Minggu, 20 Maret 2011
Janji Pemulihan
“Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka,
serta memulihkan negeri mereka.”
2 Tawarikh 7:13-14
Sudahkah Anda memperhatikan keadaan Anda akhir-akhir ini? Cobalah Anda renungkan hal-hal apa saja yang Anda alami akhir-akhir ini. Apakah ada hal-hal yang sangat menyita pemikiran Anda, dan karenanya Anda tertekan? Kalau memang ada, mungkin sekaranglah waktunya untuk kita introspeksi diri.
Teks dari 2 Tawarikh ini menceritakan bagaimana Tuhan datang kepada Salomo dalam penampakan untuk yang kedua kalinya. Dalam teks ini kita dapat melihat secara jelas bagaimana Tuhan berjanji untuk memulihkan Israel. Akan tetapi janji pemulihan tersebut didahului dengan sebuah tanda awas atau warning. Tanda awas yang dimaksud adalah jikalau bangsa itu berjalan dalam jalan kejahatan, maka Tuhan sendirilah yang murka terhadap bangsa Israel. Tuhan tidak akan menurunkan hujan, sudah tidak ada hujan, hasil bumi yang lain juga dilalap habis oleh belalang, sehingga bahan makanan tidak ada. Sudah tidak makan, diserang sakit sampar pula. Demikianlah kira-kira hebatnya hukuman Tuhan kalau tanda awas tersebut dilanggar.
Dalam konteks kita sekarang memang tekanan hidup yang kita alami tidak bisa serta-merta kita kaitkan dengan hukuman Tuhan. Namun adakalanya kita sama seperti bangsa Israel yang tidak bisa “panen” (berhasil) karena tidak ada “hujan”. Atau mungkin kita “panen” juga tetapi penghasilan kita dilalap habis oleh “belalang”. Sudah kurang penghasilan, sakit penyakit datang bertubi-tubi.
Walaupun kita tidak bisa langsung mengatakan itu adalah hukuman Tuhan, tetapi melalui bacaan kita hari ini, kita diajak untuk introspeksi diri. Dalam mengintrospeksi diri, hal yang harus kita perhatikan bukanlah pada apa yang kita alami semata, tetapi juga apa yang sedang kita lakukan. Apakah yang kita lakukan akhir-akhir ini adalah hal yang baik atau yang jahat di mata Tuhan?
Kalau memang yang jahat menjadi “dunia” kita akhir-akhir ini, maka Tuhan memberikan tiga syarat agar pemulihan sungguh berlaku: merendahkan diri, menjalin hubungan dengan Tuhan, dan berbalik dari jalan yang jahat. Ketiga hal ini selalu berkorelasi dengan kesetiaan Tuhan. Hal ini sangat terjamin, karena Tuhan sendiri yang mengatakannya.
Kitab Tawarikh memang murni kitab narasi sejarah. Apa yang dialami oleh Salomo dan bangsa Israel pada waktu itu mungkin banyak bedanya dengan apa yang kita alami sekarang. Akan tetapi hari ini kita belajar tentang satu prinsip Firman Tuhan, yang tidak berubah dari jaman Israel sampai sekarang, yaitu bahwa janji pemulihan berlaku bagi mereka yang berbalik kepada Tuhan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)