Menjadi Sahabat-Sahabat Karib Allah
Karena kita dipulihkan ke dalam persahabatan dengan Allah
melalui pengorbanan AnakNya, sementara kita masih menjadi musuhNya,
lebih-lebih kini, kita pasti akan dibebaskan dari
hukuman kekal melalui Kasih KaruniaNya di dalam AnakNya.
Roma 5: 10, NLT
Allah ingin menjadi Sahabat terbaik kita.
Hubungan antara manusia dengan Allah, dijelaskan oleh Alkitab sebagai : ciptaan dan Pencipta, orang berdosa dan Sang Juruselamat, dll. Tetapi ada suatu kebenaran yang sangat mengejutkan: Tuhan yang Maha Besar ingin menjadi Sahabat Anda!
Sebelum manusia jatuh di dalam dosa, Adam dan Hawa di Taman Eden menikmati hubungan yang ideal dengan Tuhan: suatu persahabatan yang akrab dengan Tuhan. Tidak ada upacara atau ritual yang bermacam-macam, hanya hubungan kasih yang sederhana namun bermakna antara ciptaan dan Pencipta. Semua begitu indah dan akrab dan ideal. Tetapi ketika manusia mengambil keputusan yang salah, segala sesuatunya menjadi berbeda. Manusia kehilangan akses langsung kepada Allah, karena keberdosaan mereka yang tidak dapat dikompromikan dengan Standar Allah yang sempurna, kudus, dan benar.
Hanya sedikit orang yang benar-benar menyerahkan diri kepada Allah dalam zaman Perjanjian Lama sehingga dapat memiliki persahabatan yang karib dengan Tuhan. Abraham, Musa, Nuh, Ayub, dan yang lainnya adalah tokoh Perjanjian Lama yang bersahabat dengan Tuhan. “Dan TUHAN berbicara kepada Musa seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan.” (Keluaran 33: 11) “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” (Kejadian 6: 8) “Allah bergaul karib dengan aku” (Ayub 29: 4) “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu Abraham disebut: Sahabat Allah.” (Yakobus 2: 23)
Persahabatan di dalam pengertian umat masa perjanjian Lama adalah hubungan yang dekat denganNya, namun disertai kegentaran (ketakutan akan hukuman atas dosa-dosa) dan rasa keberdosaan diri, seringkali ini yang menghalangi sempurnanya persahabatan dengan Allah. Maka Yesus Kristus datang untuk “menyempurnakan” hubungan persahabatan denganNya, menjadikan hubungan ini sempurna. Sungguh “keragu-raguan” karena dosa-dosa, telah tidak perlu lagi! Karena Karya Penebusan oleh Yesus Kristus telah “menghapus” dosa-dosa umatNya. Anda tidak perlu lagi “takut dihukum”. Melainkan oleh KasihNya yang begitu besar, Anda harus “menyadari”, “menyesali”, dan “mengakui” dosa-dosa Anda di hadapanNya dan hal yang tidak boleh ketinggalan ialah: “meninggalkan” perbuatan dosa-dosa itu. Hubungan persahabatan dengan Allah menjadi mungkin sempurna ketika Yesus Kristus menebus Anda dan saya. Hanya tinggal keputusan Anda dan komitmen Anda untuk menjalani suatu hubungan yang mesra denganNya.
Ketika Yesus mati di kayu salib, tabir di Bait Suci, yang melambangkan “keterpisahan dari Allah”, robek dari atas ke bawah, menunjukkan bahwa “jalan masuk langsung kepada Allah” sekali lagi tersedia! Dahulu, imam-imam Perjanjian Lama, harus mempersiapkan waktu berjam-jam untuk menemuiNya, namun kita sekarang dapat menemui Allah kapan saja hanya melalui “Satu Jalan”, yakni “Di dalam Nama Yesus Kristus”. Yesus Kristus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14: 6)
“Sekarang kita bisa bersuka dalam hubungan yang baru dan indah dengan Allah, semuanya karena apa yang telah dilakukan Yesus Kristus dalam memulihkan hubungan kita denganNya menjadi sahabat-sahabat Allah.” (Bnd. Roma 5: 10,11) Persahabatan dengan Tuhan hanya dimungkinkan oleh kasih karunia dan pengorbanan Kristus Tuhan. Penderitaan dan pengorbanan Yesus di dunia ini adalah “wujud nyata” dari kasih karunia Allah Bapa kepada manusia. Ya, suatu bukti nyata, bukan sekadar kata-kata belaka ! Terjemahan Good News mendefinisikan istilah “mendamaikan” dalam 2 Korintus 5: 8, sebagai : “mengubah kita dari musuh menjadi sahabat-sahabatNya melalui Yesus Kristus.” Sungguh Allah menunjukkan keinginanNya yang mulia untuk kita dapat memiliki hubungan yang intim dan akrab dengan Segenap DiriNya. Perhatikanlah : “… supaya kamupun beroleh persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus.” (1 Yohanes 1: 3)
Ini semua bukan sekadar teori orang Kristen belaka. Dengan jelas, Alkitab menunjukkan “penyataanNya” kepada Anda. Yesus benar-benar menginginkan Anda sebagai SahabatNya yang akrab denganNya. “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yohanes 15:15)
Kata “sahabat” di ayat itu merujuk kepada hubungan yang akrab dan dapat dipercaya, bukan sekadar hubungan biasa. Kata yang sama dipakai untuk menunjuk kepada sahabat mempelai pria pada sebuah pernikahan (Yoh. 3: 29) dan sahabat-sahabat dekat raja. Di istana raja, para hamba harus menjaga jarak dengan sang raja, tetapi “Kalangan khusus”, yakni teman-teman yang dipercayai Raja, dekat dengan Raja, memiliki akses langsung, dan dapat memperoleh informasi rahasia dari Raja. Allah tidak menginginkan hubungan yang renggang, Ia menginginkan keakraban!
Memang kelihatannya aneh dan sulit dipahami Penguasa Alam Semesta yang Maha Kuasa menginginkan Anda dan saya sebagai SahabatNya. Tetapi itulah kebenaran Alkitab yang ajaib. Hosea 6 :6 menjelaskan kehendak Tuhan yang sesungguhnya, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Dahulu, bangsa Israel mempersembahkan berbagai-bagai korban binatang sebagai ucapan syukur mereka. Namun, ternyata Tuhan menginginkan persembahan sesungguhnnya, yakni hati UmatNya, yang mengenal Dia dengan akrab. Tuhan ingin kita mengenalNya secara akrab, bukan sekadar tahu bahwa Tuhan itu Maha Kasih dan Maha Kuasa, tetapi benar-benar memiliki keakraban denganNya dan mengalami keajaiban DiriNya melalui iman yang benar. Perhatikanlah: “Apakah masih ada di antara Saudara yang beranggapan bahwa "percaya saja" sudah cukup, yaitu percaya kepada satu Allah? Ingatlah bahwa setan-setan juga percaya, bahkan sedemikian rupa hingga mereka gemetar ketakutan!” (Yakobus 2: 19, FAYH) Lalu, apa bedanya Anda dengan roh-roh jahat? Anda perlu membuat perbedaan! Anda perlu mengenal Allah lebih akrab dan lebih dekat lagi kepadaNya.
Seringkali kita mencoba berbangga untuk alasan-alasan yang salah, baiklah kini kita membuat suatu perbedaan yang baik. “Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” (Lih. Yeremia 9: 23-24)
Sulit membayangkan bagaimana suatu persahabatan yang akrab bisa terjadi antara Tuhan yang tak terbatas dan sempurna dengan manusia yang terbatas dan berdosa. Namun, melalui Alkitab, kita akan melihat “rahasia” persahabatan dengan Allah. Kita akan melihat 2 rahasia pada tulisan ini dan 4 rahasia pada tulisan berikutnya.
Menjadi Sahabat-Sahabat Allah
Melalui percakapan yang terus menerus.
Anda tidak akan pernah memiliki hubungan yang dekat dengan Allah hanya dengan menghadiri gereja sekali seminggu atau sekadar pada hari besar saja! Persahabatan dengan Allah dibangun dengan berbagi semua pengalam hidup Anda denganNya. Tentu, penting untuk berdoa setiap hari, tetapi Tuhan menginginkan lebih dari sekadar sebuah janji bertemu dalam jadwal Anda. Ia ingin terlibat dalam setiap kegiatan Anda, setiap masalah, dan setiap pikiran Anda. Pengertian “doa” seringkali disalahartikan sebagai berkata-kata kepada Tuhan pada waktu “tertentu” saja. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa: “dan berdoalah senantiasa”. (1 Tesalonika 5: 17, BIS)
Ini berarti Anda dapat berbicara kepadaNya setiap saat, kapanpun juga. Anda dapat mengutarakan isi hati Anda dengan terbuka kepadaNya sepanjang waktu Anda. Berbicara tentang apa yang sedang Anda lakukan atau pikirkan atau rasakan pada saat itu di setiap waktu Anda. Anda tidak harus memejamkan mata, tetapi membuka hati Anda kepadaNya. Anda tidak perlu meluangkan waktu Anda, melainkan “sediakan” waktu Anda bagi Allah ! Sehingga ketika Anda bekerja, atau berjalan-jalan, atau berbelanja, Anda dapat mengungkapkan “segala sesuatu” dalam hati Anda kepadaNya. Anda tidak perlu malu kepada seorang sahabat dekat, demikian pula Anda juga tidak perlu malu untuk bercakap-cakap denganNya. Ia selalu punya waktu untuk Anda!
Seringkali “menggunakan waktu bersama Allah” disalahartikan hanya sekadar “waktu-waktu sendirian” bersamaNya. Itu memang penting dan perlu, tetapi Anda tidak dapat mengunci diri 24 jam sendirian di kamar Anda denganNya. Ia ingin terlibat dalam aktivitas Anda! Anda dapat mengundangNya untuk bercengkerama bersamaNya mengenaikeseharian Anda. Segala sesautu yang Anda lakukan, dengan mengajakNya menemani dan menyertai Anda, akan sama sekali berbeda rasanya! Anda tidak sendirian! Ia Imanuel adalah Sahabat yang selalu menyertai Anda. Ketika Anda “tetap sadar” akan kehadiranNya di sepanjang aktivitas Anda karena Anda telah mengajakNya, Anda akan merasakan bahwa Dia sungguh-sungguh dekat dan nyata! Melalui komunikasi yang nyata dan kontinu ini, Anda diarahkan untuk lebih lagi dekat kepadaNya dan semakin merasakan kebersamaan DiriNya dengan Anda di setiap waktu. Lakukanlah dengan tulus, rendah hati, terbuka, iman percaya di dalam Tuhan Yesus, dan antusias, Anda akan menyaksikan sendiri perbedaannya!
Sebuah buku berjudul, “Practicing The Presece of God”, mengenai cara mengembangkan percakapan yang senantiasa dengan Allah. Kunci menuju persahabatan dengan Allah, menurut penulis buku ini, adalah: Tidak mengubah apa yang Anda kerjakan, tetapi Mengubah “Sikap Anda” terhadap apa yang Anda lakukan. Apa yang biasannya Anda lakukan sendirian, mulailah mengajakNya dalam aktivitas Anda. Apa yang biasanya Anda lakukan untuk kepentingan diri sendiri saja, mulai sekarang lakukanlah bagi Tuhan. Anda tidak perlu mengubah cara Anda mandi, tetapi Anda perlu mengubah “sikap hati” Anda di dalam aktivitas itu: “Saya mandi untuk menjaga kebersihan tubuh yang diberikan Allah kepada saya. Saya senang karena Tuhan selalu menjaga dan melindungi saya.” Kini, Pikiran Anda menyediakan tempat secara spesial kepada Tuhan dalam keseharian Anda. Anda mulai berpikir tentangNya, bersyukur dengan tulus kepadaNya, dan menyadari kehadiranNya bersama Anda – Ya, tepat di sisi Anda, Anda tidak melihat, tapi Anda “merasakan” keberadaanNya! Anda perlu tahu siapa penulis buku tadi. Ia ialah Brother Lawrence, seorang juru masak sederhana dari sebuah biara Perancis. Ia tetap menyiapkan hidangan dan mencuci piring, namun dengan “cara pandang” yang berbeda: Ia menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai tempat dimana Allah bersama-sama denganNya. Ia tidak melupakan Allah, ketika melakukan kesehariannya. Inilah yang sebenarnya: Kita tidak mengingat Allah hanya pada saat kebaktian hari minggu saja, tetapi kita mengingat PenyertaanNya kapanpun juga di setiap waktu kita !
Seringkali kita berpikir bahwa kita harus “selalu meninggalkan” aktivitas harian kita, untuk menyembah Allah. Kita memang harus menyediakan waktu untuk beribadah kepada Tuhan, tetapi jangan sampai kita kehilangan makna KehadiranNya di setiap waktu. Kita harus belajar untuk merasakan kehadiranNya di sepanjang aktivitas harian kita. Belajar mengubah “sudut pandang” Anda. Belajar “mengubah sikap hati kita”. Belajar untuk mengajakNya turut serta dalam tugas harian kita.
Di Taman Eden, penyembahan bukan suatu acara untuk dihadiri, melainkan suatu “sikap yang berkesinambungan”. Adam dan Hawa ada dalam hubungan cinta kasih yang terus menerus dengan Allah. Sayangnya, mereka melakukan kesalahan yang amat fatal, yakni dosa. Jadikanlah, hubungan Anda dengan Tuhan sebagai suatu persahabatan yang akrab. Jangan berdoa bertele-tele: panjang lebar tanpa makna dan tanpa ketulusan hati. Percakapan terus menerus dengan Allah tidak harus ditandai doa yang rumit dan panjang lebar. Mulailah “doa kilat”, sebuah doa yang sederhana dan dengan tulus dari hati Anda. Anda harus fokus kepada Tuhan! Jangan mengaburkan fokus Anda dengan doa yang bertele-tele. Tuhan tidak suka kemunafikan yang terkandung dalam “doa yang bertele-tele”. Anda harus belajar terbuka kepadaNya dan bercakap-cakaplah denganNya dengan kata-kata yang sederhana. Anda tidak harus menjadi pujangga atau sastrawan dahulu untuk dapat bersahabat denganNya! Gunakan bahasa dengan baik, jujur, dan sopan. Kita memerlukan “keakraban” dengan Tuhan, bukan “kata-kata” yang munafik dan bertele-tele. Hal ini bukan berarti Anda tidak boleh berdoa dalam waktu yang agak lama. Ini menegaskan bahwa doa itu harus “tulus” dari hati Anda ke HatiNya, “jujur” tanpa kemunafikan, “murni” karena mengasihi Allah, dan “terbuka” kepada Sahabat yang Maha Mengerti akan apa yang Anda hadapi.
1 Tesalonika 5: 17 berbunyi, “Tetaplah berdoa.” Terjemahan The Message mengungkapkan 1 Tesalonika 5: 17, “pray all the time”, berarti berdoa di segala waktu, setiap saat. Bagaimana kita bisa berdoa di setiap saat? Caranya ialah “doa kilat” atau “doa napas”. Disebut doa kilat, karena sekejap mata, refleks, spontan, atau langsung Anda ungkapkan secara singkat dan sederhana, tanpa harus terlebih dahulu merangkai banyak ide-ide dalam otak Anda. Disebut doa napas, karena diucapkan dalam satu tarikan napas. Begitu singkat dan cepat. Contohnya; Anda berkata, “Puji Tuhan!”, ketika Anda mendapat kabar gembira. Anda berkata, “Engkau besertaku”, “Tuhan, tolong daku”, “Aku mengandalkanMu, Yesus”, ketika Anda menghadapi sesuatu masalah atau bahaya. Semakin Anda membaca Alkitab, Anda akan menemukan banyak frase yang indah untuk dijadikan “doa singkat” ini: “Aku datang kepadaMu ya Tuhan”, “Engkau, Allah yang setia”, “Terima kasih, Bapa yang kekal”, “Engkau ialah Gunung batu keselamatanku”, dll. Ini singkat, tetapi harus terus menerus. Dengan demikian, Anda tidak harus ada di kamar untuk berdoa sekian jam. Namun, dalam keseharian Andapun dapat berdoa terus menerus. Ini begitu indah, sehingga Anda tidak lupa akan penyertaanNya kepada Anda! Anda perlu membiasakan diri untuk “selalu berdoa”, lakukanlah jangan hanya membaca saja! Ini sangat menyenangkan. Namun jangan lupa juga berdoa secara pribadi dengan Allah, sediakan waktu secara khusus untuk introspeksi dan evaluasi keadaan Anda bersamaNya.
Anda perlu belajar untuk selalu mengingat Allah semaksimal mungkin. Caranya? Gunakan “pengingat-pengingat”. Anda bisa membuat “catatan kecil” dan Anda tempelkan di tas, kendaraan, buku, alat tulis, dinding, meja dll. Tujuannya untuk mengingatkan Anda mengucapkan “doa singkat”, bisa ucapan syukur atau permohonan. Jikalau Anda punya alarm pada handphone, Anda juga dapat menetapkan jam-jam berapa saja, Anda akan ber-“doa singkat” kepadaNya. Kadang Anda merasakan hadiratNya, kadang juga tidak. Mengapa? Karena Anda bersyukur kepadaNya bukan “supaya” mengalami kepuasan batin, melainkan semata-mata mengucap syukur secara tulus kepada Allah. Ya, karena Allah dan bagi Allah. Motivasi Anda harus benar. Ia pasti akan memberi apa yang Anda perlukan, jikalau Anda belajar melakukannya dengan benar.
Jika Anda sedang mencari suatu pengalaman rohani tentang hadiratNya melalui semua ini, maka Anda salah mengerti. Kita tidak memuji Allah untuk merasa enak, tapi untuk melakukan hal yang baik dan benar. Yang menjadi tujuan Anda bukanlah perasaan Anda supaya “puas”, tetapi Allah sendiri. Ya, Pribadi yang Maha Kuasa itu-lah tujuan doa-doa kita, bukan pribadi kita yang berdosa. Sehingga Anda dapat menyadari terus menerus suatu kenyataan bahwa Allah selalu ada, kapanpun Anda mencariNya. Inilah gaya hidup menyembah Allah.
Melalui meditasi yang terus menerus.
Cara kedua untuk membangun persahabatan dengan Allah adalah dengan merenungkan FirmanNya secara terus menerus. Inilah meditasi menurut iman Kristen: suatu perenungan mendalam dan menyeluruh dari potensi akal pikiran (rasio) dan potensi rohani (hati) manusia. Alkitab menegaskan kita untuk secara berkesinambungan merenungkan siapa itu Allah, apa yang telah difirmankanNya, dan apa yang telah dilakukanNya. “Aku teringat kepada hari-hari dahulu kala, aku merenungkan segala pekerjaan-Mu, aku memikirkan perbuatan tangan-Mu.” (Mazmur 143: 5) “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya.” (Yosua 1: 8)
Anda tidak bisa menjadi sahabat Allah, jika Anda tidak mengasihiNya. Anda tidak bisa mengasihiNya, jika Anda tidak mengenalNya. Anda tidak dapat mengenalNya, jika Anda tidak mengenal FirmanNya. Sebagaimana tertulis di 1 Samuel 3: 21, “sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.” Allah masih mempergunakan metode ini sampai sekarang.
Mungkin Anda tidak dapat menghabiskan sepanjang hari untuk mempelajari Alkitab. Akan tetapi, Anda bisa merenungkanNya sepanjang hari. Ya, mengingat-ingat ayat-ayat yang telah Anda baca atau hafal, mempertimbangkan maknanya di dalam hati dan pikiran Anda, rela memaksa diri untuk rela mengulang-ulang ayat-ayat itu dalam benak Anda. Meditasi seringkali disalah-artikan sebagai ritual yang rumit dan misterius yang dilakukan para biarawan atau kaum mistik yang mengasingkan diri. Padahal, menurut iman Kristen, meditasi hanyalah: berpikir secara terfokus, suatu kemampuan yang dapat diasah dan dilakukan dimana pun. Ini mempergunakan akal pikiran dan hati Anda. Bukan sekadar kemampuan intelektual Anda, ini melibatkan hati nurani Anda.
Jika Anda memikirkan suatu masalah berulang-ulang, itu namanya khawatir. Bila Anda memikirkan FirmanNya berulang-ulang, itu namanya meditasi. Jika Anda tahu bagaimana untuk khawatir, Anda tahu bagaimana untuk bermeditasi ! Anda hanya perlu memindahkan fokus Anda dari permasalahan yang menyesakkan ke Firman Tuhan yang melegakan!
Ayub dan Daud adalah sahabat-sahabatNya. Mereka sungguh menghargai FirmanNya lebih dari segala hal, inilah rahasianya! Ayub 23:12 NIV berbunyi, “I have not departed from the commands of His lips; I have treasured the words of his mouth more than my daily bread.”, artinya Saya tidak pernah meninggalkan perkataanNya; Saya menghargai perkataanNya lebih dari makanan harianku (roti). Mazmur 119: 97 menekankan, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” Mazmur 77: 12 NLT berbunyi, “They are constantly in my thoughts. I cannot stop thinking about Your mighty works.”, artinya Segala hal itu selalu ada dalam pikiran-pikiranku. Saya tidak bisa berhenti memikirkan Perbuatan-perbuatanMu yang ajaib.
Sahabat saling berbagi rahasia dan Allah akan berbagi rahasiaNya dengan Anda jika Anda menegmbangkan persahabatan yang sungguh-sungguh denganNya. Allah memberi tahu kepada kita menurut kasih karuniaNya tentang apa yang sama sekali tak pernah diketahui manusia, seperti rahasia bencana air bah yang diberitahukan kepada Nuh dan rahasia hukuman atas Sodom dan Gomora yang diberitahukan kepada Abraham, sebelum semua itu terjadi. “Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Tetapi seperti ada tertulis: Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:7,9)
Ketika Anda membaca Alkitab atau mendengar khotbah, jangan datang hanya untuk melupakannya, tapi pergi-lah untuk melakukannya ! Anda perlu merenungkan: memahami secara berulang-ulang kebenaran FirmanNya. “Persahabatan dengan Allah disediakan bagi orang-orang yang menghormati Dia. Hanya kepada mereka Ia memberitahukan rahasia janji-janji-Nya.” (Mazmur 25: 14, FAYH)
Mulailah melakukan percakapan yang terus menerus dengan Allah dan mengingat-ingat FirmanNya senantiasa. Doa, pada umumnya, ialah Anda berbicara kepada Tuhan; dan meditasi, pada umumnya, ialah Tuhan berbicara di dalam hati nurani dan pikiran-pikiran Anda! Kedua hal ini penting untuk dilakukan, sangat menolong kita untuk menjadi sahabat karibNya.
Hari Kesebelas
Tujuan Pertama :
Anda direncanakan untuk menyenangkan Allah
Renungkanlah : Apakah saya mau memulai dan komit untuk berdoa kepadaNya di sepanjang aktivitas harian saya? Lalu apakah saya mau memulai dan komit untuk merenungkan FirmanNya siang dan malam?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)