Naluri manusia tentang memberi cenderung berbeda dari ajaran firman. Kikir, perhitungan, berat hati, adalah perasaan-perasaan manusiawi yang lebih banyak muncul ketika kita diminta untuk memberi. Meskipun kita sudah lebih dulu diingatkan bahwa semua milik kita adalah karunia dan titipan Tuhan, tetap saja perasaan serupa mewarnai sikap kita dalam memberi. Itu sebabnya begitu banyak ajaran dan teladan tentang sikap memberi kita jumpai dalam Alkitab. Sikap dan cara memberi yang bagaimanakah yang Tuhan inginkan dari anak-anaknya?Di sini
Bila kita bertolak dari Allah, kita pasti akan mengalami perubahan drastis dalam kehidupan memberi kita. Allah kita adalah pemberi termulia yang patut kita syukuri dan teladani sepanjang hidup kita (Ef. 5:1-2). Ambillah kesimpulan dari dua saja tindakan yang pernah Allah buat, maka pasti kita akan tertantang mengubah mutu pemberian kita di hadapan-Nya.
Ketika Allah memutuskan untuk menciptakan alam semesta ini dengan segenap isinya, Alah sebenarnya menanggung resiko untuk seterusnya hidup dalam sikap dan tindakan memberi tak berkeputusan. Tindakan mencipta itu sendiri adalah sikap ekspresif Allah. Sebenarnya dunia diri Allah sendiri adalah dunia yang paling sempurna dan tidak memerlukan apa pun lagi di luar-Nya.Sebab Ia adalah Harmoni kekal, Kasih kekal, Kebaikan kekal, Kesucian kekal. Apalagi yang kurang dalam diri Allah Tritunggal? Tidak ada! Tetapi dari kecukupan dan kasih kekal itu, keluar keputusan untuk memperluas kasih dan kebaikan-Nya untuk menciptakan sesuatu yang bukan diri-Nya, yaitu karya cipta-Nya, para makhluk dan segenap ciptaan lainnya. Dan, sejak itu Allah yang bebas itu memutuskan untuk memerhatikan, mengasihi, memelihara, menopang semua ciptaan-Nya. Tindakan mencipta Allah adalah tindakan memberi diri yang luar biasa.
Ada satu lagi yang dahsyat menyatakan keajaiban kasih karunia Allah, yaitu ketika Allah memutuskan untuk tidak membuang ciptaan-Nya yang telah memberontak melawan Dia, malahan ber-inisiatif memulihkan mereka kembali ke dalam rangkulan kasih mesra-Nya. Konsekuensi keputusan untuk menyelamatkan itu adalah pemberian teramat mahal dan yang menyebabkan kepedihan tak terkatakan dalam diri Allah. Ia harus rela berkorban dalam kematian Yesus Kristus. Pemberian Allah yang kedua ini patut disebut The Gift, Prima Gratia. Segenap kosmos ini tidak pernah mengalami Pemberian sedemikian mahal sedemikian berdampak, seperti yang pernah terjadi dalam diri Yesus Kristus. “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah… Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (1Yoh 3:1, 16).
Firman tadi tidak hanya membicarakan soal Pemberian Allah tetapi juga soal dampaknya pada sifat dan mutu pemberian kita. Akibat dari menerima Pemberian Utama Allah dalam Yesus Kristus luar biasa dahsyat. Bukan saja kita sepatutnya menjadi tahu memberi, kita seharusnya menjadikan hidup kita pemberian bagi sesama kita. Seperti halnya Kristus sudah memberikan nyawa-Nya menghidupkan kita, kita menjadi berhutang nyawa kepada-Nya dan membuat kita siap memberikan yang sama pula yaitu nyawa kita demi Dia untuk sesama kita.
Tak usahlah berbicara tentang memberi nyawa sebelum kita melihat percikan-percikan kecil akibat menerima pemberian Allah itu ke dalam ciri dan sikap kita memberi berikut ini. Belajarlah dari dua orang janda – satu dalam PL satu lagi dalam PB – keduanya bicara tentang sikap berani berkorban dalam memberi. Pemberian mereka adalah nyawa mereka sebab yang mereka berikan adalah pengorbanan. Nafkah mereka terakhir rela mereka persembahkan bagi kepentingan Tuhan. Pemberian penuh pengorbanan itu dicatat Alkitab (1Raja-Raja 17), dipuji Yesus (Lukas 21:1-4), untuk pelajaran bagi semua kita. Sesungguhnya dibandingkan keberanian mereka berkorban, alangkah tak berarti pemberian kita apabila kita memberi banyak dari kelimpahan kita, apabila pemberian itu hanya sedikit mengganggu irama dan kenikmatan hidup kita.
Sikap memberi lainnya diajarkan Paulus ketika mengajak jemaat-jemaat untuk memperhatikan sesama jemaat yang sedang menderita secara material. Jemaat Korintus kaya dalam berbagai karunia rohani, juga dalam kondisi material. Karena Korintus adalah salah satukota besar zaman itu, agaknya sebagian warganya pun terdiri dari orang-orang berada. Sayang sekali kekayaan rohani dan materi itu tidak diiringi dengan kekayaan dalam kepekaan dan kepedulian. Paulus menyindir mereka dengan jemaat di Makedonia yang sangat miskin keadaannya ternyata lebih berdampak memperkaya dibandingkan jemaat di Korintus (2Kor 8:1-5). Jemaat Makedonia adalah bukti bahwa meski menderita berat dan sangat miskin, umat Tuhan tetap dapat berlimpah dengan kemurahan. Sikap yang Paulus anjurkan kepada jemaat Korintus ialah memberi agar terjadi keseimbangan (2Kor 8:13). Dalam pikiran Paulus, beban pewartaan Injil seharusnya dipikul bersama oleh semua umat Tuhan. Umat Tuhan, orang Kristen, gereja Tuhan mana saja, tidak boleh berpikir, merencana, menyusun budget secara self-centered tetapi harus gospel-centered atau Kingdom-centered. Salah satu akibat dari pola pikir demikian adalah inklusivisme yaitu ke-tidak-ber-sediaa-n mendukung kebutuhan baik pekerja Tuhan maupun pekerjaan Tuhan di luar kalangan gereja sendiri. Eksklusivisme tidak boleh dibiarkan dalam sikap kita persembahan kita.
Salah satu kata yang sangat kuat melukiskan bagaimana perasaan terdalam Tuhan Yesus melihat kebutuhan manusia adalah kata compassion (Mat. 14:14). Istilah “tergerak hati oleh belas kasihan” dapat diterjemahkan secara harfiah seolah seorang terkena serangan jantung. Hati Allah dalam Yesus sedemikian sensitif terhadap penderitaan dan kebutuhan manusia sehingga tidak mungkin pasif, diam, tak tergerak olehnya. Itulah yang menjadi dasar tindakan-tindakan kasih Yesus yang mengalirkan curahan pemberian tak henti dari hidup-Nya sampai memuncak pada pemberian hidup itu sendiri demi menghidupkan kita. Sikap memberi kita pun akan berubah drastis apabila hati seperti Yesus itu hadir dalam hidup kita. Apabila kita mengaku kita telah diciptakan baru oleh-Nya, tentu hati baru seperti yang Yesus punyai harus menjadi ciri pertama kita. Dari hati yang penuh belas kasih itu akan lahir sikap memberi yang sukacita dan sukarela (2Kor 9:7), memberi tanpa harus dipaksa-paksa, diimbau-imbau, diingat-ingatkan, ditagih-tagih, didesak-desak, dlsb. Hati yang sensitif itu bahkan memiliki kepekaan tajam untuk mengetahui dimana ada kebutuhan (Fil. 1:7, 4:14-16), ke arah siapa hati Allah tertuju untuk menolong (Yak. 2:14-17), bagaimana memberi yang efektif menopang kebutuhan orang atau pekerjaan Allah, dlsb. Pertimbangan utama kita dalam memberi bukan lagi naluri manusia egois kita tetapi ketaatan penuh kepada kehendak Allah.
Jadi, sumber luapan aliran pemberian melalui hidup kita itu adalah kondisi hati kita. Jika hati kita sungguh adalah hati yang tengah didiami oleh hati Yesus, jika hati-Nya meluapi hati kita dengan kasih-Nya, jika hati Allah sendiri motivasi dan tujuan akhir segala perbuatan memberi kita, maka kita akan memberi lebih dalam dari sekadar mengirimkan uang kita lalu cepat-cepat menjauh. Hati Yesus itu akan mendorong kita terlibat lebih dalam, mendoakan, memikirkan, membangun relasi yang memuliakan Allah. Sifat extra dan limpah dari anugerah akan menjadi ciri dari tiap tindakan pemberian kita. Kita akan mendoakan dan peduli memikirkan agar pemberian kita berakibat dan efektif, penuh pertanggungjawaban terhadap Allah dan sesama. Kita akan memberi tanpa menuntut balik, tanpa perlu pujian balik, bahkan tanpa menghitung dan mengingat jasa baik kita (Mat. 6:1-4). Boleh menjadi pemberi adalah anugerah yang membuat kita bersukacita, menjadi pribadi lebih utuh dan tanggap terhadap peluang yang Allah bukakan untuk juga membagikan Injil agar hidup orang lain pun menjadi utuh oleh Sang Pemberi Karunia hidup sejati itu.
Adaptasi dari Artikel Pancar Pijar Alkitab. Original Page:
Bila kita bertolak dari Allah, kita pasti akan mengalami perubahan drastis dalam kehidupan memberi kita. Allah kita adalah pemberi termulia yang patut kita syukuri dan teladani sepanjang hidup kita (Ef. 5:1-2). Ambillah kesimpulan dari dua saja tindakan yang pernah Allah buat, maka pasti kita akan tertantang mengubah mutu pemberian kita di hadapan-Nya.
Ketika Allah memutuskan untuk menciptakan alam semesta ini dengan segenap isinya, Alah sebenarnya menanggung resiko untuk seterusnya hidup dalam sikap dan tindakan memberi tak berkeputusan. Tindakan mencipta itu sendiri adalah sikap ekspresif Allah. Sebenarnya dunia diri Allah sendiri adalah dunia yang paling sempurna dan tidak memerlukan apa pun lagi di luar-Nya.
Firman tadi tidak hanya membicarakan soal Pemberian Allah tetapi juga soal dampaknya pada sifat dan mutu pemberian kita. Akibat dari menerima Pemberian Utama Allah dalam Yesus Kristus luar biasa dahsyat. Bukan saja kita sepatutnya menjadi tahu memberi, kita seharusnya menjadikan hidup kita pemberian bagi sesama kita. Seperti halnya Kristus sudah memberikan nyawa-Nya menghidupkan kita, kita menjadi berhutang nyawa kepada-Nya dan membuat kita siap memberikan yang sama pula yaitu nyawa kita demi Dia untuk sesama kita.
Tak usahlah berbicara tentang memberi nyawa sebelum kita melihat percikan-percikan kecil akibat menerima pemberian Allah itu ke dalam ciri dan sikap kita memberi berikut ini. Belajarlah dari dua orang janda – satu dalam PL satu lagi dalam PB – keduanya bicara tentang sikap berani berkorban dalam memberi. Pemberian mereka adalah nyawa mereka sebab yang mereka berikan adalah pengorbanan. Nafkah mereka terakhir rela mereka persembahkan bagi kepentingan Tuhan. Pemberian penuh pengorbanan itu dicatat Alkitab (1Raja-Raja 17), dipuji Yesus (Lukas 21:1-4), untuk pelajaran bagi semua kita. Sesungguhnya dibandingkan keberanian mereka berkorban, alangkah tak berarti pemberian kita apabila kita memberi banyak dari kelimpahan kita, apabila pemberian itu hanya sedikit mengganggu irama dan kenikmatan hidup kita.
Sikap memberi lainnya diajarkan Paulus ketika mengajak jemaat-jemaat untuk memperhatikan sesama jemaat yang sedang menderita secara material. Jemaat Korintus kaya dalam berbagai karunia rohani, juga dalam kondisi material. Karena Korintus adalah salah satu
Salah satu kata yang sangat kuat melukiskan bagaimana perasaan terdalam Tuhan Yesus melihat kebutuhan manusia adalah kata compassion (Mat. 14:14). Istilah “tergerak hati oleh belas kasihan” dapat diterjemahkan secara harfiah seolah seorang terkena serangan jantung. Hati Allah dalam Yesus sedemikian sensitif terhadap penderitaan dan kebutuhan manusia sehingga tidak mungkin pasif, diam, tak tergerak olehnya. Itulah yang menjadi dasar tindakan-tindakan kasih Yesus yang mengalirkan curahan pemberian tak henti dari hidup-Nya sampai memuncak pada pemberian hidup itu sendiri demi menghidupkan kita. Sikap memberi kita pun akan berubah drastis apabila hati seperti Yesus itu hadir dalam hidup kita. Apabila kita mengaku kita telah diciptakan baru oleh-Nya, tentu hati baru seperti yang Yesus punyai harus menjadi ciri pertama kita. Dari hati yang penuh belas kasih itu akan lahir sikap memberi yang sukacita dan sukarela (2Kor 9:7), memberi tanpa harus dipaksa-paksa, diimbau-imbau, diingat-ingatkan, ditagih-tagih, didesak-desak, dlsb. Hati yang sensitif itu bahkan memiliki kepekaan tajam untuk mengetahui dimana ada kebutuhan (Fil. 1:7, 4:14-16), ke arah siapa hati Allah tertuju untuk menolong (Yak. 2:14-17), bagaimana memberi yang efektif menopang kebutuhan orang atau pekerjaan Allah, dlsb. Pertimbangan utama kita dalam memberi bukan lagi naluri manusia egois kita tetapi ketaatan penuh kepada kehendak Allah.
Jadi, sumber luapan aliran pemberian melalui hidup kita itu adalah kondisi hati kita. Jika hati kita sungguh adalah hati yang tengah didiami oleh hati Yesus, jika hati-Nya meluapi hati kita dengan kasih-Nya, jika hati Allah sendiri motivasi dan tujuan akhir segala perbuatan memberi kita, maka kita akan memberi lebih dalam dari sekadar mengirimkan uang kita lalu cepat-cepat menjauh. Hati Yesus itu akan mendorong kita terlibat lebih dalam, mendoakan, memikirkan, membangun relasi yang memuliakan Allah. Sifat extra dan limpah dari anugerah akan menjadi ciri dari tiap tindakan pemberian kita. Kita akan mendoakan dan peduli memikirkan agar pemberian kita berakibat dan efektif, penuh pertanggungjawaban terhadap Allah dan sesama. Kita akan memberi tanpa menuntut balik, tanpa perlu pujian balik, bahkan tanpa menghitung dan mengingat jasa baik kita (Mat. 6:1-4). Boleh menjadi pemberi adalah anugerah yang membuat kita bersukacita, menjadi pribadi lebih utuh dan tanggap terhadap peluang yang Allah bukakan untuk juga membagikan Injil agar hidup orang lain pun menjadi utuh oleh Sang Pemberi Karunia hidup sejati itu.
Adaptasi dari Artikel Pancar Pijar Alkitab. Original Page:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)