Halaman

Sabtu, 12 Februari 2011

TPDL Hari 12

Mengembangkan Persahabatan Anda dengan Allah

TUHAN menawarkan persahabatan denganNya 
kepada orang yang taat kepadaNya
Amsal 3: 32, NLT

Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.
Yakobus 4:8

Kedekatan Anda dengan Allah bergantung pada keputusan Anda.


Allah selalu siap untuk menjalin persahabatan dengan Anda. Namun masalahnya ada di pihak kita: manusia yang cenderung memberontak. Kita seringkali berbuat ulah, dan setiap tindakan kita ada konsekuensinya. Seperti semua persahabatan lainnya, Anda harus berhasrat dan berusaha sungguh-sungguh untuk mengembangkan persahabatan dengan Allah. Persahabatan yang karib membutuhkan proses, bukan suatu kebetulan yang sekejap! Dibutuhkan kerinduan, waktu, tenaga, dan kesungguhan.
Saya harus memutuskan untuk jujur kepada Allah.
Dasar utama untuk persahabatan yang lebih akrab denganNya adalah “kejujuran” dan “keterbukaan” sepenuhnya. Anda harus jujur dan mengungkapkan secara terbuka tentang kesalahan, kekurangan, atau perasaan Anda. Tidak seorangpun sempurna, kecuali Allah dan AnakNya sendiri. Anda harus mengakui dengan jujur keberdosaan dan isi hati Anda. Ia mengetahui segalanya, termasuk mengenai Anda. Tetapi Ia ingin Anda mengungkapkan kepadaNya. Itu jauh lebih baik dan menimbulkan ketenangan di hati Anda daripada membiarkan hubungan Anda denganNya semakin dipenuhi oleh ketidakjujuran dan ketertutupan Anda. Anda mengutarakan isi hati Anda, bukan supaya Ia tahu, Ia adalah Allah yang Maha Tahu! Namun supaya Anda semakin dekat dan akrab denganNya. Istilah “curhat”, yakni mengungkapkan isi hati kepada seseorang, sebenarnya amat bermanfaat daripada Anda memikul beban Anda sendirian. Ungkapkan dengan jujur dan terbuka, itu berarti Anda menyerahkan segala beban Anda kepadaNya, Sobat Sejati. Tuhan tidak mengharapkan Anda sempurna, tetapi Dia amat menekankan kejujuran. Ia yang menyempurnakan diri Anda bagiNya dengan kuasa dan kedaulatanNya sendiri.
Anda perlu belajar untuk mengungkapkan perasaan Anda secara jujur kepadaNya. Bahkan beberapa tokoh Alkitabpun menuduh dan mengeluh dan kelihatan memprotes Allah. Namun Allah lebih menyukai kejujuran daripada kemunafikan. Tapi tidak berarti Allah menyukai kata-kata yang liar daripada kata-kata yang sopan. Allah mengerti dan perduli akan persoalan kita. Bersikap terbuka sekarang adalah lebih baik daripada “memendam” sesuatu hingga suatu saat tiba-tiba “meledak” dengan akibat yang jauh lebih fatal. Jujurlah kepada Tuhan dan ketika Anda telah cukup dewasa secara rohani, Anda akan mengerti bahwa proses ini tidak selalu diisi dengan “lembaran putih” saja, namun juga lembaran dengan warna-warna lainnya. Mohonlah kepada Tuhan untuk menguatkan dan memimpin Anda agar tidak salah langkah.
Allah dengan sabar menghadapi tuduhan dan keluhan Daud (Mazmur 10: 1, 17). “ 1 Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan? ----- 17 Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kaudengarkan, ya TUHAN; Engkau menguatkan hati mereka,” Akan tetapi di ayat 17, Daud menyadari bahwa Tuhan masih dan tetap perduli akan kesusahan orang yang mengasihiNya.
Pemazmur juga menyerukan kegundahan hatinya kepada Allah dengan jujur: “Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu !” Namun di ayat berikutnya, pemazmur menyadari bahwa ia tidak perlu meragukan Allah, sebaliknya ia harus belajar mempercayai Allah sepenuhnya. “Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku! Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur  43: 1-3, 4-5)
Persahabatan sejati dibangun di atas dasar keterbukaan. Apa yang mungkin namoak sebagai keberanian, dipandang Allah sebagai kebenaran. Allah mendengarkan kata-kata yang jujur dari sahabat-sahabatNya. Allah tidak menyukai kata-kata yang bertele-tele, supaya terkesan rohani ataupun religius. Allah menginginkan kejujuran hati Anda, bukan akting maupun kemunafikan Anda. Terbukalah kepadaNya, sebab Ia ialah Sobat Sejati yang begitu mengerti dan perduli akan Anda. Untuk menjadi sobat dekatNya, Anda harus jujur kepadaNya, bukan berdoa secara agamawi dan “serba manis” saja. Jangan menipu diri Anda sendiri apalagi Allah!
Mungkin Anda ingin sekali protes kepadaNya: mengapa aku harus menghadapi trauma yang begitu menyakitkan, doa-doa yang sepertinya tak dijawab Tuhan, dan berbagai persoalan lainnya. Jangan menyimpan “keretakan tersembunyi” di dalam hati Anda terhadap Allah. Ungkapkanlah perasaan dan kegundahan hati Anda, dan mintalah Ia untuk menyadarkan Anda agar menyerahkan segala sesuatunya kepada Dia. Tuhan memakai segala sesuatu demi kebaikan kita, entah melalui peristiwa yang menyenangkan ataupun tidak. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8: 28)
Keterbukaan adalah awal dari pemulihan. Ada bagian Alkitab yang merupakan contoh jeritan hati, kemarahan, kebimbangan, ketakutan, keluhan, gejolak perasaan, dan semua itu diungkapkan dengan jujur dan terbuka di dalam Mazmur. Alkitab bukan sekadar berisi hal-hal yang nampaknya manis-manis saja, tetapi dengan jujur mengakui bahwa dalam mengikut Tuhan ada proses, dan proses itu tidak-lah selalu hal yang kita sukai ! Alkitab sangat realistik dalam mencatat perkembangan iman anak-anakNya. Kejujuran dan keterbukaan sangat penting. Jangan memakai topeng Anda lagi. Lepaskanlah semua isi hati Anda kepadaNya. Sehingga hubungan Anda denganNya semakin akrab, bukan suatu formalitas belaka! Sebagaimana Daud berdoa: “Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN. Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuungkapkan ke hadapan-Nya, Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku. Engkaulah yang mengetahui jalanku.” (Mazmur 142: 2-4a)
Mengetahui bahwa semua sahabat karib Allah, seperti Musa, Daud, Ayub, pernah mengalami kegundahan, membuat kita tidak kecil hati. Mereka tidak menutup-nutupi perasaan mereka dengan kata-kata palsu yang agamawi, malahan mereka dengan terus terang dan terbuka, menyuarakan isi hatinya yang sebenarnya kepada Tuhan. Anda perlu jujur dan terbuka, untuk dapat bersahabat akrab dengan Allah!
Saya harus memutuskan untuk taat kepada Allah dalam iman.
Setiap kali kita taat melakukan Firman Allah, seklaipun sebenarnya kita tidak suka untuk mengampuni orang yang menyakiti hati kita, Anda telah memperdalam hubungan Anda dengan Sobat Sejati. Dunia menganggap ketaatan bukanlah ciri khas dari persahabatan. Tetapi, Yesus menjelaskan bahwa ketaatan amat diperlukan untuk bersahabat denganNya : “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15: 14)
Yesus mempergunakan kata “sahabat”, dalam pengertian “sahabat-sahabat raja”. Sekalipun sahabat raja ini mempunyai berbagai hak istimewa, tetapi mereka tetap harus tunduk kepada Raja dan menaati perintah-perintah Raja. Demikian pula, kita memang diangkat sebagai sahabat-sahabat Allah, tetapi kita tidaklah “se-derajat dengan-Nya”. Kita tetap harus menaati Allah. Orang-orang lain seringkali berpikir bahwa orang-orang Kristen menaati Allah, karena keharusan, atau karena rasa bersalah, atau karena takut dihukum; padahal yang sebenarnya justru sebaliknya! Kita taat karena kita telah diampuni dan dibebaskan dari perbudakan dosa! Kita menaati Allah, bukan karena takut dihukum atau terpaksa, melainkan karena KASIH.Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 Yohanes 4: 9, 10, 19)
Kita menaatiNya karena mengasihiNya dengan sungguh-sungguh. Kita menaati Allah karena rasa syukur atas segala hal yang telah dikerjakanNya bagi kebaikan kita, terutama SalibNya. Satu hal yang tak boleh terlupakan ialah: ketaatan mendatangkan sukacita sejati kepada kita dan kepadaNya! “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (Yohanes 15: 9-11)
Persahabatan sejati tidak pasif; persahabatan sejati bertindak ! Ya, bekerja dan berkarya ! Persahabatan denganNya memotivasi kita untuk mengasihi sesama, bahkan mengampuni musuh kita; berbagi dan perduli dengan yang kekurangan; hidup dalam kebenaran dan kebaikan; membawa orang lain kepadaNya; dan banyak hal lagi yang dapat dikerjakan dengan nyata bagi Sobat Sejati kita. Anda dapat menyiapkan “berbagai kejutan” untukNya, Ia tahu akan “kejutan” itu, tapi yang penting adalah Ia senang, dan kita pun juga senang.
Kita diajak untuk melakukan ‘hal-hal yang besar’ bagi Sobat Sejati. Namun, Allah juga senang ketika kita melakukan ‘hal-hal kecil’ bagi Dia, karena taat oleh kasih. Hal-hal kecil itu mungkin tak dilihat dan tak diperhatikan orang lain, tetapi Allah memperhatikan dan perduli akan hal itu. Ia bukan Allah yang terlalu teledor untuk melewatkan suatu hal yang besar; dan Ia juga bukan Allah yang terlalu jauh untuk melupakan suatu hal yang kecil. Ia memperhatikan setiap rincian (detail) tingkah laku Anda!
Kesempatan besar mungkin datang sekali seumur hidup; tetapi kesempatan kecill mengelilingi kita setiap hari ! Bahkan dengan tindakan sederhana, seperti berkata-kata dengan sopan, memberikan senyuman yang tulus, menyemangati orang yang putus asa, atau membuang sampah pada tempatnya; ini semua membuat Allah tersenyum, Ia senang dengan ketaatan Anda !
Yesus Kristus mengawali pelayanan umumNya pada umur 30 tahun. Pada waktu, Yohanes mengesahkan awal mula pelayanan Yesus, terdengar Allah berfirman: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi dan Aku benar-benar senang kepadaNya.” (Matius 3: 17, NLT) Lalu, apa sebenarnya yang dilakukan Yesus selama 30 tahun sehingga begitu menyenangkan Allah? Alkitab menerangkan dalam Lukas 2:51 terjemahan The Message, “So He went back to Nazareth with them, and lived obediently with them”, artinya Yesus kembali ke Nazaret bersama orang tuanya, dan hidup dengan taat bersama mereka. 30 tahun menyenangkan Allah diringkas dalam 3 kata saja: “Hidup dengan Taat” ! Renungkanlah : Betapa ketaatan menyenangkan Allah!
Saya harus memutuskan untuk menghargai apa yang Allah hargai
Inilah yang dikerjakan oleh sahabat, mereka peduli pada apa yang dianggap penting menurut Sahabatnya itu. Semakin Anda bersahabat akrab dengan Allah, Anda semakin peduli dengan apa yang mendukakan dan menyukakan Allah. Anda semakin sensitif dan peduli akan perasaan Allah. Ia selalu mengerti dan peduli akan kita, tetapi kita seringkali tidak mengizinkanNya untuk menyelesaikan permasalahan kita. Kita seringkali membiarkan Dia menunggu di luar pintu hati kita, tanpa mempersilakanNya masuk ke dalam hati Anda. Rasul Paulus menjadi contoh. 2 Korintus 11:2 terjemahan The Message menyatakan bahwa: “Hal yang begitu menguasai aku adalah aku begitu memperdulikan kamu, inilah kerinduan Allah yang menyala-nyala di dalamku !” “Semangatku berkobar karena cinta kepada Rumah-Mu, olok-olokan orang yang menghina Engkau menimpa diriku.” (Mazmur 69: 10, BIS) Turut merasakan apa yang Tuhan rasakan dan turut memperdulikan apa yang Ia perdulikan.
Apa yang paling Allah pedulikan? Keselamatan manusia. Dia ingin semuanya kembali kepadaNya. Ia memberikan semua orang hak dan kebebasan untuk memilih, apakah mau mengikutNya atau mengikut hawa nafsu diri sendiri. Lalu, sebagai seorang sahabatNya, apa yang dapat kita lakukan? Sebagai sahabatNya, kita akan dan pasti memberitahukan, mengabarkan, dan menceritakan kepada teman-teman kita tentang Kasih dan Karunia Allah dalam Yesus Kristus.
Saya harus memutuskan untuk merindukan hubungan denganNya melebihi apapun juga
Kitab Mazmur menunjukkan contoh-contoh “kerinduan”, hasrat terdalam. Daud sungguh-sungguh ingin mengenal Allah lebih dari segala yang ada. Dia menggunakan kata-kata: rindu, ingin, haus, lapar. Daud benar-benar mendambakan Allah. “Satu hal yang kuinginkan dari Allah, yang sungguh-sungguh menjadi kerinduanku, ialah berbakti di dalam rumah-Nya, hidup di hadirat-Nya sepanjang umurku, dan bersukacita atas kesempurnaan dan kemuliaan-Nya yang tidak ada taranya.” (Mazmur 27: 4, FAYH) “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.” (Mazmur 63: 3)
Allah tidak tersinggung, jika kita “bergumul” denganNya. Ya, sungguh-sungguh mengutarakan isi hati kita. Karena bergumul membutuhkan hubungan yang lebih pribadi dan membawa kita lebih dekat kepadaNya. Ketahuilah: Allah benar-benar senang dengan orang-orang yang bersungguh-sungguh merindukanNya.

Rasul Paulus berprinsip bahwa: persahabatan dengan Allah adalah prioritas utama, fokus mutlak, dan tujuan hidupnya. Filipi 3:10 terjemahan Amplified menegaskan kerinduan Rasul Paulus bahwa : “Tujuanku adalah supaya aku mengenalNya, yakni semakin lama aku semakin dalam dan akrab dalam hubungan denganNya, menerima dan mengenali dan memahami keajaiban PribadiNya dengan lebih jelas; serta dengan cara yang sama, aku dapat mengenal kuasa di balik KebangkitanNya untuk semakin meneladaniNya.”

Kebenarannya ialah: kedekatan dengan Allah bergantung pada keputusan yang Anda ambil. Anda harus bersungguh-sungguh denganNya. Apakah Anda benar-benar menginginkannya lebih dari apa pun? Seberapa berharga hal itu bagi Anda? Apakah Anda rela mengorbankan egoisme Anda demi Allah? Apakah Anda mau belajar taat dan mengasihiNya dengan sungguh-sungguh?

Mungkin saja Anda memilki kerinduan akan Allah pada saat-saat pertama Anda menerimaNya. Tetapi apakah kini Anda masih memiliki hal itu? Jangan melakukan perintah Tuhan karena terpaksa, tetapi lakukanlah karena KASIH! Anda harus senantiasa memiliki kerinduan dan keakraban denganNya. Jangan heran ketika Anda mulai menjauh dariNya, Ia bisa saja menegur Anda dengan “masalah” atau “kesulitan”. Penderitaan mendorong kita dengan kuat untuk berubah menjadi lebih baik. C.S. Lewis berkata: “Penderitaan adalah corong pengeras suara dari Allah”. Allah mengizinkan “permasalahan” atau “kesusahan” untuk mencairkan kebekuan rohani kita, supaya Anda tidak bermalas-malasan atau betah dalam kondisi iman yang tidak beres. Masalah-masalah adalah panggilan Allah untuk membangunkan Anda, untuk menyadarkan Anda, untuk mengingatkan Anda akan keberadaanNya. Tuhan sangat mengasihi Anda, Ia “sama sekali” tidak membiarkan Anda, namun Ia tetap memberikan Anda hak untuk memilih: Ia atau dosa. Berdoalah: “Tuhan Yesus, lebih dari apapun, aku ingin mengenal Engkau lebih dalam.” Yeremia 29:13 terjemahan The Message berbunyi:

“Ketika engkau mencari Aku, engkau akan menemukanKu. Ya, ketika engkau sungguh-sungguh ingin menjumpaiKu dan merindukan perjumpaan denganKu lebih dari apapun juga, Aku akan menjamin bahwa engkau tidak akan kecewa.”

Tidak ada yang lebih penting daripada mengembangkan persahabatan dengan Allah. Ini berbicara hal yang abadi, sejati, dan kekal – selama-lamanya. “Beberapa di antara orang-orang ini telah kehilangan yang terpenting dalam hidup mereka -- mereka tidak mengenal Allah.” (1 Timotius 6: 21, FAYH) Apakah Anda juga kehilangan hal terpenting ini? Jika Anda sungguh-sungguh menginginkan hal ini, Anda dapat memulainya “sekarang” juga, tak tunggu nanti. Ingat: Allah memberi Anda kebebasan untuk memilih. Jadi, ambillah keputusan yang tepat: untuk bersahabat dengan Sobat Sejati !
Hari Keduabelas
Tujuan Pertama : Anda direncanakan untuk menyenangkan Allah
Renungkanlah:
Satu hal yang kuinginkan dari Allah, yang sungguh-sungguh menjadi kerinduanku, ialah berbakti di dalam rumah-Nya, hidup di hadirat-Nya sepanjang umurku, dan bersukacita atas kesempurnaan dan kemuliaan-Nya yang tidak ada taranya.” (Mazmur 27: 4, FAYH)
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah menyatakan KasihKu kepadamu dengan NYATA.” (Lih. Yohanes 15:15)
Allah benar-benar senang dengan orang-orang yang bersungguh-sungguh denganNya !
Apakah yang dapat Saya lakukan, mulai hari ini, untuk dapat bersahabat lebih akrab denganNya ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)