Halaman

Sabtu, 05 Februari 2011

TPDL Hari 5

Memandang Kehidupan dari Sudut Pandang Allah

Apakah arti hidupmu? (Yakobus 4: 14b)

Kita seringkali tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya,
Kita melihat hal-hal itu sebagaimana keadaan kita. (Anais Nin)

Cara Anda memandang kehidupan Anda akan membentuk kehidupan Anda.

Bagaimana Anda mendefinisikan kehidupan, menentukan bagaimana masa depan Anda. Cara berpikir alias sudut pandang Anda akan memengaruhi bagaimana Anda menggunakan waktu, kemampuan, uang, dan menilai hubungan Anda. Salah satu cara terbaik untuk memahami seseorang adalah dengan bertanya kepada mereka, “Bagaimana Anda memandang kehidupan Anda ?” Anda akan mendapati begitu banyak jawaban yang berbeda. Ada yang memandangnya sebagai sebuah perjalanan, sebuah simfoni, sebuah roda, atau sebuah permainan kartu – dimana Anda harus memainkan kartu yang dibagikan kepada Anda. Atau mungkin Anda juga punya jawaban lain.
Kini giliran Anda. Bagaimana Anda menggambarkan kehidupan, gambaran apa yang terbesit di benak Anda? Gambaran itu-lah yang disebut sebagai “metafora kehidupan” Anda. Itulah pandangan tentang kehidupan yang Anda pegang sadar atau tidak sadar, dalam pikiran Anda. Itulah anggapan Anda tentang bagaimana kehidupan berjalan dan apa yang Anda harapkan dari kehidupan itu.
Metafora kehidupan begitu memengaruhi kehidupan Anda lebih dari Apa yang Anda sadari. Ini amat menentukan harapan, nilai, impian, target, dan prioritas Anda. Contohnya, jika Anda memandang hidup seperti sebuah pesta, maka nilai utama dalam hidup Anda ialah “bersenang-senang”. Jika Anda menggambarkan kehidupan seperti sebuah pertempuran atau game, maka “menang” adalah sangat penting bagi Anda.
Bagaimana metafora kehidupan Anda? Mungkin saja Anda memiliki metafora kehidupan yang keliru. Untuk memenuhi Tujuan Allah menciptakan Anda, Anda harus menantang pandangan umum dan menggantinya dengan  metafora Alkitab tentang kehidupan. Alkitab berkata dalam Roma 12: 2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Di sini kita akan membahas 3 metafora yang mengajarkan kita, pandangan ALLAH tentang kehidupan : Kehidupan adalah suatu ujian, titipan, dan penugasan sementara. Pada tulisan ini, kita akan mengulas 2 metafora pertama, dan metafora ketiga pada tulisan berikutnya.
Pertama: Kehidupan di dunia ini adalah Sebuah Ujian. Metafora ini terlihat jelas dalam berbagai kisah di Alkitab. Allah terus menguji karakter, iman, kasih, ketaatan, integritas, dan kesetiaan manusia. Istilah seperti pencobaan, pemurnian, dan ujian mucul lebih dari 200 kali dalam Alkitab. Adam dan Hawa gagal dalam ujian mereka di Taman Eden. Abraham diuji untuk mempersembahkan anaknya, Ishak. Allah menguji Yakub ketika dia harus bekerja beberapa tahun tambahan untuk memperistri Rahel. Daud gagal dalam ujian pengendalian diri. Tetapi Alkitab juga member teladan dari tokoh-tokoh yang lulus dalam ujian besar, seperti Yusuf, Daniel, Ester, dll.
Karakter-karakter Anda dikembangkan dan dibentuk melalui ujian-ujian dan seluruh kehidupan adalah ujian. Anda selalu diuji agar menjadi lebih baik. Allah mengamati tanggapan Anda pada orang-orang, masalah, penyakit, kekecewaan, dll. Tiada perkara yang terlalu besar untuk dapat diatasi olehNya dan tiada perkara yang terlalu kecil untuk dapat disepelekanNya begitu saja. Ia memerhatikan tiap detail dari respons Anda terhadap setiap ujian.
Berdasarkan Alkitab, kita mungkin akan diuji melalui perubahan-perubahan besar, masalah yang terasa berat, janji yang tertunda, jawaban doa yang begitu lama, kritikan yang tak patut diterima, atau bahkan tragedy yang nampaknya tak masuk akal. Salah satu ujian terpenting ialah bagaimana Anda bertindak ketika Anda tidak bisa merasakan hadirat Allah dalam hidup Anda. Terkadang Allah seolah-olah dengan sengaja mundur, sehingga kita tidak merasakan kehadiranNya. Seorang raja bernama Hizkia menghadapi ujian ini. Alkitab berkata dalam 2 Tawarikh 32:31, “Demikianlah juga ketika utusan-utusan raja-raja Babel datang kepadanya untuk menanyakan tentang tanda ajaib yang telah terjadi di negeri, ketika itu Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya.” Allah menguji Hizkia, Bukan karena Ia tidak mengetahui isi hati Hizkia. Tetapi untuk mengingatkan dan menunjukkan isi hati Hizkia sendiri kepada Hizkia sendiri, supaya Hizkia sadar dan menyadari apa yang salah dalam dirinya, yakni keangkuhan (ayat 25).
Sebelumnya, Hizkia telah menikmati suatu persekutuan yang dekat dengan Allah, tapi pada titik penting dalam hidupnya ALLAH meninggalkannya sendiri untuk menguji karakternya, untuk menunjukkan kelemahannya, dan untuk mengarahkan dia kepada karakter yang lebih baik lagi daripada yang sebelumnya.
Ketika Anda mengerti bahwa hidup adalah ujian, Anda akan menyadari bahwa tidak ada hal yang tidak penting dalam hidup Anda. Bahkan kejadian terkecil memiliki arti bagi perkembangan karakter Anda. Tiap hari merupakan hari yang penting, dan tiap detik adalah kesempatan untuk bertumbuh untuk memperbaiki karakter Anda untuk semakin mengasihi Allah dan sesama serta semakin bersandar kepadaNya.
Kabar baiknya adalah Allah ingin Anda lulus dalam ujian-ujian kehidupan itu, sehingga Dia tidak akan pernah membiarkan ujian-ujian yang Anda hadapi itu melampaui kasih karunia yang diberikan Dia kepada Anda untuk menghadapinya. “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)
Ini semua demi kebaikan Anda sendiri ! Dan ini pada akhirnya juga memberi pengaruh yang baik pada lingkungan sekitar Anda. “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” (Yakobus 1: 12)
Kedua: Kehidupan di dunia adalah Sebuah Titipan. Waktu, tenaga, talenta, kekayaan, dan kesempatan yang kita miliki di dunia ini adalah pemberian Allah yang Ia “titipkan” di dalam pengelolaan kita. Sesungguhnya Allah adalah pemilik segala sesuatu. “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” (Mazmur 24: 1)
Kita tidak pernah benar-benar memiliki apapun selama kita ada di Bumi. Allah hanya meminjamkan Bumi kepada kita. Anda hanya dapat menikmati dan mengelola Bumi untuk sesaat. Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menitipkan pemeliharaan atas ciptaanNya kepada manusia dan menganugerahkan manusia wewenang untuk mengelola milikNya ini. AYAT….
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1: 28) “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.  (Kejadian 2: 15)          
Pekerjaan pertama yang Allah berikan kepada manusia adalah mengelola dan memelihara “barang-barang” Allah di Bumi. Segala sesuatu yang kita nikmati harus diperlakukan sebagai suatu kepercayaan atau titipan yang Allah letakkan dalam tangan kita. Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi ?(1 Korintus 4: 7b)
Ada perkataan: “Jika kamu tidak memilikinya, kamu tidak akan memperdulikannya.” Tetapi para pengikut Kristus hidup dengan standar yang lebih baik. “Karena Allah memercayakan milikNya kepada saya, saya harus memeliharanya sebaik mungkin.” Senada dengan 1 Korintus 4: 2, “Orang-orang yang kepada mereka dipercayakan sesuatu yang berharga, harus menunjukkan bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.
Yesus Kristus seingkali menunjukkan kehidupan sebagai suatu “titipan” atau “kepercayaan”. Dalam kisah tentang talenta di Matius 25:14-29, seorang pengusaha memercayakan/menitipkan kekayaannya ke dalam pengelolaan hamba-hambanya sementara ia pergi. Ketika ia kembali, ia mengevaluasi tanggung jawab tiap hambanya dan member mereka upah atas itu. Sang tuan berkata, “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat 25: 21)
Pada akhir kehidupan di dunia ini, Anda akan dievaluasi dan diberi upah sesuai dengan seberapa baik Anda telah mengurus apa yang Allah percayakan kepada Anda. Ini berarti segala sesuatu yang Anda kerjakan, bahkan tugas-tugas harian yang sederhana. Jika Anda memperlakukan segala sesuatu sebagai suatu kepercayaan/titipan, maka Allah akan memberikan 3 hal. Pertama: Peneguhan dariNya; Dia akan berkata, “Baik sekali perbuatanmu!” Kedua: Promosi dariNya; Anda akan diberi tanggung jawab yang lebih besar di dalam kekekalan, “Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar.” Ketiga: Perayaan (Sukacita kekal) bersamaNya; “Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Kebanyakan orang gagal menyadari uang sebagai sebuah ujian sekaligus suatu titipan dari Allah. Allah melihat bagaimana kita memperlakukan uang  untuk menguji bagaimana kita layak dipercayai. Jadi, kalau mengenai kekayaan dunia ini kalian sudah tidak dapat dipercayai, siapa mau mempercayakan kepadamu kekayaan rohani ?” (Lukas 16: 11) Bagaimana saya mengelola uang saya (kekayaan dunia), menentukan seberapa banyak Allah bisa memercayakan berkat-berkat rohani (kekayaan sorgawi) kepada saya.
Apakah cara Anda mengelola uang, menghalangi Allah untuk melakukan lebih banyak hal dalam hidup Anda? Bisakah Anda dipercayai dengan kekayaan-kekayaan rohani?
Yesus berkata, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lukas 12:48) Kehidupan merupakan ujian dan titipan, semakin banyak Allah memberi kepada Anda, semakin banyak hal yang harus Anda pertanggung-jawabkan kepadaNya suatu hari kelak. Jadi, lakukanlah yang terbaik dengan apa yang Allah titipkan pada Anda.

Hari Kelima

Berpikir Tentang Tujuan Saya

Renungkanlah :

Kehidupan merupakan suatu ujian dan suatu titipan.

Apa yang telah ku alami akhir-akhir ini, yang sekarang kusadari sebagai sebuah ujian ? Apakah hal-hal terbesar yang Allah titipkan padaku dan bagaimana seharusnya saya memperlakukan “semua titipan” dari Allah ini ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Frenzz, Silakan memberikan komentar & saran :)