhan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)