Semuanya Diawali dengan ALLAH
Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu,
yang ada di sorga dan yang ada di bumi,
yang kelihatan dan yang tidak kelihatan,
baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa;
segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Kolose 1: 16
Sebelum Anda memikirkan Allah,
pertanyaan tentang tujuan hidup tidaklah berarti
Bertrand Russell, seorang ateis
Ini bukan mengenai Anda.
Tujuan hidup Anda jauh lebih besar daripada segala pencapaian pribadi Anda, ketenangan pikiran Anda, atau bahkan kebahagiaan Anda. Ini jauh lebih besar daripada keluarga Anda, karier Anda, atau bahkan mimpi-mimpi terliar dan ambisi Anda. Jika Anda ingin tahu mengapa Anda ditempatkan di planet ini, Anda harus memulainya dengan ALLAH. Anda dilahirkan oleh tujuan-Nya dan untuk tujuan-Nya. Terjemahan Alkitab Firman Allah Yang Hidup (FAYH) mengungkapkan hal yang sama dalam Kolose 1: 16b, “Semuanya dijadikan oleh Kristus bagi diri-Nya dan bagi kemuliaan-Nya.” Sedangkan terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menekankan dalam Kolose 1: 16b, “Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus.”
Ketika seseorang mencari tahu tentang jati diri, ia akan mulai memikirkan tentang tujuan hidupnya dan bagaimana ia harus hidup. Tetapi orang-orang pada umumnya memulai pencarian ini dengan titik awal yang SALAH, yaitu diri sendiri. Kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti: Ingin menjadi apakah aku kelak? Apa yang akan aku lakukan dengan hidupku ? Apakah targetku ? Apakah keinginan aku untuk masa depanku ? Apakah ambisi dan impianku ? Akan tetapi, memusatkan perhatian kita pada diri sendiri tidak akan pernah menyingkapkan tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Alkitab berkata, “Bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia.” (Ayub 12:10)
Bertolak belakang dibanding dengan apa yang diutarakan oleh buku-buku, film-film, dan seminar-seminar terkenal, Anda tidak akan pernah menemukan makna hidup di dalam diri Anda sendiri. Seberapapun Anda berusaha keras, makna hidup Anda tidak dapat Anda temukan dalam diri sendiri. Kecenderungan diri kita adalah “kepentinganku dan untuk kebahagiaanku” – suatu egoisme yang tragis. Camkanlah bahwa: Bukan Anda yang menciptakan diri Anda sendiri. Jadi Anda sama sekali tidak mengetahui, untuk apa Anda diciptakan!
Jika saya memberi Anda sebuah barang yang sama sekali belum pernah Anda lihat, Anda tidak akan mengetahui kegunaan barang itu dan barang itu juga tidak dapat memberi tahu Anda. Hanya pencipta dan buku panduan dari pencipta barang itu yang dapat mengungkapkan tujuan dan kegunaan barang itu.
Rick Warren berkata, “Saya pernah tersesat di pegunungan. Ketika saya berhenti untuk menanyakan arah pada suatu area perkemahan, saya diberi tahu bahwa ‘Anda tidak akan bisa ke sana dari sini. Anda harus mulai dari sisi lain dari gunung tersebut !’ ”
Sama halnya juga, Anda tidak akan dapat sampai kepada tujuan hidup Anda, bila memulainya dengan berpusat pada diri sendiri. Anda harus mengawali pencarian itu dengan ALLAH, Pencipta Anda. Anda ada hanya karena Allah menghendaki Anda ada. Anda diciptakan oleh Allah dan untuk Allah – dan sebelum Anda memahaminya, kehidupan tidak akan pernah bisa dipahami. Hanya di dalam Allah-lah kita dapat menemukan asal-usul kita, identitas kita, tujuan kita, dan makna kita. Setiap jalan lain hanya membawa ke arah yang salah – jalan buntu.
Banyak orang memanfaatkan TUHAN untuk aktualisasi diri mereka sendiri, tetapi ini adalah pemutar-balikkan kodrat dan pasti berujung pada kekecewaan yang fatal. Anda dijadikan “untuk” Allah dan bukan sebaliknya ! Dengan demikian berarti: Hidup adalah membiarkan Allah untuk memakai hidup Anda untuk Dia bagi Tujuan-Nya. Sama sekali bukan berarti Anda menggunakan Allah bagi Anda dan tujuan Anda sendiri! Roma 8: 6 dalam salah satu terjemahan bahasa Inggris berbunyi, “Karena memikirkan hal-hal dari daging merupakan jalan buntu; perhatian kepada Allah membawa kita ke tempat yang terbuka, yaitu pada kehidupan yang bebas dan luas.”
Banyak buku menunjukkan cara-cara untuk menemukan tujuan hidup. Semua buku itu – menurut istilah Rick Warren – dikelomppokan sebagai buku-buku untuk “menolong diri sendiri”, karena buku-buku itu mendekati pokok bahasan dari sudut pandang yang berpusat pada diri sendiri (egosentris/egois). Buku-buku untuk “menolong diri sendiri” umumnya menawarkan: Temukan kelebihan-kelebihan Anda. Perjelas nilai-nilai Anda. Pertimbangkan impian-impian Anda. Tetapkan target-taget Anda. Miliki tujuan-tujuan yang tinggi. Capailah! Disiplinkan diri! Percayalah Anda bisa meraih cita-cita Anda! Jangan pernah menyerah!
Tentu saja, rekomendasi di atas seringkali menghasilkan sukses duniawi yang luar biasa. Anda mungkin bisa berhasil mencapai suatu tujuan ketika Anda berkonsentrasi pada tujuan tsb. Tetapi mencapai “sukses duniawi” itu tidak akan pernah sama dengan memenuhi Tujuan Sebenarnya dari hidup Anda ! Anda mungkin bisa mencapai semua target-target Anda, menjadi luar biasa dalam “standard dunia”, dan tetap tidak mengetahui Tujuan Allah menciptakan Anda. Anda butuh lebih dari nasihat untuk menolong sendiri! “Menolong diri sendiri sama sekali tidak menolong, mengorbankan dirilah caranya, untuk menemukan diri sejati Anda.” (Bnd. Matius 16: 25)
Tulisan-tulisan ini bukanlah “buku untuk menolong diri sendiri”. Juga bukan untuk menemukan karier yang tepat, bagaimana mencapai sasaran pribadi Anda, bukan pula untuk menggapai sukses duniawi. Tulisan-tulisan ini tidak bertujuan untuk menjejalkan lebih banyak lagi kegiatan ke dalam jadwal Anda yang sudah cukup padat. Malahan tulisan-tulisan ini mengarahkan Anda agar “mengurangi” kegiatan Anda dalam jadwal – dengan memusatkan perhatian pada hal yang penting saja. Tulisan-tulisan ini berbicara tentang menjadi “sesuatu” yang sesuai dengan tujuan Allah menjadikan Anda.
Lalu sebenarnya, bagaimana Anda bisa menemukan Tujuan Allah menciptakan Anda? Anda hanya punya 2 pilihan, yakni spekulasi atau penyataan dari-Nya. Pilihan pertama, yakni spekulasi – merupakan pilihan kebanyakan orang. Mereka menebak-nebak dan menerka-nerka. Mereka menduga-duga. Mereka mengira-ngira alias berteori. Ketika orang berkata, “Saya selalu berpikir bahwa kehidupan adalah ….”, yang mereka maksudkan sebenarnya ialah, “Inilah perkiraan terbaik yang bisa saya hasilkan”.
Selama ribuan tahun, filsuf-filsuf hebat telah berdiskusi dan berspekulasi tentang makna kehidupan. Filsafat merupakan ilmu yang penting dan bermanfaat, tetapi kalau filsafat bicara soal menentukan tujuan hidup, maka ahli filsafat paling bijak sekalipun hanya menduga-duga dalam keragu-raguan belaka.
Dr. Hugh Moorhead, seorang guru besar filsafat di Universitas Northeastern Illnois, pernah menulis kepada 250 filsuf, ilmuwan, penulis, dan cendekiawan ternama di dunia, dan bertanya lepada mereka, “Apa makna hidup?” Lalu beliau menerbitkan jawaban-jawaban mereka dalam sebuah buku. Sebagian orang memberi tebakan terbaik mereka. Sebagian lagi mengakui baru membuat suatu tujuan untuk hidup. Yang lain cukup jujur untuk mengatakan mereka tidak punya cukup petunjuk. Bahkan, sejumlah cendekiawan terkenal, meminta Professor Moorhead untuk menulis kembali dan memberi tahu mereka: Apakah beliau sendiri telah menemukan tujuan hidup !
Syukur kepada TUHAN! Ia menyediakan suatu cara yang amat berbeda dari spekulasi yang penuh keragu-raguan. Yaitu Penyataan. Kita dapat menemukan tujuan hidup di dalam Firman-Nya yang adalah Kebenaran dan Pedoman hidup. Hanya ada 2 cara terbaik untuk mengetahui tujuan suatu barang dibuat: Tanyakan kepada penciptanya dan perhatikan buku petunjuknya yang ditulis pencipta barang tsb. Sama halnya, jika Anda benar-benar ingin tahu Tujuan Sang Pencipta menciptakan Anda. Maka tanyakanlah kepada-Nya dan bacalah Buku Petunjuk Hidup : Alkitab, Firman TertulisNya.
Allah sama sekali tidak meninggalkan Anda dalam kegelapan untuk mencari-cari dan menebak-nebak sambil bingung dan ragu. Dengan jelas, Dia telah menyatakan Tujuan Hidup Anda di dalam Alkitab. Alkitab adalah Buku Pedoman kita untuk hidup dan hidup lebih hidup (baca: berarti). Alkitab sebagai Buku Panduan dari Sang Pencipta, menjelaskan apa yang tak dapat dijelaskan buku filsafat maupun “buku untuk menolong diri sendiri”. 1 Korintus 2: 7 dalam salah satu terjemahan bahasa Inggris berbunyi, “Hikmat Allah … tersembunyi jauh di dalam maksud-maksud-Nya … Apa yang Allah tentukan sebagai cara untuk menyatakan hal terbaik yang Ia sediakan dalam kita, bukanlah berita terbaru, melainkan lebih merupakan berita tertua.” Terjemahan FAYH menyuarakan, “… yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita …” dan terjemahan BIS mengungkapkan, “Kebijaksanaan yang saya kemukakan itu ialah kebijaksanaan dari Allah. Kebijaksanaan itu tidak diketahui oleh dunia, tetapi Allah sudah menyediakannya untuk kebahagiaan kita sebelum dunia ini dijadikan.”
Allah bukan sekadar titik awal dalam hidup Anda; Dia adalah Sumber kehidupan. Untuk menemukan tujuan hidup Anda, Anda harus melihat apa yang dikatakan Firman Allah, bukan apa yang dikatakan dunia. Anda harus membangun kehidupan Anda berdasarkan kebenaran sejati, bukan psikologi umum, motivasi sukses, atau kisah-kisah inspiratif. Salah satu terjemahan bahasa Inggris mengungkapkan Efesus 1: 11 secara demikian,
“Di dalam Kristuslah, kita menemukan siapa kita dan untuk apa kita hidup. Jauh sebelum kita mendengar tentang Kristus untuk pertama kali, dan membangkitkan harapan-harapan kita, Dia telah merancang kita bagi kehidupan yang penuh kemuliaan, bagian dari seluruh tujuan yang Dia kerjakan di dalam segala sesuatu dan semua orang.”
Ayat ini memberitahu bahwa
- Anda menemukan identitas dan tujuan Anda melalui hubungan dengan Yesus Kristus.
- Allah memikirkan Anda jauh sebelum Anda mulai berpikir tentang Dia. Tujuan-Nya bagi hidup Anda telah ada sebelum keberadaan Anda. Dia telah merencanakan segala sesuatu sebelum Anda ada, tanpa masukan Anda! Anda bisa memilih karier Anda, pasangan Anda, hobi Anda, dan banyak hal lainnya, tetapi Anda tidak bisa memilih Tujuan Anda – Ia telah menetapkan Anda untuk Tujuan-Nya.
- Tujuan hidup Anda adalah bagian dari tujuan yang jauh lebih besar dan menyangkut semesta alam yang telah Allah rancang tentang kekekalan.
Seorang Novelis Russia , Andrei Bitov, tumbuh di bawah rezim Komunis yang Ateis (Tidak mengakui adanya Tuhan). Tetapi Allah mendapat perhatiannya pada suatu hari yang lembab. Dia mengingat, “Ketika berumur 27 tahun, sementara duduk di kereta di Leningrad (sekarang Petersburg ), saya dikuasai oleh keputus-asaan yang begitu besar, sehingga hidup rasanya berhenti seketika, seluruh masa depan nampak musnah, apalagi suatu tujuan. Tiba-tiba, sebuah frasa muncul terbesit di benakku: Tanpa Allah, hidup tidak bisa dipahami. Sambil mengulang-ulang frasa itu dengan rasa takjub, saya meluncur menaiki frasa itu seperti eskalator, keluar dari kereta, dan berjalan ke dalam terang Allah.”
Anda mungkin merasa berada dalam kegelapan mengenai tujuan hidup Anda. Selamat, Anda segera akan masuk ke dalam terang Allah!
Hari Pertama
Berpikir Tentang Tujuan Saya
Renungkanlah : Ini bukan mengenai Saya.
Kendati realitas di dunia begitu menggemakan “hidup untuk diri sendiri”, Apakah saya menyadari bahwa hidup sebenarnya adalah mengenai “Hidup untuk Allah, bukan hidup untuk diri sendiri” ?
Doa : Tuhan, singkapkanlah mata hatiku agar melihat bahwa hidup ini bukan untuk tujuan-tujuanku yg egosentris, melainkan untuk tujuan-tujuanMu yg mulia. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)