Halaman

Selasa, 15 Februari 2011

TPDL Hari 15

Dibentuk untuk Keluarga Allah

Lihatlah, betapa besarnya
kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita,
sehingga kita disebut anak-anak Allah. ( 1 Yohanes 3: 1 )

Anda dibentuk untuk menjadi anggota dari Keluarga Allah.


Allah mengetahui kita butuh “suatu keluarga”, sehingga Dia sendiri menciptakan Anda untuk menjadi bagian dari KeluargaNya. RencanaNya yang tak pernah berubah sejak semula ialah mengangkat kita menjadi keluargaNya sendiri, dengan membawa kita kepada DiriNya melalui Yesus Kristus. Ini adalah apa yang hendak dilakukanNya dan sungguh menyenangkan hatiNya.” (Efesus 1: 5a, NLT)
Tuhan sungguh mengasihi Anda. Hanya ada satu kitab suci yang mencatat bagwa TUHAN yang Maha Besar itu memperkenalkan DiriNya sebagai “Bapa” atas umatNya, yakni Alkitab. Tuhan menginginkan Anda menjadi anggota keluargaNya. Keluarga Allah adalah Tuhan dengan umatNya dalam kasih yang akrab dan mendalam. Roma 8: 15 berbunyi,
“ Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’ ” [Dahulu kita diperbudak oleh dosa, kini kita dimerdekakan dalam Kristus untuk menjadi anak-anak Tuhan.]
Tuhan tidak membutuhkan keluarga, namun Ia berkehendak untuk membangun suatu “keluarga”. Ia tidak kesepian, namun hendak menyatakan keluhuran Kasih SejatiNya kepada umatNya. Atas kehendak-Nya sendiri Ia memberikan kepada kita kehidupan yang baru dengan perantaraan kebenaran Firman-Nya, sehingga kita boleh dikatakan menjadi anak sulung di dalam keluarga-Nya.” (Yakobus 1: 18, FAYH) Frasa “anak sulung” berarti memiliki hak untuk memiliki apa yang dimiliki oleh “Bapa”, yakni kasih dan keluargaNya: beroleh tempat di dalam kasih dan kerajaanNya. Frasa “dengan perantaraan kebenaran FirmanNya” menunjuk kepada Yesus, Sang Firman Allah yang hidup (lih. Yohanes 1: 1-5) Hanya melalui Yesus-lah kita dapat mengenal Tuhan yang sejati. “Kata Yesus: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’” (Yohanes 14: 6)
Bila kita menempatkan iman kita dalam Yesus Kristus, Tuhan menjadi “Bapa” kita, kita menjadi “anak-anak-Nya”, saudara/i seiman lainnya menjadi saudara/i kita, gereja menjadi keluarga rohani kita di dunia, dan Kerajaan Sorga menjadi “Rumah Terakhir” kita.
Semua manusia diciptakan Allah, tetapi tidak semua orang merupakan anak-anak Allah. Satu-satunya cara untuk menjadi anggota Keluarga Allah adalah dengan dilahirkan kembali ke dalam KeluagaNya. Anda menjadi bagian dari keluarga manusia, melalui kelahiran Anda secara jasmaniah. Demikian pula, untuk menjadi bagian dari Keluarga Allah, Anda harus mengalami kelahiran secara rohaniah (kelahiran kembali). “karena kemurahan-Nya yang tidak terbatas telah memberi kita kesempatan untuk dilahirkan kembali, sehingga sekarang kita menjadi anggota keluarga Allah.” (1 Petrus 1:3, FAYH)
Undangan untuk menjadi anggota keluarga Allah bersifat universal, berdasarkan 2 Petrus 3: 9, “karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Tetapi ada 1 syarat, yakni: Iman di dalam Yesus Kristus. “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” (Galatia 3: 26)
Berbeda dengan keluarga jasmani, Keluarga rohani Anda akan berlanjut sampai kekekalan. Suatu hubungan dengan orang-orang percaya lainnya. Sebuah keluarga yang besar dan kekal. Ketika Yesus datang kembali untuk menyatakan Siapakah Sebenarnya DiriNya itu kepada kita semua, di saat itulah kita semua yang percaya kepadaNya dengan sungguh, akan disempurnakan, sehingga dengan demikian di dalam KerajaanNya [keluarga Allah] tidak akan lagi ada dukacita akibat kesalahan sesama seiman, karena di dalam KerajaanNya kita tidak akan jatuh lagi ke dalam dosa dan kelemahan. “Bilamana saya merenungkan kebijaksanaan dan kebesaran rencana-Nya, saya bersujud dan berdoa kepada Bapa, yang mengepalai keluarga Allah yang besar itu.” (Efesus 3: 14-15, FAYH)
Manfaat-Manfaat menjadi bagian keluarga Allah
Sebagai anak-anakNya kita juga merupakan “ahli waris” yang akan menerima “warisan” dari Bapa Sorgawi kita sendiri. Apakah “warisan” itu?
Kita akan bersama-sama dengan Allah selamanya
“…supaya setiap orang yang percaya kepadaNya [Yesus Kristus] tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3: 16)
“Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” (1 tesalonika 4:17)
Kita akan disempurnakan menjadi serupa dengan Yesus Kristus
“dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya [Penciptanya]” (Kolose 3: 10) Selama kita ada di dunia, Tuhan akan terus memproses kita untuk semakin menyerupai DiriNya. Karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sama halnya jika kita memang anak-anakNya, maka kita akan serupa dengan KarakterNya yang mulia.
“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa ketika Kristus menyatakan Diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” (1 Yohanes 3: 2) Frasa “menjadi sama seperti Dia”, berarti bahwa saat Yesus Kristus datang kembali ke dunia, kita disempurnakan oleh Tuhan sendiri, kita menjadi serupa denganNya dalam kemuliaan.
Kita akan memperoleh kemuliaan sebagai Anugerah dari Allah
“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yaitu kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia [Tuhan Yesus].” (Roma 8: 17)
“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan.” (2 Korintus 3: 18) Kita akan memperoleh lagi “kemuliaan” kita, karena Anugerah Tuhan semata. Ini tidak berarti kita menjadi Tuhan! Tidak, sama sekali tidak! Kita memperoleh anugerah, yakni status “mulia” dan “sempurna”, karena hanya yang mulia dan sempurna dapat memasuki Sorga yang sempurna. Tetapi, Tuhan memiliki hakikat diri, yakni “Maha Mulia” dan “Maha Sempurna”. Sehingga, ini sama sekali tidak membuat kita “setara” atau “sederajat” dengan DiriNya. Kita kembali menjadi “serupa” dan “segambar” dengan Allah. Kita tidak dapat menjadi Allah ! Kita hanya diberikan rupa yang baru dalam kemuliaan, bukan dalam ke-maha-mulia-an ! Kita hanya “mencerminkan” kemuliaan Tuhan. Kita hanya “mulia”, bukan Maha Mulia.
Sebab karena dosa, Gambar Allah dalam diri kita telah rusak. Dengan demikian, kitapun kehilangan kemuliaan kita. Namun, melalui karya dan kemurahan Tuhan sendiri, kita dikembalikan kepada ‘kemuliaan semula’. Kita menjadi ciptaan baru yang memperoleh lagi kemuliaan dan kesempurnaan dari Tuhan Allah sendiri, semata-mata karena AnugerahNya saja. Dan semua ini akan terjadi pada saat Yesus Kristus datang kembali ke dunia untuk menjemput umatNya.
Kita akan dimerdekakan dari segala sakit penyakit, maut, dan dukacita
Wahyu 21: 4 berbunyi, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Kita akan memperoleh “hadiah” dari Tuhan dan diperkenankan memasuki “pelayanan” yang lebih besar.
“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25: 21)
1 Petrus 1:4 (New Living Translation) berbunyi, “Allah telah menyimpan warisan yang tak ternilai untuk anak-anakNya. Warisan tersebut disimpan di Sorga bagi kamu, murni dan tidak tercemar, tidak mungkin berubah dan membusuk.” Betapa indahnya, betapa luar biasanya, betapa baiknya Tuhan yang menganugerahkan kepada kita segala “warisan” yang tak terukur nilainya ini. Sungguh-sungguh luar biasa. Maka berikanlah dan lakukanlah yang terbaik kepada Tuhan, karena Ia telah menyediakan yang terbaik kepada kita; semata-mata karena AnugerahNya saja.
Baptisan: menjadi anggota dari keluarga Allah
Keluarga yang sehat memiliki anggota-anggota yang tidak malu untuk mengakui bahwa mereka adalah bagian dari keluarga tersebut. Demikian pula, jika Anda tidak malu menjadi bagian dari keluargaNya, Anda harus membuktikannya melalui “baptisan”. Baptisan bermakna masuknya kita ke dalam keluarga Allah. Baptisan berarti mengumumkan secara terbuka kepada dunia, “Saya tidak malu menjadi anakNya, bagian dari keluarga Allah.”
Baptisan merupakan “deklarasi” dan “kredo”, yakni pernyataan dan pengakuan iman Anda di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Baptisan adalah ekspresi iman Anda di dalam Yesus Kristus. Baptisan sendiri diperintahkan oleh Yesus Kristus sebagai Tujuan Kedua Allah bagi hidup Anda: memperoleh tempat di dalam keluarga Allah melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak [Yesus = Allah Anak] dan Roh Kudus,” (Matius 28: 19)
Ketika seseorang dibaptis, ia akan turun ke bawah permukaan air, termasuk seluruh badannya. Ini melambangkan penguburan Kristus Yesus. Ini juga melambangkan bahwa kita telah “mati”, yakni meninggalkan gaya hidup lama Anda dalam dosa. Menanggalkan semua hawa nafsu yang memberontak kepada Allah. Inilah artinya bahwa Anda dibasuh dan diturunkan dalam air sejenak, untuk melepaskan semua “manusia lama” Anda. Kemudian, Anda naik kembali dari bawah permukaan air. Ini melambangkan kebangkitan Kristus Yesus. Ini juga melambangkan bahwa Anda telah “hidup kembali”. Anda telah “bangkit”. Anda telah memperoleh gaya hidup baru di dalam Yesus Kristus. Anda memperoleh “manusia baru” Anda. Artinya Anda meninggalkan yang lama, yakni dosa dan menuju kepada yang baru, yakni Sang Kebenaran. Anda menjadi “ciptaan baru”. Anda memasuki suatu hidup yang baru: hidup untuk mengenal Tuhan Allah. Ya, hidup menjadi bagian dari Keluarga Allah. Sungguh indah! Suatu pernyataan iman yang penuh makna. Satu lagi yang jangan terlupakan: “Di dalam Nama Allah Bapa, Firman Allah (Tuhan Yesus), dan Roh Allah (Roh Kudus).” Sebuah baptisan bermakna, jika dan hanya jika, terjadi di dalam rahmat pengasihan Tuhan sendiri. Sebab kita meninggalkan semua gaya hidup kita yang berdosa karena pengorbanan Yesus Kristus, karena Anugerah Allah Bapa, dan diproses di dalam pekerjaan Allah Roh Kudus yang senantiasa membaharui kita dan membimbing kita untuk menaatiNya.
Baptisan tidak menjadikan Anda sebagai anggota keluarga Allah; hanya “iman” di dalam Yesus Kristus yang menjadikan Anda sebagai anggota keluargaNya. Baptisan menunjukkan Anda bagian dari keluarga Allah, tentunya dalam iman yang sungguh kepadaNya. Baptisan semacam “pengingat” bahwa Anda milik Allah, bukan lagi milik egoisme Anda lagi, bukan lagi milik “dosa”. Baptisan merupakan “tindakan awal”. Anda tidak perlu menunggu hingga dewasa secara rohani, baru mau dibaptis! Anda butuh sebuah proses untuk mendewasakan diri Anda secara rohani, dan awal dari proses ini adalah “Baptisan”. Pada saat Pentakosta, 3000 orang dibaptis pada hari yang sama ketika mereka menerima Kristus. Bahkan Paulus dan Silas membaptis penjaga penjara dan keluarganya pada tengah malam. Anda tidak perlu menunda-nunda. Satu-satunya syarat ialah bahwa Anda sungguh-sungguh percaya. “Orang-orang yang menerima perkataannya [pemberitaan Injil Yesus Kristus oleh Rasul Petrus] itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” (Kisah Para Rasul 2:41)
Hak istimewa yang luar biasa
Ibrani 2: 11 berbunyi, “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,” Matius 12: 49-50 berbunyi, “Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."
Anda adalah bagian dari keluarga Allah, dan karena Yesus Kristus menjadikan Anda kudus melalui pengorbananNya di kayu salib, Ia sangat bangga akan Anda. Ia memanggil Anda sebagai saudara-saudariNya sendiri bahkan “ibu”, dalam pengertian kiasan (konotasi). Ini menunjukkan, siapa yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dia-lah sesungguhnya yang merupakan anggota keluarga Allah.
Menjadi bagian dari keluarga Allah adalah kehormatan yang amat istimewa dan hak khusus yang amat khusus yang dapat Anda terima dari Allah! Kapanpun Anda merasa tak berarti, tak dikasihi, atau tak aman; ingatlah milik Siapakah Anda dan ingatlah Anda punya Bapa Sorgawi yang selalu mengasihi dan memperdulikan Anda!

Hari Kelima belas
Tujuan Kedua: Anda dibentuk untuk keluarga Allah
Renungkanlah     :
Saya dibentuk untuk menjadi bagian dari keluarga Allah.
RencanaNya yang tak pernah berubah sejak semula ialah mengangkat kita menjadi keluargaNya sendiri, dengan membawa kita kepada DiriNya melalui Yesus Kristus. Ini adalah apa yang hendak dilakukanNya dan sungguh menyenangkan hatiNya.” (Efesus 1: 5a, NLT)
Bagaimana dengan saya? Apakah saya mau menyerahkan diri saya ke dalam tanganNya?
Dengan beriman kepadaNya, berarti saya tidak malu mengakui “status baru” saya, yakni anggota keluarga Allah: saya termasuk anak-anak Allah.
Apakah saya akan mengambil keputusan yang tepat?
Apakah saya akan memanfaat “kesempatan tak ternilai” [=menjadi bagian dari keluargaNya] ini dengan sebaik-baiknya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)