Pernah ga bertanya, kenapa setelah " the total depravity" ( kejatuhan atau kerusakan total), dunia masih indah, dan ada orang - orang non Kristen yang hidupnya bermoral dan lebih baik dari saya dan banyak orang Kristen lainnya?
Saya pernah. Sejak the fall, semua manusia dan ciptaan sudah dalam kondisi total depravity karena murka Allah terhadap dosa Adam. Tapi, kerusakan total bukan berarti kerusakan mutlak. Memang setelah the fall tidak ada satu manusiapun yang lolos dari pengaruhnya. Tapi, dalam hal ini, sejahat2nya manusia, mereka tidak setiap saat melakukan kejahatan, dan penjahat pun tidak menjadi sejahat-jahatnya yang mereka mampu.
Contoh: seorang penjahat berdarah dingin berhasil diringkus polisi, karena ada satu polisi yang menyamar menjadi nenek tua yang pura-pura terjatuh. Si penjahat walaupun sudah rusak total, tapi tidak sampai rusak mutlak, masih ada secercah hati nurani untuk menolong si nenek.
Kenapa demikian? Karena adanya Common grace (anugrah umum).
1. Manusia tidak menjadi sejahat2nya yang mereka mampu, karena mereka dibatasi oleh Allah. Dosa dibatasi. Ini aspek negatifnya.
2. Manusia, termasuk mereka yang tidak percaya Allah mampu berpartisipasi dalam kebudayaan secara positif, mampu berkontribusi baik secara cultural / science. Ini aspek positifnya.
Dari sini kita bisa melihat kenapa penjahat yang terjahat pun masih bisa / pernah melakukan hal baik. Tuhan yang menciptakan kita, bukan Tuhan yang lepas tangan. Menurut Calvin, "But faith ought to penetrate more deeply, namely, having found him Creator of all, forwith to conclude He is also everlasting governor and preserver - not only in that he drives the celestial frame...but also in that he sustains, nourishes, and cares for, everything he has made, even to the least sparrow."
Matius 5:45 "Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." Tuhan memberikan karunia umum-Nya secara universal, sehingga orang tidak percaya pun mendapatkan karunia dan berkat. Di dalam perjanjian lama misalnya, Salomo meminta Huram, raja Tirus yang orang kafir, untuk membangun bait suci. Ini karena Tuhan memberikan kemampuan yang tinggi kepada penduduk Tirus dalam menebang pohon dan mengerjakan emas lebih daripada orang Israel .
Pandangan orang Kristen akan selalu berlawanan dengan mereka yang melawan Kristus, karena antitesis yang diterapkan Tuhan dalam Kejadian 3:15 " Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." ( And I will put enmity between thee and the woman, and between thy seed and her seed; it shall bruise thy head, and thou shalt bruise his heel.) The seed of woman vs the seed of the serpent. Kristus melawan setan.
Tapi banyak orang Kristen yang karena kesalahpahaman / pengertian diatas, lalu mengambil 2 hal extreem :
1. Menarik diri menjadi asketis.
2. Meleburkan diri ke dalam budaya dunia tanpa identitas jelas.
Menarik diri menjadi asketis misalnya ada orang Kristen yang bersaksi, " Dulu saya sering nonton film di bioskop, setelah bertobat, saya tidak lagi nonton film apapun kecuali film Kristen." Model kerohanian yang dewasa bukan tentang "boleh atau tidak", tetapi harus sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam 1 Korintus 10:23 " Segala sesuatu boleh, tetapi tidak segala sesuatu membangun." ( All things are lawful for me, but all things are not expedient: all things are lawful for me, but all things edify not. ) Jadi apapun boleh, tetapi sebelum kita melakukan, hendaknya bertanya dulu dan berpikir, " Apakah sesuatu ini membangun saya maupun membangun orang lain?"
Pandangan orang Kristen akan selalu berlawanan dengan mereka yang melawan Kristus, karena antitesis yang diterapkan Tuhan dalam Kejadian 3:15 " Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." ( And I will put enmity between thee and the woman, and between thy seed and her seed; it shall bruise thy head, and thou shalt bruise his heel.) The seed of woman vs the seed of the serpent. Kristus melawan setan.
Tapi banyak orang Kristen yang karena kesalahpahaman / pengertian diatas, lalu mengambil 2 hal extreem :
1. Menarik diri menjadi asketis.
2. Meleburkan diri ke dalam budaya dunia tanpa identitas jelas.
Menarik diri menjadi asketis misalnya ada orang Kristen yang bersaksi, " Dulu saya sering nonton film di bioskop, setelah bertobat, saya tidak lagi nonton film apapun kecuali film Kristen." Model kerohanian yang dewasa bukan tentang "boleh atau tidak", tetapi harus sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam 1 Korintus 10:23 " Segala sesuatu boleh, tetapi tidak segala sesuatu membangun." ( All things are lawful for me, but all things are not expedient: all things are lawful for me, but all things edify not. ) Jadi apapun boleh, tetapi sebelum kita melakukan, hendaknya bertanya dulu dan berpikir, " Apakah sesuatu ini membangun saya maupun membangun orang lain?"
Di Korintus 10:31-32 juga dipertegas, lakukanlah segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan dan jangan menimbulkan syak/ batu sandungan bagi orang lain. ( contoh : ngomong kotor, nonton film porno, dan hal lain yang tidak membangun diri sendiri apalagi orang lain.)
Untuk langkah extrem kedua, yaitu "meleburkan diri ke dalam budaya dunia tanpa identitas jelas".
Contoh : Belakangan ini di Singapura sedang marak perdebatan mengenai seorang istri pendeta gereja besar disini, menjadi penyanyi sekuler dan berhasil menembus pasaran Amerika. Dalam video klipnya, istri pendeta ini menampilkan dirinya dalam pakaian seksi dan menari secara erotis. Argumen dari mereka yang membela, " Dia membawa harum nama Singapura, apa yang dia lakukan membuat kekristenan relevan dengan culture saat ini, selain itu dia juga aktif dalam amal."
Tapi, apakah yang kita cari adalah Approval dari dunia, atau approval dari Tuhan? Kalau approval dunia, berarti Stefanus seorang yang gagal total, karena setelah berkotbah dia dirajam batu sampai meninggal oleh pendengarnya. Tetapi Alkitab mencatat, Stefanus diberikan penampakan surgawi oleh Allah sebagai suatu penghormatan kepada martir gereja mula - mula ini. Di lain pihak, Pilatus mendapat seruan dan tepuk tangan riuhmassa setelah ia meng"entertain" permintaan orang banyak untuk menyerahkan Yesus.
Memang tidak mudah menjalankan panggilan Tuhan namun tetap mempertahankan sense of antithesis terhadap dunia secara tepat. Tapi bukan hal yang tidak mungkin. Ikan yang berenang di lautan asin tidak otomatis jadi ikan asinkan :D Karunia Tuhan memampukan seseorang yang mengasihi-Nya untuk menjalankan mission impossible ini.
Paulus memberikan cluenya kepada kita dalam Roma 12:1-2
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Hanya orang Kristen yang dapat mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada Tuhan, karena kasih karunia Yesus yang sudah terlebih dahulu mempersembahkan diri-Nya. Kita diberi tugas untuk menunaikan mandat Injil dibantu oleh penyertaan Yesus sampai akhir jaman ( Matius 28:20). Semua modal ( talenta) yang kita dapatkan, suatu saat akan kita pertanggungjawabkan kembali kepada Tuhan beserta laba yang kita dapatkan. Seperti kata Spiderman, " Great power comes with great responsibility."
Sadarkah Anda betapa banyak anugerah dan kebaikan yang Tuhan limpahkan dalam diri kita?
Endnotes :
John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill, terj. Ford Lewis Battles (Philadelphia :WJK). III.9.1
Source : warta Pemuda Gereja Reformed InjiliIndonesia
Untuk langkah extrem kedua, yaitu "meleburkan diri ke dalam budaya dunia tanpa identitas jelas".
Contoh : Belakangan ini di Singapura sedang marak perdebatan mengenai seorang istri pendeta gereja besar disini, menjadi penyanyi sekuler dan berhasil menembus pasaran Amerika. Dalam video klipnya, istri pendeta ini menampilkan dirinya dalam pakaian seksi dan menari secara erotis. Argumen dari mereka yang membela, " Dia membawa harum nama Singapura, apa yang dia lakukan membuat kekristenan relevan dengan culture saat ini, selain itu dia juga aktif dalam amal."
Tapi, apakah yang kita cari adalah Approval dari dunia, atau approval dari Tuhan? Kalau approval dunia, berarti Stefanus seorang yang gagal total, karena setelah berkotbah dia dirajam batu sampai meninggal oleh pendengarnya. Tetapi Alkitab mencatat, Stefanus diberikan penampakan surgawi oleh Allah sebagai suatu penghormatan kepada martir gereja mula - mula ini. Di lain pihak, Pilatus mendapat seruan dan tepuk tangan riuh
Memang tidak mudah menjalankan panggilan Tuhan namun tetap mempertahankan sense of antithesis terhadap dunia secara tepat. Tapi bukan hal yang tidak mungkin. Ikan yang berenang di lautan asin tidak otomatis jadi ikan asin
Paulus memberikan cluenya kepada kita dalam Roma 12:1-2
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Hanya orang Kristen yang dapat mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada Tuhan, karena kasih karunia Yesus yang sudah terlebih dahulu mempersembahkan diri-Nya. Kita diberi tugas untuk menunaikan mandat Injil dibantu oleh penyertaan Yesus sampai akhir jaman ( Matius 28:20). Semua modal ( talenta) yang kita dapatkan, suatu saat akan kita pertanggungjawabkan kembali kepada Tuhan beserta laba yang kita dapatkan. Seperti kata Spiderman, " Great power comes with great responsibility."
Sadarkah Anda betapa banyak anugerah dan kebaikan yang Tuhan limpahkan dalam diri kita?
Endnotes :
John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill, terj. Ford Lewis Battles (
Source : warta Pemuda Gereja Reformed Injili
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)