Kehidupan Adalah Suatu Penugasan Sementara
Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku,
supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
Mazmur 39: 5
Hanya untuk sementara aku tinggal di dunia,
janganlah menyembunyikan hukum-Mu daripadaku.
Mazmur 119: 19 (BIS)
Alkitab penuh dengan metafora yang mengajarkan tentang sifat kehidupan di Bumi. Yaitu bersifat singkat, sementar, dan fana. Yakobus 4: 14b, menggambarkan kehidupan seperti uap yang sebentar saja nampak: “Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”
“Sebab kita, anak-anak kemarin, tidak mengetahui apa-apa; karena hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi.” (Ayub 8: 9)
Berulang-ulang Alkitab menggambarkan kehidupan di dunia ini sebagai sebuah kehidupan sementara di negeri asing. Bumi bukan rumah tetap Anda ataupun tujuan akhir Anda. Anda hanya menumpang sementara waktu di Bumi. Daud berkata, “Aku ini orang asing di dunia, janganlah sembunyikan perintah-perintah-Mu terhadap aku.” (Mazmur 119: 19) Sedangkan Petrus menjelaskan, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” (1 Petrus 1: 17) Kata “ketakutan” di sini berarti: takut untuk berbuat dosa, takut untuk mengkhianati kasih Allah yang sejati.
Di California, banyak orang pindah dari belahan lain dunia untuk bekerja di sana . Akan tetapi, mereka tetap mempertahankan “kewarga-negaraan” semula mereka. Mereka diwajibkan untuk membawa “green card”, sebuah kartu yang menunjukkan izin mereka bekerja di sana , sekalipun ia adalah warga negara asing yang bekerja di sana . Dengan kata lain, orang-orang demikian “bukan” warga negara Amerika Serikat, tetapi diizinkan bekerja di California (USA ). Sama halnya, orang-orang Kristen seharusnya membawa “green card” rohani untuk mengingatkan kita bahwa kewarga-negaraan kita adalah di Sorga. Rasul Paulus berkata, “Hari depan mereka ialah kebinasaan kekal, sebab mereka bertuhankan hawa nafsu, dan mereka membanggakan hal-hal yang sebenarnya meng-aib-kan mereka. Yang mereka pikirkan hanyalah kehidupan di dunia ini. Padahal tanah air kita ialah surga, yaitu bersama dengan Juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus; dan kita menantikan Dia kembali dari sana .” (Filipi 3: 19-20, FAYH) Orang-orang percaya sejati menyadari bahwa hidup kekal memiliki nilai jauh lebih besar dari tahun-tahun singkat kita di planet ini.
Identitas Anda ada dalam kekekalan dan tanah air Anda adalah Sorga. Jika Anda paham akan kebenaran ini, maka Anda pasti berhenti dari kecemasan untuk “memiliki semuanya” di Bumi ini. Allah berbicara sangat jelas mengenai bahayanya jika kita hidup sekadar demi waktu sekarang saja dan jika kita mengutamakan hal-hal yang sementara ini dalam hidup Anda. “Kamu tidak setia kepada Allah. Jika kamu hanya mau mengikuti kehendakmu sendiri, bermain-main dengan dunia setiap ada kesempatan, maka kamu akhirnya menjadi musuh Allah dan orang yang melawan kehendakNya” (Bnd. Filipi 4: 4) Padahal senada dengan Roma 8: 13 diketahui bahwa, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging (hawa nafsu dosa), kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh Kudus, kamu mematikan perbuatan-perbuatan dosamu, kamu akan hidup.”
Bayangkan jika Anda diminta negara Anda untuk menjadi duta besar di sebuah negara musuh. Anda mungkin harus belajar bahasa yang baru dan beradaptasi dengan kebiasaan dan budaya setempat, agar bisa berlaku sopan dan menyelesaikan misi Anda. Sebagai seorang duta besar, Anda tidak dapat menutup diri dari masyarkat tersebut. Untuk menyelesaikan misi Anda, Amda harus memiliki kontak dan hubungan guna mempelajari masyarakat itu.
Tetapi jika Anda begitu nyaman dengan negara asing ini, sehingga Anda jatuh cinta padanya, dan menyukainya lebih daripada tanah air Anda sendiri. Kesetiaan dan komitmen Anda berubah. Peran Anda sebagai seorang duta besar akan berubah menjadi suatu “pengkhianatan”. Bukannya berguna bagi negara asal, malahan Anda akan mulai bertindak sebagai bagian dari musuh dan ini adalah suatu Pengkhianatan!
Alkitab berkata dalam 2 Korintus 5: 20 bahwa, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, … dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Yang menyedihkan ialah banyak orang Kristen telah mengkhianati Raja mereka dan kerajaanNya. Mereka dengan bodohnya meyimpulkan bahwakarena mereka hidup di Bumi, maka Bumilah rumah mereka, padahal tidak demikian kenyataannya. “Saudara-daudaraku, dunia ini bukan rumahmu, karena itu jangan membuat dirimu betah di dalamnya. Jangan menurutkan keinginanmu sendiri dengan mengorbankan nyawamu.” (Bnd. 1 Petrus 2: 11) Jangan terlalu terikat dengan apa yang ada di sekeliling kita, karena itu semua hanya sementara. Carilah suatu yang kekal, bukan yang sekejap saja dapat lenyap. “pendeknya, orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.” (1 Korintus 7: 31)
Untuk menjaga agar kita tidak menjadi terlalu terikat pada dunia yang fana ini, Allah mengizinkan kita merasakan cukup banyak kesedihan dan ketidak-puasan dalam hidup. Kita tidak akan pernah benar-benar bahagia di dunia yang fana ini, karena seharusnya memang tidak! Bumi bukanlah rumah kita yang sebenarnya, kita diciptakan untuk “sesuatu” yang Jauh Lebih Baik.
Seekor ikan tidak akan pernah bahagia hidup di daratan, karena ikan dijadikan untuk air. Seekor rajawali tidak akan pernah puas, jika tidak diperbolehkan terbang. Anda tidak akan pernah benar-benar puas seutuhnya di Bumi, karena Anda dijadikan untuk “sesuatu” yang lebih dari itu. Anda akan memiliki saat-saat bahagia di Bumi, tetapi tidak sebanding dengan apa yang telah Allah sediakan bagi Anda dalam KerajaanNya.
Menyadari bahwa hidup di dunia ini adalah penugasan sementara, seharusnya mengubah pola pikir, nilai-nilai, dan prinsip hidup Anda secara “nyata”. Nilai-nilai kekal yang seharusnya menjadi penentu dalam pengambilan keputusan, sama sekali bukan nilai-nilai sementara. “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Kor 4: 18)
Berpikir bahwa tujuan Allah bagi hidup Anda ialah kekayaan materi atau keberhasilan populer sebagaimana yang didefinisikan oleh “dunia” adalah salah besar. Pahamilah kekayaan materi hanya-lah sementara, tidak abadi. Itu sama sekali bukan tujuan Allah untuk hidup Anda. Ia menyediakan “sesuatu” yang jauh lebih Berharga daripada sekadar harta materi yang fana! “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging (dosa).” (1 Petrus 2: 11)
Yohanes Pembaptis setia, tapi ia meninggal di tangan-tangan orang yang tidak mengenal Allah. Stefanus bertahan dalam imannya, tetapi ia meninggal dirajam batu oleh para panatua Yahudi. Tokoh-tokoh Alkitab ini kehilangan nyawanya dan meninggal sebagai martir. Namun akhir hidup di dunia ini, bukanlah akhir dari segalanya !
Bagi Allah, pahlawan-pahlawan iman bukan-lah orang-orang yang makmur atau berhasil secara materi, melainkan orang-orang yang menjalani hidup sebagai penugasan sementara dan melayani dengan setia. “Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota (negeri sorgawi) bagi mereka.” (Ibrani 11: 13, 16) Dibutuhkan iman untuk menjalani hidup di dunia sebagai perantau. Masa hidup Anda di Bumi bukanlah kisah lengkap hidup Anda. Anda baru bisa melihat kelanjutan dari kisah kehidupan Anda dalam kekekalan.
Seorang misionaris pulang ke Amerika sekapal dengan Presiden Amerika Serikat. Kerumunan orang yang bersorak-sorai, band militer, bendera, media, dan karpet merah menyambut kepulangan Sang Presiden, tetapi misionaris pergi dengan diam-diam dari kapal “tanpa diperhatikan” sedikitpun. Dengan perasaan kasihan pada diri sendiri dan kesal, dia mulai mengeluh kepada Allah. Lalu Allah dengan lembut mengingatkannya, “Tetapi anakKu, engkau belum pulang.”
Segera setelah Anda di Sorga, Anda akan lekas berseru, “Mengapa aku begitu mementingkan hal-hal yang sifatnya begitu sementara? Mengapa aku begitu banyak menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan perhatian pada apa yang tidak bertahan untuk selamanya?”
Ketika hidup nampak menjadi sulit, ketika Anda diliputi oleh keraguan, atau ketika Anda bertanya-tanaya apakah hidup bagi Kristus layak diperjuangkan? Ingatlah bahwa Anda belum pulang. Saat meninggal, Anda bukan meninggalkan rumah, Anda justru pulang ke rumah yang sebenarnya !
Hari Keenam
Berpikir Tentang Tujuan Saya
Renungkanlah :
Dunia yang fana ini bukan-lah rumah saya yang sesungguhnya.
“Dunia ini bukanlah rumah terakhir kita, kita diciptakan untuk SESUATU yang ‘jauh lebih baik’.”
Mengetahui bahwa, hidup di dunia ini adalah penugasan sementara, bagaimana seharusnya sekarang saya hidup ? Bagaimana prinsip dan nilai-nilai yang seharusnya saya pegang ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)