Apa yang Membuat Allah Tersenyum ?
“Tersenyumlah pada hambaMu ini;
ajarilah hamba cara yang benar untuk hidup.”
(Bnd. Mazmur 119: 135)
Karena menyenangkan Sang Pencipta adalah tujuan hidup kita sebagai ciptaanNya, maka hal yang terpenting adalah mengetahui bagaimana melakukannya dan melakukannya dengan benar. “Berusahalah mengenal apa yang menyenangkan hati TUHAN, lalu lakukanlah itu.” (Bnd. Efesus 5: 10, 17) Pada hari ini, kita akan mempelajari teladan yang baik dari seorang tokoh yang dicatat dalam Alkitab, yakni Nuh.
Pada zaman Nuh, seluruh dunia telah rusak secara moral dan spiritual. Setiap orang hidup untuk menyenangkan diri sendiri, dan bukan menyenangkan Allah. Sedemikian bobroknya moral manusia pada masa itu, hingga dikatakan Allah “menyesal” menciptakan manusia. Isitilah “menyesal” di sini, merujuk kepada kesedihan Allah. Ya, Allah begitu mengasihi manusia, tetapi manusia lebih mengasihi dirinya sendiri (egosentris). Allah begitu kudus, tak berdosa; sedangkan manusia pada masa itu, begitu najis, jijik, dan nista di hadapan Allah karena dosa-dosa mereka yang meraja rela. Allah begitu berduka, karena manusia pada masa itu telah “melupakan” Sang Pencipta. Ya, bahkan melupakan Penciptanya sendiri. Dikatakan bahwa anak yang durhaka amatlah tidak “tahu balas budi”, maka manusia pada masa itu juga dapat dikatakan “ciptaan yang durhaka”. Sedemikian mengerikan kejahatan umat manusia pada masa itu, hingga Allah memutuskan menghukum dengan “air bah”. Namun, hanya ada seseorang yang “tahu diri” dan “tidak lupa diri”. Orang itu sadar siapa dirinya dan siapa Allah. “Tetapi Nuh sangat menyenangkan hati TUHAN.” (Kejadian 6: 8, FAYH)
Allah menyelamatkan Nuh dan memulai kembali sejarah manusia melalui keluarga Nuh. Ia sungguh memperhatikan orang-orang yang rindu dan taat untuk menyenangkan Penciptanya sendiri. Dari kehidupan Nuh, kita dapat mempelajari tindakan penyembahan yang membuat Allah tersenyum:
Allah tersenyum, bila kita Mengasihi Dia di atas segalanya
Nuh mengasihi Allah lebih dari apa pun juga, bahkan ketika tidak seorangpun mengasihi Allah. “Nuh senantiasa mengikuti kehendak Allah dan hidup dalam hubungan yang erat dengan Dia.” (Bnd. Kejadian 6: 9) Inilah yang Allah inginkan sari Anda : suatu hubungan yang akrab. Inilah kebenaran yang menakjubkan, bahwa Pencipta kita ingin berhubungan dengan kita, ingin mengasihi kita, ingin menyatakan KasihNya kepada kita. “Aku tidak mengingini kurban-kurbanmu; Aku mengingini kasihmu. Aku tidak mengingini persembahan-persembahanmu; yang Kuingini ialah agar kamu mengenal Aku.” (Hosea 6: 6, FAYH)
Sadarilah lewat ayat ini. Allah benar-benar sangat mengasihi Anda dan sebaliknya Dia ingin Anda juga balik mengasihi Dia. Dia ingin Anda mengenal Dia, bukan sekadar kulit luar belaka, tetapi dari HatiNya ke hati Anda juga sebaliknya. Ia ingin memiliki relasi yang akrab, mesra, dan amat dekat dengan Anda. Yesus Kristus berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (Matius 22: 37-38)
Allah tersenyum, ketika kita Mempercayai Dia sepenuhnya
Nuh memercayai Allah, bahkan ketika hal tersebut kelihatan tidak masuk akal. “Nuh seorang lain yang juga beriman kepada Allah. Ketika ia mendengar peringatan Allah tentang masa yang akan datang, Nuh percaya kepada-Nya, meskipun pada waktu itu belum ada tanda-tanda akan datang banjir. Tanpa membuang waktu, ia membuat bahtera dan menyelamatkan keluarganya. Iman Nuh kepada Allah berlawanan dengan dosa dan ketidakpercayaan isi dunia yang tidak mau taat. Oleh sebab imannya, Nuh menjadi salah seorang di antara mereka yang diterima Allah.” (Ibrani 11: 7, FAYH)
Jikalau kita yang dihadapkan pada posisi Nuh, kita mungkin ragu atau malas atau berdebat dengan Allah supaya kita tidak usah berjerih lelah membuat bahtera yang besar. Kita cenderung tidak mau ambil ribet, tidak mau repot. Akan tetapi, Nuh memilih “taat sepenuhnya”. Ini yang membuat Allah tersenyum.
Mempercayai Allah sepenuhnya berarti memiliki keyakinan bahwa Allah tahu apa yang terbaik untuk hidup Anda. Ia Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Baik. Jadi, sebenarnya kita tidak perlu risau bahwa Tuhan salah mengambil langkah. Ia tahu dan memberikan yang terbaik. Ia mengizinkan segala hal terjadi untuk membuat Anda semakin lebih baik lagi. Turutilah rancanganNya, sebab itulah yang terbaik bagi kita. “Tuhan senang kepada orang yang-orang yang menyembah-Nya, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.” (Bnd. Mazmur 147: 11)
Percaya sepenuhnya adalah tindakan penyembahan. Ketika anak-anak mempercayai orang tuanya dengan penuh, maka orang tuanya menjadi senang karena kepercayaan anak-anaknya. Demikian juga halnya, antara iman Anda dengan Allah, Bapa yang Maha Kasih itu. Ibrani 11: 6 terjemahan BIS berbunyi, “Tanpa beriman, tidak seorang pun dapat menyenangkan hati Allah. Sebab orang yang datang kepada Allah harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi balasan kepada orang yang mencari-Nya.”
Allah tersenyum, bila kita Menaati Dia dengan sepenuhnya
Allah tidak menyuruh Nuh membuat perahu sesuka hatinya sendiri. Allah memberikan petunjuk dan segala sesuatu harus dikerjakan seperti yang Allah tentukan. Allah memberi petunjuk dengan sangat rinci dalam hal ukuran, bentuk, dan bahan bahtera itu serta jumlah hewan-hewan yang akan diselamatkan dari “air bah”. “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (Kejadian 6: 22) Perhatikan bahwa Nuh taat sepenuhnya (tidak ada petunjuk yang diabaikan) dan dia menaati dengan tepat (sesuai rincian perintah Allah). Nuh mengerjakan apa yang Allah perintahkan dengan taat, tanpa keengganan ataupun alasan yang berbelit-belit.
Pemahaman bisa menanti, tetapi ketaatan tidak bisa. Ketika Anda tidak taat, maka Anda sedang memberontak dan Allah tidak pernah suka akan “pemberontakan” maupun “pengkhianatan”. Sebenarnya, Anda tidak akan pernah memahami apapun, sebelum Anda belajar mengakui Otoritas Allah dan menaatiNya. Ketaatan membukakan dan menyingkapkan pemahaman. Setelah Anda menaatiNya, Anda akan mengerti, lalu bersyukur dengan sepenuhnya kepadaNya – inilah yang seharusnya.
Kita seringkali menyodorkan ketaatan sebagian kepada Allah – ketaatan separo – ketaatan setengah-setengah. Kita memilih perintah apa saja yang kelihatan mudah untuk dilakukan. Lalu meremehkan atau cuek dengan perintah yang kelihatan sulit bagi kita. Saya akan membaca Alkitab siang dan malam, tetapi tidak akan mengampuni orang yang pernah menyakiti saya. Saya akan mengasihi Tuhan, tetapi tidak akan mengasihi sesama. Ini menjadi suatu hal yang aneh! Ketaatan hanya pada sebagian perintah saja. Tetapi, sadarilah: Ketaatan separo adalah ke-tidak-taat-an. Ketaatan yang tidak penuh adalah tetap Ketidaktaatan.
“Taatilah Dia dengan senang hati. Datanglah ke hadapan-Nya sambil bernyanyi-nyanyi dengan sukacita.” (Mazmur 100: 2, FAYH) Ketaatan penuh dilakukan dengan antusias, sukacita, dan tulus ikhlas.
“TUHAN, katakan sajalah apa yang harus kulakukan dan aku akan melakukannya. Sepanjang hidup aku akan menaati ketetapan-Mu dengan sepenuh hatiku.” (Mazmur 119: 33, FAYH)
Firman Allah dengan jelas menegaskan bahwa keselamatan (masuk Sorga) adalah suatu anugerah, hanya oleh Kasih Karunia Allah saja, bukan hasil dari perbuatan-perbuatan baik kita! Sesungguhnya perbuatan yang disebut baik adalah dengan tulus dan tanpa mengharapkan imbalan. Tetapi jika Anda berbuat baik supaya masuk Sorga; berarti perbuatan Anda tidak tulus, ada maunya, mengharapkan imbalan, “ada udang di balik batu”, dan itu bukan perbuatan yang benar-benar baik! Lalu untuk apa kita seharusnya berbuat baik? Kita berbuat baik – ibadah, ketaatan, kesalehan – untuk mengucap syukur, untuk menyenangkan Allah, sebagai wujud terima kasih Anda kepada Kebaikan Allah yang tak terkira itu. Perhatikanlah poinnya! Anda berbuat baik untuk Allah, Sang Pencipta, bukan supaya masuk sorga ! Maka kita perlu berbuat baik, khususnya dalam topik ini: ketaatan, untuk menyenangkan Allah, Pencipta kita, secara tulus, ikhlas, tanpa pamrih. Anda benar-benar mengasihi Pencipta Anda? Apa buktinya: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14: 15)
Allah tersenyum, bila kita Senantiasa Memuji dan bersyukur kepadaNya
Rasanya tidak ada yang lebih baik daripada menerima pujian yang tulus dan penghargaan murni dari orang lain. Allah sudah sepantasnya menerima pujian dan rasa hormat yang tulus disertai rasa syukur murni. Dia tersenyum, ketika kita mengekspresikan kekaguman dan ucapan syukur kita kepadaNya. Ia tidak pernah gila hormat! Ia sudah sepantasnya dimuliakan dan dihormati. Para pembesar dan pemimpin di dunia saja dihormati dan dihargai demikian rupa, masakan TUHAN Semesta Alam, tidak layak menerima penghormatan yang sepantasnya. TUHAN amat teramat layak untuk dihormati, IA Maha Kuasa, Maha Mulia, dan Ia-lah yang membuat Anda ada dan masih bernapas hingga sekarang.
“Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.” (Kejadian 8: 20) Tindakan pertama Nuh setelah selamat dari air bah adalah bersyukur kepada Allah dengan mempersembahkan korban dengan tulus hati tentunya. Hal ini menyenangkan Allah. Lalu apa kita perlu mempersembahkan korban sebagai wujud syukur kita? Jawabnya : tidak. Mengapa? Karena pengorbanan Yesus Kristus, kita tidak perlu lagi mempersembahkan korban binatang. Yesus Kristus sendiri telah menjadi “korban pendamaian” untuk menebus manusia dari dosa-dosanya dan memulihkan kembali hubungan antara Allah dan manusia. Ucapan syukur yang kita berikan dalam era Perjanjian Baru ini adalah puji-pujian yang tulus dari hati kita. “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13: 15) “Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur;” (Mazmur 69: 31)
Suatu hal yang mengagumkan terjadi ketika kita memuji dan bersyukur kepadaNya. Ketika kita menyukakan (menyenangkan) hati Allah, hati kita sendiri juga dipenuhi dengan sukacita (kesenangan) ! Ketika Ibu kita sengaja mempersiapkan makanan kesukaan kita secara spesial untuk kita, apakah yang kita lakukan kepadanya? Kita dapat menyenangkan Ibu kita dengan menikmati masakannya. Tetapi akan lebih indah, jika kita menyatakan “kesukaan” kita akan masakannya. Ketika kita menyantap hidangan yang lezat itu, kita dapat menyanjung dan memuji Ibu kita. Kita tidak hanya sekadar bermaksud menikmati makanan itu, tetapi juga menyenangkan Ibu kita. Dengan demikian semua tersenyum dan bahagia.
Sama halnya dengan penyembahan. Kita menikmati apa yang telah Allah kerjakan dalam hidup kita, dan saat kita mengekspresikan (mengungkapkan) rasa syukur kepada Allah, ini menyenangkan Dia, tetapi juga meningkatkan sukacita kita. “Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita. Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.” (Mazmur 68: 4)
Allah tersenyum, ketika kita Mempergunakan kemampuan kita
Setelah air bah, Allah memberi Nuh petunjuk sederhana: “Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.” (Kejadian 9: 1, 3)
Anda mungkin mengira bahwa Allah disenangkan hanya oleh karena “aktivitas rohani” Anda, seperti ke gereja, berdoa, atau membaca Alkitab. Sebenarnya, Allah senang mengamati setiap rincian hidup Anda, entah Anda sedang bekerja, makan, tau beristirahat. Dia sangat memperhatikan setiap detail (rincian) dari tingkah laku Anda. “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;” (Mazmur 37: 23)
Setiap kegiatan atau perbuatan, kecuali dosa, dapat dilakukan untuk menyenangkan Allah dengan sikap menyembah. Anda bisa melakukan berbagai tindakan selain dosa, bagi kemuliaan Allah, dengan cara bersikap menyembah dan meng-abdi kepada Tuhan.
Allah senang, ketika Anda mempergunakan talenta-talenta, kemampuan, atau potensi Anda yang telah dikaruniakan olehNya kepada Anda. Segala potensi yang baik untuk berkarya, dapat membuat Allah tersenyum, jika dipersembahkan bagi kemuliaan Allah. “Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.” (Mazmur 33: 15)
Anda tidak memuliakan maupun menyenangkan Allah, dengan menyembunyikan talenta Anda. Pergunakan talenta-talenta Anda dengan baik untuk tujuan yang baik, bagi Allah, bukan bagi kebanggaan diri sendiri. Allah senang, ketika kita memaksimalkan kegunaan talenta-talenta yang baik itu.
Dalam film Chariots of Fire, pelari Olimpiade, Eric Liddel, berkata, “Saya yakin Allah menciptakan saya dengan suatu tujuan, dan Dia juga membuatku cepat, serta ketika saya berlari, saya merasakan kesenangan Allah.” Lalu ia berkata, “Berhenti berlari akan berarti menganggap rendah Allah.” Tidak ada kemampuan yang tidak rohani, yang ada hanyalah kemampuan yang di-salah-guna-kan atau talenta baik yang dimatikan. Mulailah mengasah dan menggunakan talenta Allah dengan benar untuk tujuan dan alasan yang benar, yakni Tuhan.
Allah juga senang ketika Anda menikmati berbagai hal yang baik. Setiap kali Anda menikmati indahnya fajar menyingsing, matahari terbenam, bintang-bintang di antara sinar rembulan, dan mengingat akan Dia, Sang Pencipta; Ia senang. “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” (1 Timotius 6: 17)
Allah bahkan senang melihat Anda ketika terlelap. Seorang ayah atau ibu mengingat ada kepuasan yang dalam ketika mengamati anaknya yang masih kecil waktu tidur. Kadang-kadang hari itu sudah dipenuhi berbagai masalah, tetapi ketika mereka tidur pulas dan damai, dan mengingatkan akan kasihnya kepada anaknya. Sang anak tidak perlu melakukan apapun agar sang ayah/ibu bisa senang. Sang ayah/ibu senang dengan hanya memandang mereka bernapas, karena begitu mengasihi sang anak. Ketika dada kecil mereka turun dan naik, sang ayah/ibu tersenyum, sampai-sampai air mata sukacitanya memenuhi matanya. Ketika Anda terlelap, Allah mengamati Anda dengan kasih. Dia begitu mengasihi Anda!
Orang tua tidak mewajibkan anak mereka sempurna, untuk dapat menyenangkan mereka. Orangtua senang melihat anak-anak mereka dalam setiap tahap perkembangan. Demikian halnya, TUHAN tidak menanti Anda mencapai kedewasaan dahulu, baru mulai menyukai Anda. Dia senang melihat setiap tahap perkembangan jasmani dan rohani Anda.
Anda mungkin pernah berhadapan dengan orang-orang yang kelihatan mustahil untuk disenangkan alias dibuat tersenyum. Tetapi jangan mengira Tuhan demikian! Allah tahu dan mengerti bahwa Anda tidak dapat sempurna tanpa dosa, hingga Ia sendiri yang menyempurnakan Anda dengan Kuasa IlahiNya. “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” (Mazmur 103: 14)
Apa yang Allah lihat adalah sikap hati kita: Apakah menyenangkan Dia adalah kerinduan terdalam Anda? 2 Korintus 5: 9 berbunyi, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.” Ketika Anda hidup bagi Tujuan Allah menciptakan Anda, fokus Anda berubah dari “berapa banyak kesenangan yang kuperoleh dari hidup ini?” kepada “berapa banyak kesenangan yang Allah terima dari hidupku?”
Allah sangat menghendaki orang-orang yang mau berlaku taat seperti Nuh, yakni orang-orang yang mau hidup untuk menyenangkan Allah – suatu pengabdian yang tulus dan mengandung sukacita sejati. “TUHAN memandang dari surga kepada segenap umat manusia untuk melihat apakah ada yang bijaksana, yang ingin menyenangkan hati Allah.” (Mazmur 14: 2, FAYH)
Maukah Anda hidup dengan tujuan untuk menyenangkan Allah? Setiap anak yang baik, berusaha untuk menyenangkan orang tuanya. Maka pilihan terbaik yang dapat Anda ambil sebagai anak-anak-Nya, adalah berusaha untuk menyenangkan Bapa di Sorga, Tuhan yang Maha Kasih. Allah yang menolong Anda untuk hidup menyenangkan Dia, bukan dengan kekuatan diri sendiri, melainkan dengan penyertaanNya. Allah tidak membebani Anda lebih dari kesanggupan Anda. Tuhan memberi jalan keluar dan kekuatan untuk Anda untuk hidup menyenangkan Dia. Hidup menyenangkan Allah adalah kehidupan yang membawa kita kepada Sukacita, Damai Sejahtera, dan Kebahagiaan Sejati. Renungkan dan ambillah keputusan yang tepat !
Hari Kesembilan
Tujuan Pertama :
Anda direncanakan untuk menyenangkan Allah
Renungkanlah :
Allah tersenyum, ketika saya mempercayai dan mengasihiNya secara total, sungguh-sungguh, dan tidak setengah-setengah.
Karena Allah mengetahui dan mempunyai rencana yang terbaik, maka bidang kehidupan manakah yang belum saya percayakan dan serahkan kepada Dia dengan iman dan ketaatan ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)