Halaman

Rabu, 16 Februari 2011

TPDL Hari 16

HAL yang PALING PENTING

“Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa
kita harus hidup menurut perintah-Nya.
Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.”
2 Yohanes 1: 6

Seluruh kehidupan yang sejati berpusat pada Kasih.


Karena Allah adalah kasih, maka pelajaran yang terpenting yang Dia ingin Anda pelajari selama di dunia adalah belajar mengasihi. Kasih senidiri merupakan dasar dari semua perintah yang Dia berikan kepada kita. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri !" (Galatia 5: 14)
Belajar mengasihi sesama bukanlah perkara yang gampang. Karena ini bertentangan dengan hakikat keberdosaan kita. Kita semua cenderung lebih mementingkan diri sendiri daripada yang lain (egosentris). Karena itu kita diberi waktu “seumur hidup” untuk belajar mengasihi sesama. Pertanyaannya: siapa yang harus kita kasihi? Tentu Allah menghendaki semua orang, bahkan termasuk musuh Anda sekalipun. “Tetapi Aku [Yesus Kristus] berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga.” (Matius 5: 44-45)
Tetapi, bagaimana Anda dapat mengasihi orang lain yang belum mengenal Tuhan Allah, jika Anda sendiri belum dapat mengasihi saudara/i seiman dalam Yesus? Anda harus memulainya dari saudara-saudari seiman! Ketika kita telah belajar untuk dapat mengasihi sesama pengikut Kristus lainnya, barulah kita mulai memperluas ruang lingkup yang hendak kita jelajahi, yakni mengasihi sesama manusia, entah ia percaya kepada Yesus atau tidak. Rasul Petrus berkata, “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu.” (1 Petrus 2: 17) Rasul Paulus juga berkata, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6: 10) Perhatikan: kata “terutamabukan berarti hanya untuk orang Kristen saja, tetapi berarti “mulailah dahulu dari sesama seiman, kemudian juga orang-orang lain”. Anda di tahap “belajar”, bukan di tahap “expert” [ahli, mahir]. Ketika Anda telah mapan untuk mengasihi saudara-saudara seiman, jangan berhenti di situ saja. Tetapi, kasihilah setiap orang: Kristen maupun non-Kristen, kawan maupun lawan, sebaya maupun tidak. Dengan demikian, Anda membuktikan bahwa Anda termasuk anak-anak Allah, karena Anda mengasihi.
Kasih kepada sesama orang percaya kepada Yesus Kristus merupakan “ciri khas”, “identitas”, “bukti”, “penanda”, “keistimewaan” yang seharusnya dimiliki umat Kristen. Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13: 35)
Tuhan hendak menekankan bahwa kita, sesama seiman, haruslah dikenali oleh dunia sebagai orang-orang yang saling mengasihi dan menyatakan kasih kepada dunia dengan luar biasa. Mengapa? Karena Allah kita adalah Kasih. Ia adalah Maha Kasih. Dan Ia sangat teramat luar biasa! Supaya kita dikenali melalui “kasih kita”, yang berdasarkan kasih Tuhan yang kokoh, bukan berdasarkan kasih manusia yang rapuh.
Kasih tidak dapat dipelajari dalam ke-ter-asing-an [terus menerus memisahkan diri dari komunitas]. Kasih baru dapat dipelajari untuk dilakukan, melalui persekutuan alias komunitas. Tuhan menghendaki Anda agar berada dalam persekutuan yang akrab dan berkelanjutan dengan sesama orang percaya sehingga Anda bisa mengembangkan ketermpilan mengasihi. Anda perlu belajar dan itu butuh proses! Dan persekutuan dengan sesama seiman adalah tempatnya! Melalui kebenaran FirmanNya kita mengerti mengapa kita harus dan perlu mengasihi? Karena kasihNya yang sempurna kita belajar mengasihi orang-orang yang tidak sempurna. Jangan berpikir bahwa gereja adalah tempat berkumpulnya orang-orang suci yang tidak punya kelemahan atau tak dapat berbuat kesalahan. Sebaliknya gereja adalah tempat bagi “orang-orang sakit”. Ya, orang-orang yang mau sembuh dari segala penyakit rohani: kesombongan, dendam, kebencian, egosentris, dll. Di sinilah, Anda akan belajar mengasihi orang-orang dengan latar belakang dan karakter yang berbeda. Inilah tempat pelatihan Anda untuk belajar mengasihi. Anda harus berada di sekitar orang-orang yang menjengkelkan untuk nantinya dapat mengasihi “orang-orang yang belum beriman kepada Yesus”, yang mungkin dapat jauh lebih menjengkelkan lagi atau juga tidak. Anda harus siap dengan segala kemungkinan, bukan? Di gereja, Anda belajar untuk saling mengasihi, bukan sekadar datang dan pergi pada hari Minggu saja.
# Kehidupan paling baik dijalani dengan Kasih
Kasih bukan bagian yang penting dari hidup Anda. Kasih adalah bagian yang terpenting dari hidup Anda. Kasih seharusnya menjadi prioritas utama dalam hidup Anda: Kasih kepada TUHAN dan kepada sesama. “Kejarlah kasih itu.” (1 Korintus 14: 1)
Mengapa “kasih” harus menjadi prioritas Anda?
Kehidupan tanpa kasih benar-benar tidak berharga
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan nyawaku, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya [gunanya] bagiku.” (1 Korintus 13: 1-3)
Perhatikanlah: kasih sangat teramat begitu penting. Empat dari Sepuluh Perintah Allah berkaitan dengan “hubungan” kita dengan Allah. Sedangkan enam lainnya berkaitan dengan “hubungan” kita dengan manusia. Seluruh perintah Allah adalah mengenai “hubungan”. Dan “hubungan” yang indah itu disebut “kasih”. Pada Perjanjian Baru, Yesus meringkas Sepuluh Perintah Allah dalam Hukum Kasih. “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22: 37-40)
“Hubungan” adalah hal terpenting dalam hidup Anda, sama sekali bukan prestasi atau harta materi Anda. Rutinitas alias kesibukan kini menjadi musuh besar bagi “hubungan”. Kita disibukkan oleh pekerjaan kita yang banyak, jadwal kita yang padat, tugas-tugas yang harus segera diselesaikan. Semua kesibukan ini perlu, namun bukan-lah Tujuan Hidup Anda yang sesungguhnya! Tujuan kedua Allah membuat Anda ada ialah untuk mengasihi sesama. Kehidupan tanpa cinta kasih [kasih sayang] adalah sekadar sandiwara yang dilakonkan oleh para robot-robot tanpa hati [perasaan]. Sekali lagi, hidup tanpa kasih adalah nihil [kosong] dan tidak berarti.
Kasih akan berlangsung selamanya
Alkitab berkata dalam 1 Korintus 13: 13, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Lagi, di dalam 1 Korintus 13: 8, “Kasih tidak berkesudahan.”
Pengaruh yang paling bertahan lama yang dapat Anda tinggalkan di dunia ini adalah Kasih; bagaimana Anda memperlakukan sesama dengan baik. Bunda Theresa berkata. “Bukan apa yang Anda kerjakan, melainkan berapa besar kasih (cinta) yang Anda curahkan pada pekerjaan, itulah yang penting.”
Di saat-saat terakhir seseorang menjelang kematiannya, saya tidak pernah mendengar orang itu berkata, “Bawa kemari ijazah-ijazahku, aku ingin melihatnya sekali lagi. Tunjukkan kepadaku semua medali2, penghargaan2, dan piala2 yang pernah kuperoleh. Bawa ke sini buku tabunganku, aku ingin melihat berapa banyak hartaku yang tersisa.” Ketika kehidupan di dunia ini akan segera berakhir, manusia tidak minta dikelilingi oleh harta, melainkan mau dikelilingi orang2 yang dikasihinya. Jangan menunggu hingga menndekat akal baru menyadari betapa pentingnya “hubungan” [kasih]! Jadilah orang yang bijak, yang menghargai suatu hubungan dengan “kasih”.
Kita akan di-evaluasi berdasarkan kasih kita
Pada Hari Penghakiman, Allah tidak akan bertanya tentang pencapaian karier dan prestasi Anda. Ia akan meninjau kualitas hubungan kita, bagaimana kita memperlakukan orang lain. Matius 25: 40-46, berbunyi: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah tersedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."
Karena itu, saya merekomendasikan setiap pagi hari Anda bangun, berlututlah dan berdoa demikian: “Tuhan, apapun yang akan saya lakukan hari ini, aku mau melakukannya untuk mengasihi Engkau dan mengasihi sesama. Karena inilah inti kehidupan: untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Saya tidak ingin menyia-nyiakan hari ini. Saya mengandalkan pertolonganMu, Tuhan Yesus.” Untuk apa Tuhan memberi Anda hari lain, jika Anda hanya akan menyia-nyiakannya saja? Karena itu, lakukanlah yang terbaik untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
# Pernyataan Kasih terbaik adalah waktu
Semakin banyak waktu yang Anda berikan untuk “sesuatu”, semakin menunjukkan betapa pentingnya dan bernilainya “sesuatu” itu bagi Anda. Jika Anda ingin melihat prioritas2 seseorang, lihat saja bagaimana mereka menggunakan waktu mereka. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Anda dapat membuat lebih banyak uang, tetapi Anda tidak dapat membuat lebih banyak waktu. Ketika Anda memberikan kepada seseorang waktu Anda, Anda sedang memberikan bagian hidup Anda yang tak akan pernah Anda dapatkan kembali. Tidak cukup hanya mengatakan hubungan itu penting. Kita harus membuktikannya dengan mengorbankan waktu kita untuk hubungan. Kata-kata saja tidak ada artinya. 1 Yohanes 3: 18, berbunyi, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan sekadar dengan perkataan atau dengan lidah saja, tetapi juga dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”
Suatu keluarga membutuhkan perhatian karena kasih. Suami berkata, “aku sudah menafkahi kalian semua dengan berkelimpahan. Apa lagi yang kalian mau? Aku sudah memberikan segalanya kepada kalian.” Sang istri akan menjawab, “kami membutuhkan dirimu, perhatianmu, dan kasih sayangmu.” Perhatian dan kasih sayang amat diperlukan untuk memiliki hubungan yang harmonis dan indah. Anda perlu hadir di saat-saat orang2 tertentu membutuhkan perhatian dan dukungan Anda. Hadiah yang paling indah bukanlah mawar atau cokelat, tetapi Perhatian yang penuh kasih sayang. Dengan demikian, nyatalah kasih Anda. Memberikan waktu Anda adalah suatu pengorbanan dan kasih itu rela berkorban. Yesus Kristus sendiri yang memberikan teladan ini. “Kasihilah orang lain dengan mengikuti teladan Kristus yang mengasihi saudara, dan yang telah memberikan diri-Nya kepada Allah sebagai suatu korban untuk menghapus dosa saudara.” (Efesus 5: 2, FAYH)
Anda bisa memberi tanpa kasih, tetapi Anda tidak bisa mengasihi tanpa memberi. Yohanes 3: 16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya.” Allah Bapa begitu mengasihi Anda hingga rela memberikan milikNya yang paling berharga demi kelamatan Anda, yakni Yesus Kristus. Kasih berarti rela memberi dan rela berkorban.
# Waktu Terbaik untuk Mengasihi adalah SEKARANG
Kita sering menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Alasan umumnya ialah itu tidak terlalu penting alias sepele. Akan tetapi, Alkitan menyatakan betapa pentingnya kasih itu, sehingga sama sekali tidak ada alasan untuk menunda-nunda mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang.” (Galatia 6: 10)            Janganlah menahan [menangguhkan / menunda] kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ‘Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu.” (Amsal 3: 27-28)
Mengapa “sekarang” adalah waktu terbaik untuk menyatakan kasih? Karena Anda tidak tahu berapa lama lagi Anda akan hidup dan masih mempunyai kesempatan. Keadaan bisa berubah dalam sekejap dan ajal bisa datang tanpa terduga-duga. Jika Anda ingin mengekspresikan kasih Anda, lakukanlah SEKARANG!
Mulailah berpikir tentang: manakah yang lebih saya kasihi, pekerjaan atau keluarga saya? Apa yang perlu saya buang dari jadwal harian saya? Bagaimana saya menyatakan kasih saya kepada orang2 yg saya cintai?
Kehidupan paling baik dijalani dengan kasih.
Kasih paling baik diekspresikan dengan waktu.
Waktu yang paling baik untuk mengasihi adalah “sekarang”.
Hari Keenam belas
Tujuan Kedua: Anda dibentuk untuk keluarga Allah
Renungkanlah     :
Kasih adalah hal terpenting dalam kehidupan.
Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri !" (Galatia 5: 14)
Secara jujur, Apakah “hubungan” dan “kasih” telah menjadi prioritas utama dalam hidup saya? Bagaimana saya membuktikan bahwa “kasih” dan “hubungan” itu amat penting bagi saya? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)